logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Mei 2007 SEMARANG
Line

Nelayan Masih Enggan Melaut

SEMARANG- Kegiatan melaut para nelayan Tambaklorok menurun akibat anjloknya hasil tangkapan mereka. Hal itu dipengaruhi musim angin timur yang diperkirakan akan berlangsung hingga Juli.

Pada musim itu, banyak ikan yang bermigrasi jauh ke utara (ke tengah laut Jawa). Para nelayan lebih memilih menambatkan kapalnya, dan waktunya diisi untuk memperbaiki kapal atau jala yang rusak.

Faindi, nelayan di Tambaklorok asal Demak mengatakan, dia sudah sebulan tidak melaut. Selama ini, waktunya lebih banyak digunakan untuk memperbaiki kapal. Seperti terlihat kemarin, ia memperbaiki tempat jeriken sebagai wadah BBM di kapalnya. Sementara temannya membelah bambu untuk perbaikan kapalnya.

Begitu pula dengan nelayan lainnya. Mereka bergotong royong mendorong kapal dari daratan ke sungai seusai dilakukan perbaikan. ''Percuma melaut. Nggak ada ikan. Sepi,'' katanya. Meski sebenarnya ombak pasang saat ini tidak membahayakan bagi pelayaran, mereka tetap enggan melaut. Menurut para nelayan, musim ikan ramai berlangsung pada Maret - April dan Agustus - September.

Saat itu penjualan hasil tangkapan dari sekali melaut bisa mencapai Rp 1 juta - Rp 1,5 juta. Sekarang, dalam kondisi sepi ini, paling banter mendapatkan penghasilan Rp 200.000. ''Hasil tangkapan kami yang memiliki nilai jual bagus cuma cumi-cumi, lainnya ikan teri. Makanya tangkapannya sering tidak sebanding dengan biaya operasi,'' ujarnya.

Lelang Menurun

Penurunan aktivitas itu juga terlihat di Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Hanya dua keranjang ikan milik Nastain (23), nelayan asal Kendal, yang dilelang pada Minggu siang kemarin. Itu pun yang dijual ikan-ikan berukuran kecil yang akan dibuat ikan asin. ''Hasilnya tidak seberapa. Kondisi seperti ini sudah terjadi sejak awal Mei,'' kata Bambang Suroso, pengelola TPI Tambaklorok. Dia menjelaskan, saat musim seperti ini jumlah nelayan yang masuk ke Tambaklorok sangat sedikit. Umumnya mereka berdatangan dari berbagai kota sekitar Semarang.

Parahnya lagi, kondisi TPI itu kian memprihatinkan. Beberapa hari terakhir genangan rob turut menerjang TPI dengan ketinggian hingga 30 cm. Dibandingkan sebelumnya, genangan rob terlihat kian meninggi. Tentu saja hal ini mengakibatkan aktivitas pelelangan lumpuh total.

Dengan kondisi tersebut, dia berharap Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Tambaklorok bisa segera dihidupkan. Kendalanya, muara untuk menuju PPI dangkal yang mengakibatkan kapal tidak bisa melaju lancar. ''Hal itu berisiko, karena bisa saja kapal menabrak batu, kemudian bocor,'' ujarnya. (H22-18)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA