logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 30 Mei 2007 BUDAYA
Line

Keperkasaan Perempuan Tua

SEBELUM unjuk kepiawaian menari, sepuluh perempuan tua itu mengetes tekanan darah mereka. Mereka pun harus minum jamu dulu. Itulah persiapan yang tak kalah menghibur dari tarian mereka, kemarin, di Pasar Gede, Surakarta. Selain itu, sebuah ambulans disiagakan di dekat area pertunjukan. Itulah yang terjadi ketika Republik Aeng-aeng Solo memperingati Hari Lanjut Usia, 29 Mei.

Sebuah pertunjukan tari yang menarik telah dipergelarkan. Bukan dengan melibatkan perempuan muda nan cantik, tetapi oleh sepuluh perempuan usia lanjut. "Mereka dari PKK Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Surakarta," ujar Mayor Haristanto, Presiden Republik Aeng-aeng.

Tentu bukan tanpa alasan para ibu menari di pasar. Sebab, tontonan itu adalah simbol yang mengungkapkan keperkasaan. Terutama, keperkasaan para perempuan yang telah terbatasi usia. "Namun ternyata mereka masih memiliki semangat luar biasa."

Semangat? Ya, benar. Tanpa semangat itu, jelas mereka tak bakal mampu menari. Apa pasal? Sebab, mereka tak memiliki latar belakang dunia tari. Ya, keseharian para ibu rumah tangga itu jauh dari urusan seni.

"Namun untuk menunjukkan keperkasaan, mereka mau juga. Bahkan tak segan berlatih lima kali selama kurang dari sebulan," ujarnya.

Begitulah ketika para perempuan tua itu unjuk gigi, atau lebih tepatnya unjuk tubuh. Dalam iringan lagu "Gung Lewang-lewung" dari pita kaset, para perempuan tua itu bersemangat menari. Tubuh renta terbalut busana adat Jawa, dilengkapi selendang, itu justru tampak begitu perkasa saat menari. (Wisnu Kisawa-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA