| Senin, 28 Mei 2007 | KEDU & DIY |
Saat Kekesalan Petani Kian Memuncak"NAMANYA tak sebagus kelakuannya." Kalimat bernada kesal itu dilontarkan Suwahid (39), warga Desa Karangsari, Kecamatan Purwodadi, Purworejo. Sengatan sinar matahari yang membuat suhu udara makin panas meningkatkan tensi emosinya. Sekitar lima kilogram hama keong emas yang baru saja dijumputi atau diambil dari lahan sawahnya, dia sebar di jalan raya Purwodadi. Dengan gagang cangkul, dia memukul-mukul cangkang keong emas itu hingga remuk. Dagingnya kuning bercecer dan muncrat ke wajahnya yang peluh keringat. Ya, itulah bentuk kejengkelan seorang petani dalam menghadapi hama keong emas yang kini menyerang sebagian tanaman padi di wilayah Kecamatan Purwodadi, antara lain di Desa Karangsari, Purwosari, Sidoarjo, dan Bubutan. Serangan hama itu mulai sulit dikendalikan. "Namanya keong emas, tapi kelakuannya tak mencerminkan logam emas yang mulia itu," ujarnya, kemarin. Pusing Suwahid mengatakan, para petani dibuat pusing oleh hama itu. Bagaimana tidak, pagi padi ditanam dan sore hingga malam menjadi bancakan keong emas. Tidak tanggung-tanggung, padi-padi yang baru ditanam itu dimakan hingga bagian pangkal daun hingga pupus. Dampaknya, daun padi menguning dan lama-lama mati. Tanaman padi yang terserang keong emas mencapai ratusan hektare. Bukan hanya padi muda yang baru ditanam, benih padi yang baru disebar juga tidak luput dari sasaran hama itu. Petani lainnya, Tukisih, mengatakan, kesibukan petani hanya membuangi keong emas dari sawah. Pagi buta petani sudah menyebar ke sawah masing-masing. Keong-keong emas yang bersebaran itu dijumputi, kemudian dibuang ke jalan untuk dilindas kendaraan. "Sudah satu minggu ini kerjaannya ya seperti ini terus," keluhnya. Mekipun tidak mengatasi masalah, hanya cara itulah yang bisa mereka lakukan. Mereka harus kucing-kucingan dengan keong emas. Keong emas yang mereka buang tak pernah bisa habis, karena akan kembali lagi dengan populasi yang jauh lebih banyak. Tukisih mengemukakan, petani belum tahu cara mengatasi hama tersebut. Petani sangat berharap Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Purworejo memberi tahu petani cara mengatasinya. "Obatnya apa ya, Mas? Kalau ada obatnya, walaupun beli, petani pasti mau," katanya. Petani lain, Ny Wasitoh, mengungkapkan, dalam seminggu terakhir ini petani sudah dua kali tambal- sulam tanaman padi yang mati dimakan keong emas. Saking kesalnya, sejumlah petani bahkan ada yang membajak ulang lahannya, kemudian ditanami padi yang baru lagi. (Nur Kholiq-66) 0 |