| Senin, 28 Mei 2007 | NASIONAL |
Prihatin, 13 Daerah Gelar Istighotsah
SIDOARJO- Bertepatan dengan setahun bencana lumpur panas PT Lapindo Brantas, ratusan warga Kabupaten Sidoarjo menggelar acara istighotsah di Masjid Agung setempat, Minggu (27/5), dipimpin Ketua Syuriah PCNU Sidoarjo, KH Rofiq Sirodj. Acara yang diikuti warga korban luberan lumpur panas tersebut berjalan lancar dan penuh khidmat. Acara serupa digelar di 13 daerah, setelah satu tahun berlalu, berbagai penanganan teknis belum membuahkan hasil menggembirakan. Ketua pelaksana, Lilik Wahid mengatakan selain di Masjid Agung Sidoarjo, acara ini juga digelar di makam 9 wali di Pulau Jawa. "Kami juga menggelar istighotsah di 13 kota lainnya di Indonesia," katanya. Ke-13 kota itu Lampung, Banyuwangi, Banjarmasin, Ma-kassar, Tasikmalaya, Lombok, Semarang, Ungaran, Yogyakarta, Cilacap, Bali, Banten, dan Sidoarjo. "Istighotsah sebagai usaha nonteknis untuk menghentikan semburan lumpur panas. Sebab, bencana ini telah berlangsung selama setahun dan belum ada tanda-tanda bakal berhenti," tambahnya. "Acara istighotsah merupakan yang pertama kali diadakan secara nasional. Kita harapkan luberan lumpur segera berhenti dan tak makin berlarut-larut," tambah Bupati Sidoarjo, Wien Hendrarso. Sementara itu, ribuan warga Kabupaten Semarang menghadiri istighotsah dan doa bersama untuk keselamatan korban lumpur Lapindo Sidoarjo, di Kompleks Makam Wali Hasna Munadi Nyatnyono, Ungaran, Minggu (27/5). Acara ''Istighotsah Nasional dan Doa Keselamatan Bangsa untuk Musibah Lumpur Sidoarjo'' dipimpin KH Yasin al Hafidz (Pemimpin Pondok Pesantren Srumbung, Bawen) dan dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan KH Maghfur (Pemimpin Pondok Pesantren Al Huda Susukan Ungaran). Rekomendasi Munas Ketua panitia pelaksana di kabupaten ini, K Zaenal Muttaqi (Gus Taqi) dari Pesantren Al Mansur Ungaran mengatakan, istighotsah nasional ini merupakan rekomendasi dari Musyawarah Nasional RMI di Jakarta pekan lalu, mengingat bencana ini belum bisa diatasi. Ketua Umum PP Muslimat Dra Hj Khofifah Indar Parawansa menyayangkan lambannya langkah Pemerintah Pusat dalam menangani lumpur lapindo. Semestinya, jika sejak awal Pemerintah menyatakan kejadian itu sebagai bencana nasional, tidak akan separah sekarang. Pemerintah bisa menggunakan dana penanganan bencana, namun tidak berani karena dipandang bukan bencana nasional. ''Padahal Pemprov Jatim sudah pasang dada untuk itu,'' kata dia di sela-sela acara Zikir Nasional Warga Demak dalam rangka hari lahir (harlah) Ke-61 Muslimat dan Harlah Ke-57 Fatayat NU, Minggu (27/5). Pada acara zikir nasional itu, warga NU Demak berdoa bersama agar bencana yang menimpa bangsa Indonesia dapat segera diatasi. Dia menilai pemerintah pusat menyederhanakan persoalan. Mereka beranggapan lumpur itu dapat diselesaikan dalam waktu singkat, namun sampai setahun belum juga ada penyelesaian. Persoalan baru muncul, persoalan lama belum terselesaikan. (G14, H14,H1-77 ) | ||||