| Senin, 28 Mei 2007 | SEMARANG |
Perajin Plaket Bermodal Semangat, Nekat, dan DoaORANG kalah adalah mereka yang tak mau berusaha. Agar tidak kalah, orang harus mengerahkan segenap potensi yang dimilikinya. Demikian kira-kira sesanti yang diugemi Sutar (42). Merasa mentok sebagai buruh semprot, dia memutuskan untuk membuka usaha swadaya. Modalnya cuma semangat, nekat, dan doa. Meski tertatih, Sutar sudah bisa memutar roda usaha. Kebisaan membuat plaket dan cindera mata menjadi jalan rezeki bagi dia dan keluarganya. Pesanan mengalir di rumah kontrakan yang sekaligus menjadi bengkel kerjanya, di Jalan Lamper Mijen Barat RT 1 RW 5, Lamper Tengah, Semarang Selatan. ''Waktu keluar dari pekerjaan yang lama, saya sebenarnya masih nggrambyang. Maklum keahlian saya cuma nyemprot cat. Tapi keputusan saya sudah bulat untuk memulai usaha,'' ujar Sutar. Apa yang dia amati dari rekan-rekannya di tempat kerja lama coba dipraktikkan. Tentu saja, mula-mula menemu banyak kesukaran. Coba-salah-coba-salah, berlangsung berulang-ulang. Dan usahanya tak sia-sia, dia akhirnya mampu membuat plaket dan cindera mata. Mencetak fiber misalnya, Sutar perlu waktu cukup lama. Dia harus mencoba-coba dengan takaran sendiri hingga mendapat hasil sempurna. Perbandingan resin dengan katalis yang ada pada buku petunjuk pabrik tidak akurat, jika dicoba, hasilnya tidak memuaskan. Satu hal yang patut dipuji adalah kemauannya yang keras dalam berusaha. Dalam membuat plaket yang relatif rumit, dia sebisa mungkin melakukannya sendiri, dari tatakan kayu, relief kuningan, sampai cetakan fiber. Itu dilakukan untuk menekan harga jual plaket buatannya. ''Kalau saya suruh bikin orang lain, pasti jatuhnya lebih mahal. Dan secara kualitas belum tentu memuaskan,'' katanya. Jemput Bola Saat memulai usaha, suami Siti Yasaroh (32) itu melakukan strategi jemput bola. Dia datangi konsumen dengan membagi-bagikan kartu nama. Lembaga perguruan tinggi dan instansi menjadi target utama. Kini, setelah beberapa tahun, justru konsumenlah yang mencarinya. ''Sedikit-sedikit, sudah mengalir pesanan. Biasanya dari kampus-kampus dan instansi, baik negeri maupun swasta.'' Siang itu, Sutar tengah mengerjakan plaket pesanan mahasiswa Undip. Usai mencetak resin menjadi fiber, dia menyiapkan tatakan kayunya. Batang-batang kayu afkiran yang dibeli kiloan itu dipotong-potong dan dirangkai sedemikian rupa. Dengan sentuhan cat semprot, tatakan kayu itu menjadi terkesan mahal. Sementara di atas meja ruang tamunya, plaket cindera mata pesanan Pemerintah Kota telah jadi. Plaket berornamen relief Gedung Lawangsewu dan Tugumuda itu telah rapi berbungkus kardus. ''Ini sudah jadi sejak lama, tapi nggak tahu, kok belum diambil oleh pemesannya,'' kata dia. Harga dan kualitas plaket bikinan Sutar berani bersaing dengan pengrajin plaket lainnya. Tinggi-rendahnya harga bergantung jumlah dan ukurannya. Paling murah Rp 40.000, yakni plaket berukuran kecil yang dipesan dalam jumlah banyak. Paling mahal bisa mencapai Rp 25.000/ buahnya. Ayah tiga putra itu juga melayani pembuatan spanduk dan papan nama. Itu dilakukan untuk mengantisipasi sepinya order pembuatan plaket. (Rukardi- 18) |