| Senin, 21 Mei 2007 | PANTURA |
Melaut Tidak Lampaui 10 MilBATANG-Nelayan yang biasa membongkar ikan di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Klidang Lor, Batang untuk sementara waktu takut melaut melebihi 10 mil. Pasalnya, gelombang pasang cukup tinggi, meski mereka masih menganggap normal. "Kami mengikuti imbauan dari Dinas Perikanan dan Keluatan maupun Syahbandar. Meski sebenarnya gelombang yang sekarang ini terjadi biasa saja,"ujar Ahmad Tohari (31) nelayan asal Tuban, saat dijumpai sebelum berangkat melaut sore, kemarin. Menurut dia, ombak di laut tidak setinggi pada Desember-Januari lalu. Hanya saja, sekarang ini kebanyakan nelayan memilih melaut satu hari. Artinya, berangkat sore pulang pagi hari. "Kami mencari ikan sekitar lima sampai delapan mil. Jenis ikan yang ditangkap tongkol, kerapu, dan kakap,"kata juragan KM Sri Wadah itu. Kasubdin Kelautan Dinas Perikanan dan Kelautan, Drs Retno Dwi Irianto MM menyatakan, akibat gelombang pasang telah mengakibatkan rob yang masuk kurang lebih 1.000 meter dari garis pasang surut. Tepatnya di perkampungan Karangsari, Kelurahan Karangasem Utara. Meski demikian, tapi tidak menimbulkan kerusakan berat. "Jauh sebelumnya, kami telah mengadakan sosialisasi ke warga khususnya di perkampungan nelayan. Sehingga, mereka sudah mengantisipasi,"ujar dia. Ambang Batas Gelombang air laut di perairan Batang, kata dia, masih di ambang batas normal. Meskipun demikian, nelayan diimbau untuk tidak melaut sampai melebihi 10 mil atau empat jam pelayaran. Sebab, di tengah laut kemungkinkan terjadi datang gelombang yang tinggi akibat pengaruh angin. Untuk itu, kapal yang melaut diminta untuk melengkapi semua persyaratan keselamatan seperti alat komunikasi. Itu untuk mengantisipasi apabila di laut terjadi gangguan, sehingga bisa secepatnya mendapat pertolongan. Selain itu juga dokumen pelayaran juga diminta lengkap. Apalagi TNI AL sedang gencar melaksanakan Operasi Pengawasan dan Ketertiban. "Kami imbau kepada nelayan untuk waspada karena setiap saat kemungkinan terjadi gelombang tinggi. Kapal harus lengkap sesuai standar. Salah satunya, radio komunikasi jangan sampai ditinggalkan. Meski kebanyakan sudah banyak nelayan yang membawa ponsel."(ar-61) |