| Senin, 28 Mei 2007 | WACANA |
Aktualisasi Pendidikan Karakter
MARAKNYA kriminalitas korupsi, manipulasi, pornografi, pornoaksi serta lunturnya budaya unggah-ungguh merupakan indikasi pendidikan budi pekerti pada generasi muda kurang berhasil. Bila menyimak acara TV entah itu Sergap, Buser, atau sinetron yang mengumbar aurat, sebagai orangtua tentunya kita prihatin. Ternyata, di masyarakat kita betapa suburnya kemungkaran yang sangat membahayakan generasi mendatang. Menyimak kondisi yang demikian, kita tidak habis pikir dan bertanya, salahkah mereka berbuat demikian ? Mengambinghitamkan pelaku secara sepihak bukan tindakan yang bijaksana. Bila dikaji secara mendalam, mereka (pelaku) sebagai produk dari proses yang begitu panjang. Mereka korban dari tatanan yang selama ini berjalan di masyarakat. Ini berarti orangtua memiliki peran sentral dalam pendidikan dan pembinaan mental putra-putrinya. Sudahkah hal ini melekat dan selalu membahana dalam dada orangtua masyarakat kita ? Dalam praktiknya peran orangtua dalam pendidikan kadang-kadang dilupakan. Dengan dalih mencari ekonomi, sibuk kerja, anak sering dipenuhi kebutuhan fisik material saja, sementara aspek batin, mental spiritual begitu mudah diabaikan. Yang sering terjadi, orangtua mempercayakan pada pendidikan formal, entah itu sekolah/madrasah di mana anak-anak tersebut menuntut ilmu. Yang lebih ironis ada orangtua mempercayakan pembinaan mental putra-putrinya justru pada pembantunya. Sangat diyakini, sekolah formal telah mengajarkan tatakrama, etika dan budi pekerti mulia dengan baik. Namun, mayoritas pembelajarannya masih bersifat teoritis. Sekolah belum mampu mengamati, membina perilaku anak secara penuh, selain jam pelajaran yang begitu pendek, para guru tidak mampu membina individu tadi. Pendidikan Karakter Orangtua lah sebenarnya yang memiliki waktu longgar untuk membina perilaku putra-putrinya di keluarga dan paling bertanggungjawab atas perkembangan mentalitas anak-anaknya. Foerster ( dalam Doni Koesoema, http// mirifica.net) menjelaskan ada empat ciri dasar pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior yang mengukur setiap tindakan berdasar hierarki nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Kedua, koherensi yang memberi keberanian membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak terombang ambing pada situasi baru atau takut risiko. Ketiga, otonomi, seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. Keempat: keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik, sedang kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. Kematangan keempat karakter di atas memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. Karakter akan menentukan forma seseorang pribadi dalam segala tindakannya. Ratna Megawangi dalam http://www. Tabloid nova.com menjelaskan ada sembilan pilar model pendidikan holistik berbasis karakter. Nilai-nilai luhur itu meliputi cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya, kemandirian tanggungjawab dan kedisiplinan, kejujuran/amanah dan bijaksana, hormat dan santun, dermawan suka tolong - menolong dan gotong -royong, percaya diri kreatif dan pekerja keras, kepemimpinan dan keadilan, baik dan rendah hati serta toleransi, kedamaian dan kesatuan. Kesembilan nilai luhur ini sangat efektif bila diaplikasikan kedalam metode pengajaran . Selama ini sekolah (para guru ) baru menyajikan pembelajaran moral, entah itu pendidikan agama, kewarganegaraan, mayoritas masih menitikberatkan aspek pengetahuan saja. Aspek sikap sering dilupakan atau bahkan kurang dipedulikan. Ini berarti pendidikan agama jangan sekadar menyajikan hal-hal yang teoritis saja, melainkan dituntut bagaimana ajaran tersebut dapat dipraktikkan oleh siswa. Hal ini akan efektif, bila di lingkungan pendidikan, khususnya para guru mampu memberi contoh bagi anak didiknya. Sekurang-kurangnya fasilitas ibadah di lingkungan ibadah harus ada. Sekolah tersebut harus ada agenda pembinaan mental siswa-siswinya secara periodik dan terprogram. Bila selama ini ranah sikap belum tergarap dengan baik, ke depan perlu ditekankan betapa pentingnya aspek sikap dalam penentuan naik kelas atau bahkan dalam kelulusan seorang siswa. Saat ini aspek sikap kurang mendapat porsi yang memadai. Penentuan kelulusan mayoritas hanya berdasar hasil ujian nasional yang hanya menekankan kognitif (pengetahuan) saja. Konsep pendidikan yang diajarkan oleh Bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro banyak dilupakan atau bahkan ditinggalkan. Ajaran beliau yang menekankan pengembangan cipta, rasa dan karsa seorang anak begitu saja diabaikan. Bila mau jujur penentuan kelulusan yang mayoritas berdasar hasil ujian nasional (UN) baru mampu mengukur aspek kognitif ( pengetahuan ) saja. Terus bagaimana dan di mana aspek rasa dan karsa seorang anak ditempatkan dan diukur ? Memang, di sekolah sudah ada tempat penilaian bagi aspek sikap atau afektif, namun sayang aspek ini mayoritas baru berdasar pengamatan dan penilaian guru sepihak. Menyadari sekolah memiliki peran yang strategis, sudah saatnya pendidikan karakter (budi pekerti) ditumbuhkembangkan di segala lingkungan pendidikan. Salah kaprah anak didik kadang-kadang sudah kebablasen. Anak Indonesia, khususnya Jawa, gaya hidup dan budayanya mencontoh bule Eropa. Bahkan pakaian, makanan dan perilakunya sudah kebarat-baratan. Bila para orangtua, guru tidak peduli dan berusaha membendung kebobrokan mental melalui pendidikan budi pekerti, ujung akhirnya generasi yang akan datang akan kehilangan identitas, sekaligus budaya nenek moyang akan luntur bahkan hilang musna. Berbeda Yang menyedihkan kaum guru, sekolah yang sudah susah payah menanamkan tatakrama dan budi pekerti luhur, praktik di masyarakat telah jauh berbeda. Akibatnya anak-anak justru ikut arus kebanyakan dan menganggap sekolah sebagai lingkungan kuno dan tidak gaul. Kontroversi lingkungan pendidikan antara keluarga, sekolah dan masyarakat inilah yang kadang-kadang mementahkan pendidikan karakter selama ini. Dari keprihatinan ini, maka pentingnya jalinan dan kesinambungan pendidikan antara ketiga lingkungan tersebut. Tekad kebersamaan untuk menyelamatkan anak-anak bangsa dari kebobrokan mental harus dibangun secara sinergis. Selain mengadopsi dan menerapkan budaya daerah dan nasional yang mulia, pengamalan agama secara benar merupakan media ampuh untuk membendung dekadensi moral anak-anak negeri. Pendidikan jangan hanya sekadar teori, ajaran agama, moral harus dibuktikan secara nyata dalam praktik sehari-hari. Selama kita memiliki tekad kuat mewujudkan untuk itu, sangat diyakini kita akan berhasil mempertahankan identitas sebagai bangsa beradab dan berakhlak mulia. Kita sering menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, namun sayang kita belum banyak merenungkan dan mengamalkan inti isi yang tersirat didalamnya. (11) --- Kusmin, guru PKn SMA 1 Salatiga |