logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 21 Mei 2007 SEMARANG
Line

Memulai Melukis karena Wangsit

  • Oleh: Leonardo Agung B

MENEKUNI seni lukis, karena hobi maupun proses belajar yang lama, merupakan hal biasa. Tetapi, bisa melukis dan menekuti dunia itu, karena wangsit merupakan hal yang tidak biasa.

Itulah yang dialami Teguh Apriyanto (46), pria asal Jakarta yang kini tinggal di Kota Salatiga.

Teguh awalnya memiliki pekerjaan tidak tetap dan kerap berganti pekerjaan. Dia suka berkesenian, tetapi menjadi seorang pelukis tidak terbayangkan olehnya.

Pertama tiba dan menetap di Kota Salatiga, dia bingung hendak bekerja apa untuk menghidupi keluarga.

Modal yang dia miliki habis terpakai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ketika masih dalam proses pencarian itu, suatu malam saat mencorat-coret gambar dengan crayon dan kertas gambar milik anaknya, Teguh mendapat wangsit. Dia mendengar bisikan wis kowe nglukis wae (sudah kamu melukis saja).

Sejak itulah dia mulai belajar seni lukis setelah berkonsultasi lebih dulu dengan ayahnya. Lukisan pertamanya saat itu adalah potret wajah anaknya. Teguh mengungkapkan aliran lukisannya ke arah realisme, tetapi terkadang juga melukis abstrak atau yang lain.

Sebelum mengomersialkan lukisannya, banyak karyanya yang tidak dijual. Bahkan, ada lukisannya yang diberikan cuma-cuma kepada saudara atau teman.

Tidak Ditawar

Dua lukisannya kali pertama dijual kepada temannya dengan harga Rp 2.000. ''Harga itu tidak ditawar,'' kata Teguh.

Tidak berapa lama setelah menjual dua lukisan itu, Teguh justru mendapat kabar jika ada orang yang menawar lukisan lain seharga Rp 400.000. Sejak itu Teguh mulai berani menjual lukisannya.

Dia kemudian berkenalan dengan Ambar Sutrisno, seorang pelukis yang memberikan pengetahuan tentang media lukis dari cat minyak dan kanvas. Teguh juga sering merasa takut ketika sedang melukis. Dia merasakan ada seseorang yang sedang mengawasinya. Begitu merasa ada yang mengawasi, seketika itu juga dia berhenti melukis dan langsung meninggalkan pekerjaannya. Namun, hal itu kini sudah biasa.

Teguh juga mulai bekerja sama membuka studio sederhana dari bambu dengan rekannya di Jalan Soekarno-Hatta dengan nama Cahya Art Studio dan Frame, dengan sistem bagi hasil. Pada 2003-2006 lukisannya bisa terjual tiga hingga lima buah tiap bulan. Dalam sebulan dia juga mendapat pesanan satu sampai dua lukisan.

Konsumennya berasal dari Jakarta dan Jateng. Ada juga yang berasal dari Berlin dan Holland American Line (kapal pesiar). Setiap lukisan membutuhkan waktu pembuatan sekitar satu hingga dua minggu, tergantung dari tingkat kesulitannya. Pada saat melukis dia lebih mengutamakan rasa, tetapi terkadang juga melukis sesuai dengan keinginan pemesan.

Di studionya, dia tak hanya memajang karya sendiri, tetapi juga lukisan-lukisan dari sesama pelukis yang dititipkan.

Harga lukisannya mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 2 juta. Di Kota Salatiga, Teguh tergabung dalam Wahana Seni Rupa Salatiga (Wasesa) yang beranggotakan 60 orang. Wasesa terkadang menggunakan studionya sebagai tempat untuk berkumpul. (37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA