| Senin, 21 Mei 2007 | RAGAM |
Cegah Penyakit, Hindari Fast FoodTingginya aktivitas orang perkotaan menyebabkan mereka kurang waktu untuk menyiapkan hidangan bergizi. Efeknya, warga kota lebih mudah didera sejumlah penyakit ketimbang orang-orang desa. Kenapa bisa begitu? SALAH satunya adalah penerapan pola hidup yang kurang sehat, termasuk soal budaya makan. Menurut ahli gizi, Leslie Beck, meningkatnya kebutuhan hidup menyebabkan orang lebih berkonsentrasi untuk berkarir dan mengesampingkan kesehatan mereka. Akibatnya, orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya kekurangan waktu untuk menyiapkan makanan berdasarkan komposisi gizi yang seimbang. Mereka lalu memilih bahan makanan ''setengah jadi'' seperti sosis, chicken nugget, bakso, produk sayuran kering, atau makanan kaleng lainnya ketimbang mengolah bahan makanan segar di dapur sendiri. Selain itu, pilihan mereka juga kerap jatuh pada menu restoran fast food seperti burger, pizza, atau jenis menu junk food lainnya. Padahal sebagian besar fast food kaya lemak yang tidak baik bagi kesehatan. Pernyataan Beck juga didukung oleh percobaan Morgan Spurlock, yang dibuatnya dalam film dokumenter berjudul Super Size Me. Selama sebulan, Morgan hanya menyantap makanan dari restoran fast food yang terkenal dengan menu Big Mac. Hasilnya, sebulan kemudian, bobotnya bertambah 15 kg. Kadar kolesterol dan gula darahnya meningkat, serta mulai menderita berbagai gangguan kesehatan. Selain efek buruk bagi kesehatan, akibat pola makan yang kurang memenuhi gizi, sel-sel tubuh juga tidak mendapatkan nutrisi. Akibatnya, seseorang menjadi mudah loyo dan kurang bersemangat. Jika sel-sel hati kekurangan nutrisi, kemungkin proses pengolahan racun dalam tubuh juga tidak bekerja secara efisien. Hal itu mengakibatkan tubuh cepat letih dan kerja syaraf menjadi lambat. Kekurangan Nutrisi Gangguan pada persendian dan kurang gairah dalam beraktivitas bisa jadi merupakan gejala kekurangan zat gizi (nutrisi), karena menu harian tidak diperhatikan. Agar kondisi kekurangan nutrisi tidak sampai berlarut-larut, ada beberapa langkah yang dapat diterapkan. Mulai dari memperoleh, menyimpan, sampai mengolah makanan. Utamakan memilih bahan pangan segar seperti sayur dan buah-buahan daripada produk makanan kaleng atau makanan beku. Sebab ada beberapa jenis vitamin tertentu yang tak tahan berada pada temperatur yang terlalu dingin maupun terlalu panas saat proses pengemasan makanan. Pengawetan produk makanan dengan radiasi juga bisa menyebabkan makanan kehilangan nutrisi penting dan menimbulkan ekses berupa zat-zat yang mengandung toksik. Selain itu, proses pengolahan makanan juga harus diperhatikan agar kandungan vitaminnya tidak hilang. Misalnya, sesekali memasak sayuran tidak terlalu matang. Sebab sejumlah besar nutrisi dalam sayuran bisa lenyap jika dimasak hingga matang. Memasak sayuran dengan menggunakan microwave juga bisa merusak kandungan zat gizi hingga 95 persen. Usaha lain dalam menyiasati kekurangan nutrisi dari makanan sehari-hari juga dapat dilakukan dengan mengonsumsi suplemen. Saat ini, beragam produk suplemen bisa diperoleh dengan mudah di pasaran. Namun perlu diingat, suplemen bukanlah makanan, melainkan sekadar pelengkap kebutuhan gizi. Karena sebagai pelengkap, suplemen harus dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan dan dalam dosis yang tepat. (Istolia W Wardani-32) |