| Senin, 28 Mei 2007 | WACANA |
TASAWUF INTERAKTIFBisikan HatiTANYA:Prof Amin, setelah mengikuti pelatihan shalat khusyuk, saya mudah sekali untuk shilatun (nyambung) dan merasa dzauq (rasa intuitif), tetapi hati saya masih tertarik terhadap lawan jenis yang agamis (alim) seperti sebelum saya mengikuti pelatihan. Hanya takwa saja yang bisa membentengi diri saya. Kapan hati yang khusyuk bisa membendung bisikan hati tersebut. Dosakah saya seperti itu, sementara saya sudah bersuami? (Hamba Allah di bumi.) JAWAB :Hamba Allah, alhamdulillah Anda sudah bisa merasakan nikmatnya khusyuk, mencapai shilatun dan dzauqun dalam shalat. Semoga hal ini bisa Anda pertahankan sampai dengan bertemu Allah yang sesungguhnya di akhirat. Masalah ketertarikan Anda terhadap orang lain jenis, yang alim dalam ilmu agama, merupakan suatu hal yang niscaya, meskipun perlu diperangi sehingga benar-benar hilang dari diri Anda. Ketika menerima SMS dari Anda, saya berusaha membuka Tafsir Ibn Katsir. Ketika menjelaskan surah al-Baqarah/ 2 ayat 284 yang artinya berbunyi: ... jika kamu menampakkan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan denganmu tentang perbuatanmu itu". Menyikapi ayat ini para sahabat merasa berat, kemudian mereka datang kepada Rasulullah saw.: "Ya Rasulallah, kami mampu melaksanakan perintah Allah, seperti shalat, puasa, jihad dan sedekah, tetapi Allah telah menurunkan ayat tersebut, yang kami tidak mampu melaksanakannya. Kemudian beliau menjawab, "Apakah kamu ingin seperti Ahli kitab yang mengatakan: kami mendengarkan, kemudian kami durhaka?". Tidak lama kemudian Allah meralat (menaskh) firman-Nya itu dengan ayat: laa yukalifullahu nafsan illaa wusíahaa... (Allah tidak akan membebani seseorang kecuali atas kemampuannya). (QS. al-Baqarah/ 2: 286). Menurut Quraish Shihab, ada beberapa istilah yang terkait dengan bisikan hati itu, yakni, pertama bernama hajis (lintasan pikiran secara spontan dan berakhir seketika). Kedua, khathir (lintasan sejenak kemudian berhenti). Ketiga, haditsun nafs (bisikan hati yang selalu muncul dan bergolak). Keempat adalah ham (kehendak melakukan sesuatu sambil memikirkan cara pencapaiannya). Kelima ialah 'azam (tekad yang bulat). Menurut ahli tafsir, yang dimaksud dengan menyembunyikan apa yang ada dalam hati adalah 'azam ini, sedang selainnya ditolelir (ma'fu, diampuni) oleh Allah. Menurut Quraish Shihab, setiap tugas yang dibebankan kepada umat manusia tidak bisa terlepas dari tiga kemungkinan. Pertama, mampu dan mudah dilaksanakan. Kedua, sebaliknya tidak mampu dilaksanakan. Ketiga, mampu melaksanakannya tetapi dengan susah payah dan terasa sangat berat. Dalam posisi ketiga inilah bisikan hati itu berada, dan ketika sulit dilaksanakan suatu perintah, maka dimaafkan (ma'fu). Saya husnudh dhan, bahwa bisikan hati Anda, belum sampai pada tingkatan 'azam, namun hanya sekadar rasa simpati terahadap mereka, belum sampai pada rasa cinta disertai keinginan "melakukan" sesuatu yang tidak sesuai dengan kaidah agama dan kaidah sosial. (11) |