logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Mei 2007 SEMARANG
Line

Petani Sumberejo Minati Jati Super

  • Berharap Bantuan Bibit Gratis

MRANGGEN- Petani Desa Sumberejo, Mranggen, Demak, meminati budi daya jati super. Selain tidak mengganggu produksi tembakau dan tanaman palawija, dibandingkan dengan jenis jati biasa, masa tanamnya relatif lebih pendek. Mereka berharap Pemkab kembali memberi bantuan bibit gratis, seperti empat bulan lalu. ''Setelah melihat pertumbuhan jati super yang luar biasa, banyak petani yang ingin menanam. Kami ingin ada bantuan bibit lagi,'' kata Ramli (53), petani dari Dukuh Sendangdelik.

Empat bulan lalu Pemkab memberi bibit jati super gratis kepada sebagian petani di wilayah Kabupaten Demak. Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Bupati Tafta Zani. Lantaran jumlahnya terbatas, hanya sebagian petani yang mendapatkan. Masing-masing menerima 100 bibit.

Tumpangsari

Pantauan di lapangan, bibit jati super yang ditanam empat bulan lalu kini tumbuh subur dengan ketinggian rata-rata satu meter. Bandingkan dengan jenis jati biasa yang dalam usia sama ketinggiannya baru setengahnya.

Jarak tanam antarbibit dua meter memungkinkan untuk sistem tumpangsari. Di sela jati super bisa ditanami tembakau, pisang, atau palawija. Melihat itu, petani yang semula enggan, kini ingin sekali menanam jati super. Sedangkan yang sudah menanam, ingin menambah. Ramli misalnya, tak puas dengan 100 bibit bantuan yang diterima. Karena itu, dia membeli bibit tambahan 150 batang.

Bibit itu dibeli di Mranggen dengan harga Rp 1.000/batang. Kini, tanaman tersebut telah tumbuh subur di 1/4 hektare lahannya. ''Di desa ini ada 10 petani yang telah menerima bantuan bibit. Tapi, lebih banyak petani yang belum mendapa. Karena itu, kami minta Pemkab kembali memberi bantuan,'' katanya.

Menurut Ramli, tanaman jati super bisa dipanen mulai usia 10 tahun. Dengan demikian, sangat mungkin petani yang menanam bisa menikmati hasil. Kalaupun tidak, jati super bisa menjadi investasi bagi anak-cucu kelak.

Kelebihan lain, adalah perawatannya yang mudah. Lebih mudah daripada tanaman mahoni. Jati super muda hanya butuh pemupukan dan penggemburan tanah secara berkala.

Demikian tertariknya petani dengan budi daya jati super, ada di antara mereka yang melakukan praktik pencurian bibit. Komari (40), petani dari Dukuh Dukoh, mengaku kehilangan bibit bantuan Pemkab yang dia tanam di lahannya.

Selang beberapa lama ditanam, bibit-bibit itu telah hilang. ''Mungkin ada petani lain yang meri, dan tidak mampu membeli bibit sendiri,'' katanya.(H6- 37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA