logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 30 Mei 2007 EKONOMI
Line

Pasar Modal Diminta Berperan ke Sektor Riil

JAKARTA-Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan para emiten untuk memenuhi janjinya menggunakan dana hasil initial public offering (IPO) atau penawaran saham perdana untuk ekspansi.

Dengan demikian, mereka ikut aktif mendorong pertumbuhan sektor riil dan menggerakkan perekonomian. ''Jadi harus sesuai prospektus. Bukan dapat gain (keuntungan) besar lalu beli rumah di Singapura,'' tegas Wapres ketika membuka Indonesian Investment Forum di Balai Sidang Jakarta (JCC), Selasa (29/5).

Ia menambahkan perusahaan-perusahaan yang mencatatkan sahamnya di pasar modal (emiten) harus konsekuen dengan isi prospektus yang pernah dijanjikan.

''Misalnya dalam prospektus disebutkan pendapatan dari pasar modal digunakan untuk ekspansi perusahaan. Jadi sesuai janji perencanaan di prospektus, hasil IPO harus dipakai untuk ekspansi,'' tegasnya.

Kalla berkeyakinan jika ekspansi dilakukan sektor riil dan ekonomi nasional bisa bergerak. Ia mencontohkan perusahaan perkebunan kelapa sawit harus menggunakan pendapatan dari pasar modal untuk memperluas perkebunan, sehingga meningkatkan suplai minyak sawit mentah dan membuat harga minyak goreng dalam negeri menjadi stabil.

Begitu juga perusahaan tekstil seharusnya menggunakan pendapatan dari penjualan saham untuk memperluas pabriknya dan meningkatkan jumlah tenaga kerja. Diakui Wapres, pasar modal memang tempat berspekulasi bagi investor. Tapi bagi perusahaan pasar modal adalah tempat menggalang dana untuk ekspansi.

Pertumbuhan Ekonomi

Menurutnya sia-sia saja jika pasar modal terus tumbuh dan indeksnya meningkat, tapi sektor riilnya justru tidak. ''Kalau harga di pasar modal terus menerus naik namun uangnya dimasukkan ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang bunganya dibayar pemerintah, hal itu sama sekali tidak menggerakkan ekonomi bangsa.

'' Ia berpendapat jika dana hasil IPO hanya disimpan di SBI, justru yang banyak terjadi adalah menggerakkan ekonomi luar negeri. Sedangkan di dalam negeri, harga di pasar modal naik dan begitu juga harga di pasar riil.

''Jika itu yang terjadi, hanya gejolak dan keresahan masyarakat yang ada. Habislah pemerintah, habislah rakyat kalau begitu,'' ujarnya.

Pada bagian lain sambutannya Wapres mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 7-8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) bukan sesuatu yang mustahil untuk mencapai. Sebab pertumbuhan sebesar itu sudah pernah tercapai sebelum krisis ekonomi.

''Kita menghitung jika ingin mencapai pertumbuhan ekonomi 7% dibutuhkan investasi Rp 1.000 triliun. Sekarang tinggal menghitung berapa kontribusi pembiayaan yang diberikan oleh bank dari pasar modal dan pinjaman luar negeri.''

Ia berharap masuknya dana asing ke pasar modal bisa dimanfaatkan sektor riil untuk membiayai ekspansi usaha. Caranya adalah dengan mengeluarkan obligasi atau penerbitan saham baru (right issue).(J10, A20-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA