logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 21 Mei 2007 SEMARANG
Line

SLB Berharap Dapat Bantuan Sarana Sekolah

DEMAK - Sekretaris Yayasan Pendidikan Luar Biasa (Yaspenlub) Demak H Sayoto Budiharsono mengemukakan, sebagian besar anak yang mengalami cacat fisik belum mengenyam pendidikan.

Dari 247 desa di Kota Wali, hampir di semua wilayah sedikitnya ada 10 anak cacat. Itu berarti, tidak kurang dari 2.470 anak mengalami kecacatan. Dalam catatannya, dari jumlah sebanyak itu yang mengecam pendidikan di sekolah luar biasa tidak lebih dari 200 orang.

Sedikitnya anak cacat yang bisa mengenyam pendidikan disebabkan oleh faktor kemiskinan. Sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga miskin. ''Karena kondisi demikian, pada 1976 kami tergerak mendirikan sekolah luar biasa (SLB),'' kata bapak enam anak berusia 73 tahun itu.

Di sekolah yang ia dirikan di atas tanah seluas 1.000 meter persegi, memiliki 105 siswa. Mereka terbagi dalam dua klasifikasi, yakni SLB B untuk siswa tunarungu (gangguan pendengaran) dan SLB C untuk tunagrahita (intelegensia di bawah normal). Untuk memberikan pendidikan kepada mereka, sekolah memiliki 20 guru. Yakni, 10 PNS, tujuh pengajar guru bantu, dan tiga pengajar wiyata bakti.

Mandiri

Tujuan pendidikan pada anak cacat, kata Kepala SLB C Ruslan SPd dan Kepala SLB B Muhammad Ridwan BA, mendorong mereka agar bisa hidup mandiri. Bukan hanya kemandirian dalam kaitan makan minum, mandi, dan berpakaian, akan tetapi juga kemandirian menjalani hidup bermasyarakat. Karena itu, diajarkan berbagai keterampilan, seperti menjahit dan membuat taplak.

Ke depan, ada keinginan untuk mendidik keterampilan otomotif hingga teknologi informasi. ''Namun, masih terkendala alat-alat kelengkapan. Kami berharap Pemkab maupun Pemprov memberi bantuan untuk sarana prasarana itu,'' harapnya.

Anak-anak di SLB, imbuh Ridwan, sering melontarkan keinginan untuk hidup mandiri. Keinginan mereka semakin memacu para tenaga pendidik untuk membantu agar para siswa siap berkompetisi. ''Hanya saja, kami terkadang tak dapat berbuang banyak, karena keterbatasan sarana. Kami akhirnya harus berkreasi sendiri. Yang terpenting membawa mereka memiliki mental berani mandiri.''

Sekolah yang telah meluluskan 42 siswa itu berharap agar perusahaan dapat menerima mereka sebagai tenaga kerja. (H1-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA