logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 21 Mei 2007 NASIONAL
Line

Kebakaran Ketiga yang Paling Besar

BOYOLALI- Pasar Boyolali Kota pernah terbakar pada 1985. Selanjutnya pasar direnovasi tahun 1987. Renovasi meliputi perluasan los pasar dengan menguruk jurang dibelakang pasar serta perbaikan kios di depan.

Usai perluasan, pedagang semakin bergairah. Namun tak dinyana si jago merah kembali mengamuk tahun 2000. Gara-gara hubungan pendek arus listrik, tiga kios ludes. Pedagang dibantu warga segera memadamkan api sebelum menjalar ke kios dan los lainnya. Semenjak kejadian itu, pedagang diminta agar berhati-hati. Secara rutin, mereka diminta mengecek jaringan kabel listrik dan kompor usai berdagang.

Sekretaris Paguyuban Pedagang Pasar Boyolali (P3B) Much Ichsanudin mengatakan, Pemkab Boyolali pernah berencana merehab total pasar pada 2003, namun ditolak pedagang.

Alasannya, dana pembangunan berasal dari investor, sehingga pedagang khawatir harga kios dan los melambung tinggi. Apalagi, pembayarannya harus dilakukan secara tunai.

''Kemampuan pedagang kan terbatas, jelas tak mampu membayar los dan kios secara tunai. Apalagi, tidak ada transparansi pembangunannya.''

Meski demikian, Pemkab tak berdiam diri. Sekitar 2005, Pemkab membangun pagar pasar dan menambah bangunan berlantai 2 di sisi utara. Tak dinyana, kebakaran kembali terulang. Bahkan yang terjadi Jumat (18/5) malam lebih hebat.

Sebanyak 431 los dan 13 kios ludes terbakar. Belum terhitung kerugian barang dagangan milik pedagang yang ditinggal di pasar.

Menurut Sugiharto (40), tukang ojek yang nyambi jual buah-buahan setiap hari mangkal di depan pasar, kebakaran kali ini yang paling besar. Hampir seluruh isi pasar ludes. ''Saya 24 jam nonstop di depan pasar. Tahu-tahu api sudah membesar membakar pasar,'' katanya.

Kemudian ia berteriak memanggil rekan-rekannya untuk memadamkan api. Namun usaha tersebut sia-sia lantaran api dengan cepat menyambar beberapa los.

Mobil Pemadam Dikeluhkan

Muklasin (44), yang saat kejadian baru saja tiba dari Klaten, begitu mengetahui api membumbung tinggi berupaya menyelamatkan istri dan anak-anaknya yang masih berada di dalam kios. Sejumlah barang dan buah-buahan yang berada di di kiosnya sempat diselamatkan.

Namun sebagian telanjur dilalap api. Pedagang juga sempat mengeluhkan keterlambatan mobil pemadam kebakaran yang baru tiba satu jam setelah api berkobar.

''Saya menelepon pemadam kebakaram, namun tidak diangkat-angkat. Mobil pemadam baru tiba pukul 24.00," ujar pemilik kios buah 'Istiqomah' tersebut.

Bupati Sri Moeljanto membantah mobil pemadam kebakaran terlambat datang. ''Sudah saya cek langsung, tidak benar terlambat. Kami akui, dalam situasi darurat seperti itu, siapa pun pasti terjadi kegamangan. Yang jelas, mobil pemadam kebakaran berperan besar untuk memadamkan api,'' ungkapnya. (G10-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA