| Senin, 28 Mei 2007 | SEMARANG |
Pengabdian Guru TK Bergaji BengkokRAUT muka perempuan setengah baya itu terlihat tenang saat melihat puluhan anak kecil berlarian di hadapannya. Sesekali senyum teduhnya mengembang saat satu dua bocah tadi menyapanya dengan jenaka. ''Pagi Bu guru. Masih bolehkah saya bermain sebelum masuk kelas,'' tanya Tika Yuliana (6), siswa TK SD Darma Wanita 2 Karanganyar, Kecamatan Purwodadi. Sapaan khas tersebut bersamaan dengan bunyi lonceng yang menandakan kegiatan mengajar di ruangan seluas 80 meter persegi tersebut dimulai. Usai menutup pintu, Siswati (54), berdiri di depan kelas. Berdoa bersama mengawali aktivitas belajar-mengajar pagi itu. ''Kegiatan semacam ini menjadi rutinitas saya selama 29 tahun,'' tutur warga Dusun Nganggil, Desa Karanganyar ini. Dia menceritakan, sejak 1972 tidak pernah berpindah profesi selain sebagai guru TK, meski tidak ada penghargaan secara cukup atas dedikasinya selama berpuluh tahun itu. Semua dilakoninya dengan kesabaran. ''Semuanya saya anggap sebagai ibadah, sehingga bisa dijalani dengan sepenuh hati,'' tambah ibu berputra enam dengan sembilan cucu itu. Penyambung Hidup Namun, tidak dipungkiri masih ada perhatian dari pemerintah. Gaji berupa bengkok dari tanah kas desa diterimanya sebagai penyambung hidup sehari-hari. ''Saya bersyukur dengan adanya pemberian bengkok. Setidaknya untuk memperingan beban keluarga di tengah tingginya biaya hidup,'' katanya. Dia menerima bagian bengkok milik Pemerintah Desa Karanganyar seluas 3.600 meter persegi. Sawah tersebut ditanami padi dan jagung secara bergantian. Hasil panen jarang dijualnya. Semuanya dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarga. ''Untuk mencukupi keperluan sehari-hari saya mengambil dari hasil panen sawah yang lain,'' tuturnya. Selain memiliki tanah bengkok, Siswati masih menggarap lahan milik orang lain. Dia sama sekali tak pernah mengeluhkan seberapa besar hasil yang didapatnya dari bengkok. Bagi dia, melihat anak didiknya tumbuh menjadi orang yang bermanfaat , menjadi pemantik semangatnya untuk terus mengabdi, sampai kapan pun. (Hari Santoso-37) |