logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Mei 2007 NASIONAL
Line

KISAH Setahun Gempa di Jateng-DIY (3-Habis)

Sekolah Belum Jadi, Ujian di Lokasi Darurat


SM/Achmad Hussain UJIAN AKHIR : Para siswa SDN 01 Sukorejo, Wedi, Klaten terpaksa mengikuti ujian akhir sekolah di sekolah darurat berdinding bambu dan beratap ijuk.(30)

DAMPAK gempa bumi 27 Mei tahun lalu tidak kalah dengan tsunami Aceh. Rentang waktu setahun masa rehabilitasi dan rekonstruksi belum mampu memulihkan kerusakan fisik. Bantuan pemerintah yang terbatas memaksa warga memutar otak. Untukmengurangi beban penderitaan para korban gempa, pemerintah menggarap sektor perumahan dengan Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) sebanyak 2.400 rumah dan melalui Java Reconstruction Fund (JRF) sebanyak 2.000 unit.

Toh, rehabilitasi perumahan ternyata tidak berjalan mulus. Ganjalan bermunculan. Mulai praktik bagi rata sampai penyunatan dana dengan alasan bermacam-macam. Di beberapa wilayah yang tidak begitu parah diterjang gempa, percik kecemburuan warga muncul. Antara yang menerima dana dan yang tidak. Untuk mengatasinya, warga mencari pemecahan sendiri dengan membagi dana.

Ada yang rela memberi tetangga, namun ada juga yang dipaksa membagi. Besarannya bervariasi antara Rp 200.000-Rp 2 juta. Sebuah ironi di tengah keterbatasan. "Kami tim fasilitator selalu mengimbau agar tak dipotong sehingga warga bisa menyelesaikan rumah. Namun tetap ada pemotongan. Alasannya demi kondusifnya desa," ujar Mulyadi, salah seorang fasilitator pembagian dana di Desa Klepu, Ceper. Pemotongan sebesar Rp 613.000 di wilayahnya dilakukan sendiri oleh RT/RW serta warga atas dasar kesepakatan. Jadi fasilitator sama sekali tidak terlibat atau menikmati uangnya.

Sektor Pendidikan

Selain sektor perumahan, sektor pendidikan juga belum usai. Sebanyak 461 unit sekolah yang rusak 80% sudah selesai direhab menggunakan dana dekonsentrasi, dana alokasi khusus, APBD dan bantuan swasta. Namun terbatasanya dana membuat sebagian SD masih belajar dan pelaksanaan ujian di lokasi darurat seperti sekolah darurat, rumah warga, sekolah tetangga atau balai desa .

Sebanyak 21 SD bahkan sejak 21-25 Mei menggelar UAS di lokasi darurat karena sekolah belum selesai direhab. Jelas, susananya tak senyaman di bangunan permanen. "Udaranya panas jadi mengerjakan soal juga sulit karena keringatan," ujar Ardiansyah, siswa kelas VI SDN 01 Sukorejo, Wedi.

Udara gerah di sekolah yang hanya beratap ijuk dan berdinding anyaman bambu sebenarnya sudah dilakoni setahun. Namun, jam pelajaran biasa lain dengan ujian yang butuh konsentrasi. Meski sulit mengerjakan dia tetap ingin lulus dan segera ke SMP. Paling tidak SMP sudah tidak menempati

sekolah darurat. Kepala sekolah SDN 1 Sukorejo, Sukiyo SPd mengatakan dibanding 21 SD lain mungkin SD-nya paling mengenaskan. Tanggal 27 Mei 2007 genap setahun sudah mereka menjalani hari-hari di sekolah berdinding bambu. "Kelas satu paling apes masih menempati tenda, sebab kelas menggunakan anyaman bambu hanya lima. Kalau siang panas kalau hujan becek," ujar dia. Terpaksa usai hujan turjun deras siswa boleh tidak memakai sepatu.

Siswa bertambah tak konsentrasi karena aroma tak sedap dari tenda terpal yang usai kehujanan lalu diterpa terikmatahari. Untuk menggenjot kelulusan, kelas VI diberi les sore sehingga tidak gerah udaranya. Dia berharap setelah setahun pascagempa gedung selesai dibangun dan siswa kembali ke ruangan. "Meski sekolah baru lebih bagus, tetap saja gempa itu musibah,"ujar Kasek SMPN I Prambanan, Sutrisno.Sebelum gempa sekolahnya satu lantai. Sekarang dengan bantuan donatur jadi dua lantai dan megah. Jika diminta memilih, semua siswa tentu tak ingin ada gempa yang sudah mengganggu belajar mereka karena harus menghuni tenda yang panas.

Bupati Klaten, Sunarna SE mengatakan sektor perumahan dan pendidikan tetap diprioritaskan. Khusus untuk sektor perumahan, akhir Juni ditargetkan warga sudah selesai mendirikan rumah sampai atap. "Paling tidak Juni dana RR tahap III sudah selesai.Soal pemotongan apapun bentuknya tidak diperbolehkan," ujar dia. Untuk rehab gedung sekolah tahun ini juga dievaluasi.

Ditaksir untuk merehab lanjutan dan mengisi peralatan mebeler masih diperlukan dana sekitar Rp 250 miliar baik dari pemerintah atau donatur. Dia berharap donatur langsung memberikan bantuan dalam bentuk fisik ke sekolah. Sarana seperti jalan dan bendung irigasi yang rusak akibat gempa juga akan dianggarkan Rp 80 miliar . Paling tidak 2008 rehab jalan dan saluran irigasi diterget selesai sehingga mobilitas dan sekotor pertanian tak terganggu. (Achmad Hussain-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA