logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Mei 2007 KEDU & DIY
Line

''Seakan Damai Desaku Hilang Seketika...''

  • Oleh Agung PW

Entah dosa apa yang kuperbuat Hingga alam tak bersahabat Tanah bagaikan ombak Bumi yang kupijak bergoyang Dan terus bergoyang Tiba-tiba suara seram membuat gaduh Jerit, teriak, tangis iringi pagi itu Rumah, pohon runtuh tak berdaya Akan isyarat alam Seakan damai desaku hilang seketika Yang ada hanya derita Tapi aku yakin ini semua Kehendak Yang Kuasa

PENGGALAN puisi di atas adalah ungkapan seorang bocah berumur 10 tahun, Aprilia Kartikasari, siswa SD Piyungan, Bantul. Dia mencoba menggambarkan peristiwa satu tahun lalu ketika gempa mengguncang Yogyakarta dengan kekuatan 5,9 skala richter dan menelan korban ribuan jiwa.

Namun Aprilia percaya kedamaian desanya yang hilang dan berganti menjadi derita tidaklah berlangsung lama. Tuhan kelak akan memberi anugerah agar umat di muka bumi percaya kebesaran-Nya. Begitulah gadis cilik tersebut menuangkan realitas bencana ke dalam sebuah puisi bertitel ''Gempa''.

Dia tidak membayangkan desa nan indah dan damai akhirnya porak poranda. Untuk berteduh saja, selama hampir setahun dia dan ribuan korban harus berada di tenda-tenda darurat, bedeng, menumpang di tetangga atau saudara yang rumahnya tidak ambruk.

''Anak-anak sering memendam apa yang dia tahu dan rasakan. Kadang tak mampu menyampaikan ke orang lain, nah puisi itu salah satu bentuk ungkapan mereka,'' ungkap Coordinator Family Strengthening Program SOS Desa Taruna Indonesia-DIY, Martanti Endah Lestari, di sela-sela berbagai kegiatan anak-anak memperingati 1 tahun gempa di Desa Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul, kemarin.

Bagi seorang anak, menurut dia, komunikasi sangat penting agar orang dewasa dapat mengerti dan mengetahui keinginannya. Komunikasi pulalah yang membuat anak tahu orang dewasa memandang mereka, menghargai, atau sebaliknya.

Anak-anak akan merasa dihargai, percaya diri, mampu mengembangkan nilai positif ketika orang tua menaruh perhatian kepada mereka. Karena itu, dia berpendapat pentingnya pendampingan terhadap anak agar mereka dapat menyampaikan ide, gagasan, perasaan dalam berbagai bentuk baik lisan maupun tulisan.

Lupakan Masa Lalu

Di Sidomulyo, SOS Desa Taruna Indonesia membangun tempat berkumpul, bermain, dan belajar yang sudah diresmikan GKR Hemas dengan nama Pakridan Yogathama. Tempat sama juga ada di Dusun Bintaran Wetan, Srimulyo, Piyungan dan diberi nama Pakridan Cokrojayan.

Di kedua daerah tersebut, 90% rumah penduduk hancur akibat gempa, begitu pula bangunan sekolah dan fasilitas umum. Akibatnya, anak kehilangan tempat berkumpul, bermain, dan belajar. Mereka sibuk membantu orang tuanya yang tak lagi punya tempat berteduh.

Melihat kondisi demikian, Martanti bersama sejumlah pihak berupaya melakukan pendampingan serta membuat tempat berteduh bagi anak-anak. Kehidupan masa kecil sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak kelak. Pembangunan rekonstruksi harus mengacu pada kondisi tersebut.

Pada peringatan 1 tahun gempa, dia mengadakan lomba melukis dan mewarnai yang diikuti 500-an anak. Kegiatan lain, lomba uji prestasi khusus siswa SD dan SMP, pemberian santunan untuk anak yatim piatu dan beasiswa kepada 100 anak.

''Pendampingan akan terus kami lakukan agar anak-anak korban gempa perlahan melupakan masa lalu yang penuh kepedihan,'' tandasnya. (70)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA