logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 21 Mei 2007 NASIONAL
Line

PERISTIWA Kegalauan Pedagang Pasar Kota Boyolali (2-Habis)

''Dari Mana Lagi untuk Bayar Cicilan Bank?''


SM/Joko Murdowo SISA DAGANGAN: Beberapa pedagang mengais sisa dagangan di los Pasar Boyolali, kemarin. (57)

SRIYATI (35) hanya termenung memandangi bekas los tempatnya jualan di Pasar Boyolali yang terbakar. Wajahnya murung melihat suaminya mencari sisa-sisa barang dagangan di los yang telah berubah menjadi gundukan abu tersebut.

Melihat sang istri yang terus bersedih, Kayat (37) lalu mendekatinya. Sang suami itu berusaha membujuk istrinya untuk tabah menerima cobaan Yang Maha Kuasa.

Setelah dibujuk, warga Kampung Karangtengah, Kelurahan Banaran, Kecamatan Boyolali Kota itu pun sedikit terhibur. Tak lama kemudian, dia ikut suaminya mengais sisa dagangan di bawah tumpukan abu.

''Ya, ini musibah yang berat bagi kami sekeluarga serta pedagang lainnya,'' ujar Sri.

Bagaimana tidak, seluruh dagangan berupa pecah belah dan peralatan rumah tangga dari plastik musnah dilalap si jago merah. Kedua tangannya terus mengaduk abu di bekas kiosnya. Beberapa panci dan peralatan rumah tangga dari aluminium ditemukan dalam kondisi tak utuh karena hangus terbakar. Semua benda itu dikumpulkan, juga seng-seng bekas.

Rp 500 Ribu/Bulan

Dia mengaku harus memulai lagi usahanya dari nol. Namun dia tak tahu darimana mencari modal untuk kembali berdagang. Pasalnya, seluruh dagangan yang disimpan di losnya senilai Rp 20 juta telah ludes.

Padahal, sebagian besar modal pinjaman dari bank. Setiap bulan harus membayar cicilan dan bunga mencapai Rp 500 ribu lebih. Cicilan utang masih harus dilunasi selama setahun.

''Dagangan itu satu-satunya sumber penghasilan keluarga. Mudah- mudahan pihak bank mau mengerti dan memberi keringanan.''

Dia bertambah pusing memikirkan harga los bila nanti pasar dibangun kembali. ''Untuk menempati los ukuran 3 X 1,5 m, kami harus membayar Rp 30 juta. Untung orangtua dan mertua mau mengerti dan membantu dana untuk pembayaran los. Kalau nanti pasar dibangun, apakah kami juga harus membayar lagi? Kalau disuruh membayar, lalu darimana mendapat uang?'' ucapnya.

Ketidakberuntungan juga dialami Ny Siti (61). Keinginan santai sembari menimang cucu yang baru lahir dari putrinya, Maryatun (29), terganggu. Nenek tersebut harus ikut susah payah mencari sisa barang dagangan milik putrinya itu.

Meski di beberapa tempat bara api masih menyala dan cuaca panas, sama sekali tak dihiraukan. Tangannya yang keriput pelahan membalik-balik abu bekas kebakaran.

Dia mengaku, putrinya berdagang ikan asin dan kebutuhan rumah tangga. Namun karena baru melahirkan, dirinya yang menjaga kios. ''Hancur semua karena terbakar, Mas. Ini tadi saya berhasil menemukan timbangan, tapi bandulnya hilang. Juga beberapa ember dan kaleng bekas.

Ya sudah hangus, wong terbakar. Biarlah saya ambil, siapa tahu nanti ada manfaatnya,'' tuturnya.

Ny Muh Sahid (59) tak kalah syok. Ironisnya, warga Malangan, Klaten itu baru tahu losnya terbakar Sabtu (19/5) pagi saat hendak berjualan.

Begitu turun dari bus, dia kaget melihat pasar tempat mengais rejeki terbakar. Sejumlah mobil pemadam kebakaran masih menyemprotkan air untuk memadamkan api. Dengan gemetar dia mencoba mendekati los miliknya, beruntung dicegah polisi dan petugas Satpol PP karena lokasi kebakaran masih berbahaya.

Berbeda dengan Wahid, pemilik kios yang berjualan sepatu masih beruntung. Kiosnya yang berada di bagian barat luput dari amukan api.

Meski demikian, dirinya sempat was-was. Saat dikabari tetangga bahwa Pasar Boyolali terbakar, dia bergegas bersama adiknya berupaya menyelamatkan barang. Semua dagangan dibawa pulang dengan mobil. Tak dipedulikan seluruh rak dan meja yang rusak karena pengambilan paksa.

''Alhamdulillah, kios saya selamat. Paling hanya membenahi rak dan meja serta almari yang rusak. Namun saya kasihan terhadap pedagang lainnya karena los dan kiosnya terbakar. Kami berharap Pemkab Boyolali memberikan bantuan modal kepada mereka,'' katanya.

Kegalauan pedagang sedikit terobati setelah mereka mendapat jaminan dapat meneruskan kegiatan berdagang. Bupati Sri Moeljanto sudah memberi jaminan untuk menyediakan pasar darurat.

Pedagang juga dijanjikan untuk mendapatkan bantuan modal. ''Kami berharap janji bisa segera dilaksanakan agar beban para pedagang bisa dikurangi,'' pinta Jafar, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Boyolali Kota (P3B). (Joko Murdowo-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA