| Rabu, 30 Mei 2007 | NASIONAL |
Direktur BUMN Juga Bunuh DiriTOKYO - Skandal suap yang mendorong seorang menteri Jepang bunuh diri karena malu disusul dengan tindakan serupa dari pejabat lain di negeri itu. Seorang direktur Badan Usaha Milik Negara Jepang yang juga terkait skandal suap itu Selasa kemarin tewas nunuh diri. Jenazah Shinichi Yamazaki (76), pejabat itu, ditemukan di tempat parkir apartemennya. Polisi mengatakan, dia telah melompat hingga tewas dari lantai enam apartemennya di Kota Yokohama, sebelah barat Tokyo. BUMN tersebut sedang dalam penyelidikan karena kasus korupsi. Kejaksaan Jepang juga telah menggeledah rumah pejabat itu untuk menyelidiki kasus tersebut. Polisi menjelaskan, mantan direktur Badan Sumber Daya Hutan Jepang itu memulai aktivitas kemarin pagi dengan membaca koran bersama istrinya. ''Koran hari ini dipenuhi berita tentang bunuh diri Matsuoka,'' ujar sang istri, seperti dikutip Asahi Shimbun, kemarin. Beberapa saat kemudian, Yamazaki yang masih mengenakan piyama itu meninggalkan istrinya. Dia naik ke lantai enam dan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai tersebut. Polisi mengatakan, sepatu Yamazaki tertinggal di koridor lantai enam. Kasus bunuh diri tersebut ibarat pukulan demi pukulan bagi Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menjelang pemilihan majelis tinggi Juli mendatang. Bunuh diri Menteri Pertanian Toshikatsu Matsuoka Senin lalu masih menimbulkan tanda tanya. Skandal suap dan dana pensiun yang salah urus itu mendorong kabinet PM Abe menggelar sidang darurat, kemarin. Skandal tersebut mengancam peluang kubu berkuasa memenangi pemilihan majelis tinggi. Kasus bunuh diri Matsuoka pada Senin lalu bertepatan dengan anjloknya tingkat dukungan bagi Abe menjelang pemilihan itu, ujian besar pertamanya sejak dia berkuasa. ''Saya khawatir perkembangan akhir-akhir ini akan memberi dampak besar bagi pemilihan majelis tinggi,'' kata Menteri Lingkungan Masatoshi Wakabayashi kepada wartawan seusai sidang kabinet. Dia akan mengisi pos menteri pertanian yang ditinggalkan Matsuoka. ''Hal ini berat bagi Partai Demokrat Liberal.'' Matsuoka (62) rupanya tidak tahan dengan kecaman terkait sumbangan dana politik dari seorang pengusaha. Dia juga diragukan kelayakannya menduduki jabatan menteri pertanian saat ditunjuk September lalu. Pukulan Telak ''Tanggung jawab PM Abe tidak kecil,'' kata tajuk harian konservatif Sankei. ''Ini merupakan pukulan telak menjelang pemilihan majelis tinggi.'' Kekalahan koalisi berkuasa dalam pemilihan nanti memang tidak akan memaksa Abe mundur, karena yang memilih perdana menteri adalah majelis rendah. Namun kekalahan itu memungkinkan kubu oposisi menggagalkan perundangan penting, dan kekalahan besar hampir pasti menyulut seruan dari partainya agar dia mundur. Para analis menyatakan kemunduran bagi pemerintah pro-pasar pimpinan Abe dalam pemilihan bisa merusak pandangan investor asing terhadap bursa efek Jepang. Popularitas Abe anjlok menjelang kasus bunuh diri itu, terutama karena para pemilih marah atas kegagalan pemerintah membayar premi sekitar 50 juta pensiunan. Kemarahan atas korupsi merupakan faktor lain. Survei oleh harian Asahi yang dilakukan sebelum kasus bunuh diri dan dipublikasikan kemarin, menunjukkan tingkat dukungan bagi Abe tinggal 36 persen, turun delapan angka dari sepekan lalu. Angka itu merupakan yang terendah sejak dia berkuasa September lalu. Partai-partai oposisi mengancam mengajukan mosi tidak percaya terhadap menteri kesehatan jika kubu berkuasa tetap melaksanakan rencananya menggolkan RUU ke majelis rendah. RUU itu akan mengubah secara drastis Badan Asuransi Sosial yang diguncang skandal. Badan tersebut menangani pensiun publik. Abe (52), perdana menteri termuda Jepang sejak Perang Dunia II, diusung Partai Demokrat Liberal September lalu dengan harapan kemudaan dan penampilannya yang necis bisa menambah dukungan bagi partai itu menjelang pemilihan majelis tinggi.(rtr-niek-26) |