logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 21 Mei 2007 SEMARANG
Line

Sendang Amanah Ramai Dikunjungi Orang

SEJAK tiga bulan terakhir sendang Amanah yang berada di Siwatu, Dusun Ngaglik, Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, ramai dikunjungi orang. Air bersumber dari Gunung Seputon tersebut diyakini bertuah.

Hasyim (65) selaku juru kunci sendang tersebut mengatakan, yang memberi nama tempat pemandian tersebut adalah para sesepuh di Siwatu, Ngaglik.

Sendang dengan air yang sangat jernih ini diresmikan pada 25 Maret 2007 oleh para kiai setempat. Meski mata air ini ditemukan sebelum masa kemerdekaan, sendang tersebut dipercaya membawa manfaat sejak tiga bulan lalu.

''Sebelum lokasi ini ramai saya sempat mendapat mimpi jika air ini bertuah,'' kata Hasyim kemarin. Dia menjelaskan, beberapa tahun ini pihaknya memikirkan bagaimana cara membangun masjid di dusun tersebut.

Menurut dia, dengan adanya orang yang banyak mandi diharapkan amal jariahnya dapat digunakan membangun Masjid Nurul Huda Ngaglik.

Sendang tersebut menurut Hasyim, juga tak lepas dari sabda waliyullah Hasan Munadi yang dimakamkan di Nyatnyono.

Di makam ini juga terdapat sendang bernama Kalimah Toyyibah yang juga ramai didatangi orang.

Antara Sendang Amanah dan Sendang Kalimah Toyyibah, ada kemiripan.

Sekitar awal 1980-an di Sendang Kalimah Toyyibah ramai dikunjungi karena ada seseorang yang menderita lumpuh bisa sembuh setelah mandi di sendang itu.

''Di sendang ini juga begitu. Sebulan lalu ada orang yang lumpuh datang ke sini dengan digendong. Setelah mandi di sini dia sembuh,'' terang Abdul Malik (35) yang juga juru kunci di Sendang Amanah.

Tongkat

Di Ngaglik, disebutkan ada makam tokoh penyebar Islam bernama Potro Kusumo.

Tokoh ini disebut-sebut sebagai senopati dari Tuban sebelum Ronggolawe. Syahdan, Potro Kusumo bertemu dengan Hasan Munadi.

Diyakini warga sekitar Potro adalah paman Hasan Munadi.

''Suatu ketika, Senopati Potro hendak salat duhur tidak ada air. Lalu Mbah Wali Hasan Munadi menancapkan tongkatnya dan dicabut keluar air yang akhirnya menjadi sendang ini,'' jelas Abdul Malik. Ramainya lokasi tersebut diakuinya dari mulut ke mulut.

Kali pertama ada warga yang sakit rheumatik. Setelah mandi di air ini penyakitnya sembuh.

Kamis (17/ 5) kemarin tampak sejumlah orang bersiap mendirikan tenda menyediakan aneka dagangan makanan dan minuman, serta botol plastik jika ada pengunjung yang ingin membawa pulang air sendang.

Dan tak kalah ramai, beberapa orang menyediakan sarung untuk mandi. Sebab di tempat itu orang tidak boleh mandi dengan telanjang bulat.

Di sendang tersebut sebelum mandi, pengunjung harus membaca tata cara dan berdoa agar tidak terjebak pada syirik.

Lokasi sendang yang berada sekitar tujuh kilometer dari Kota Ungaran juga akan ramai menjadi wisata religi.

Sebelum mencapai tempat di dataran tinggi ini, kanan kiri jalan terhampar pepohonan hijau termasuk kebun kopi. (Rony Yuwono-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA