logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Mei 2007 KEDU & DIY
Line

Renungan 1 Tahun Gempa sampai Subuh

  • Diisi Doa, Zikir, Pentas Wayang

YOGYAKARTA - Suasana refleksi satu tahun gempa di Yogyakarta dan sekitarnya, Sabtu (26/5) malam, berlangsung khidmat dan khusyuk. Di berbagai tempat digelar doa bersama dengan diselingi berbagai kesenian tradisional, sehingga ribuan orang yang mengikuti acara tersebut sedikit terhibur dengan pertunjukan.

Di Jogya Expo Center (JEC) digelar Pentas Seni Budaya dengan menampilkan grup vokal dan tari, Ketoprak Wulan Yeu, Tari Merak Wulan Yeu yang dibawakan Yakkum, Geguritan kolaborasi dengan Calung dan Tari Banyumasan yang dibawakan seniman dan seniwati Komunitas PaQone, Nyongklang Jathilan Putri yang dibawakan seniman Gunungkidul.

Gejog Lesung dari Bantul, Pantomim Gempa yang dibawakan Teater Eska, Gado-Gado Kesenian Kota Yogyakarta, Sendratari Mbangun Omah yang dibawakan karyawan DPU Klaten, pergelaran Kiai Kanjeng dan Teater Dinasti yang mementaskan Gempa Bukan Sembarang Gempa dan diakhiri dengan pergelaran wayang kulit dengan lakon Badranayo Kridha oleh dalang Ki Gunawan.

Usai pergelaran kesenian tepat pukul 00.00, puncak refleksi 1 tahun gempa diisi renungan dengan menampilkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan budayawan Emha Ainun Nadjib. Setelah itu, dilanjutkan pergelaran wayang kulit dengan lakon "Badranayan Kridho" dengan dalang Ki Gunawan.

Usai pergelaran wayang kulit pukul 05.00 giliran tampil teaterikal alegoris menjelang gempa 27 Mei 2006 yang dibawakan Sanggar Sunan dilanjutkan dengan tembang Jawa dengan judul 'Hening' dan doa bersama yang dipimpin tokoh agama masing-masing dari Forum Persaudaraan Umat Beragama.

Di Alun-alun Utara mulai pukul 20.00 hingga pagi digelar doa bersama dan zikir hingga pagi yang dilaksanakan semua umat muslim Yogyakarta. Acara ini dimulai tepat pukul 00.00 saat lampu penerang dimatikan lalu diganti obor yang kemudian secara bersama-sama dilanjutkan doa bersama.

Tidak Bersenang-senang

Sementara itu, di halaman Studio TVRI Yogyakarta, Jalan Magelang, juga dgelar pergelaran ketoprak Lindhu bekerja sama dengan Nicco Nippon International Cooperation For Communication Development dan PT Sido Muncul.

Yang menarik dari pergelaran ketoprak ini, seluruh pemain merupakan masyarakat korban gempa dari Dlingo, Bantul. Sejak peristiwa gempa terjadi, Nicco bersama Bondan Nusantara membmibing mereka belajar ketoprak sekaligus nguri-nguri kabudayan Jawa, mulai dari seni ketoprak, macapat, jathilan, karawitan, dan sebagainya.

Adapun di Lapangan Trirenggo, Bantul, acara serupa digelar mulai pukul 03.00 dengan diawali doa bersama dan zikir hingga menjelang shalat subuh. Usai shalat, mereka kemudian berdoa hingga matahari terbit.

Dalam kesempatan itu, Sri Sultan pada intinya mengimbau masyarakat Yogya untuk tidak bersenang-senang ketika melakukan refleksi peringatan satu tahun gempa bumi yang melanda DIY 27 Mei tahun lalu.

Sebab, pada tanggal yang sama setahun lalu terjadi musibah gempa bumi menelan korban ribuan jiwa anak manusia. Untuk itu, Sultan berharap agar masyarakat bisa saling berdialog dan berintrospeksi diri dengan peringatan tersebut. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban sosial antarwarga.

Mengenai banyaknya agenda kegiatan yang dilakukan berbagai pihak dalam refleksi satu tahun gempa, Gubernur DIY berpendapat, tidak masalah. Asal semua itu dilakukan dengan khusyuk dan jangan terkesan hura-hura. (sgt-70)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA