| Senin, 21 Mei 2007 | KEDU & DIY |
Belajar Bersama Gempa dalam ArsipYOGYAKARTA - Dampak gempa 27 Mei tahun lalu ternyata tidak meninggalkan puing belaka. Namun menyisakan juga beberapa arsip berupa foto dan video yang menggambarkan betapa kejadian itu begitu dasyat. Arsip tersebut diperkenalkan kepada publik pada acara Peluncuran Arsip Visual dengan tema ''Belajar Bersama Gempa'' baru-baru ini. Acara yang digagas oleh Rumah Sinema dan didanai oleh Hivos, berlangsung singkat dan sederhana di University Center UGM. Foto-foto dan video tentang dua keluarga korban gempa, disusun apik oleh Rumah Sinema menjadi sebuah video dan buku yang diberi judul ''Hidup Bersama Gempa''. Tidak untuk meratapi nasib, melainkan hanya ingin melihat kembali sebuah sejarah yang mengingatkan semua pihak bahwa kejadian itu pernah ada. Arsip, menurut Yudhi Soerjoatmotjo, seorang fotografer sekaligus pembicara dalam acara itu, harus diperlakukan sebagai barang hidup. Bahkan harus bisa diakses kapan saja dan di mana saja serta oleh siapa pun. ''Jangan jadikan arsip sebagai barang langka yang hanya disimpan di gudang. Itu dibuat agar bisa diakses, dinikmati oleh orang banyak, dan bisa memberikan informasi tentang sejarah yang pernah terjadi,'' paparnya. Ciri Khas Dia menyarankan kejadian yang menarik dibuat sebagai arsip dengan ciri khas tersendiri. Akan semakin menarik kalau dikelola secara profesional dan tidak asal-asalan. Foto-foto atau film yang dikemas sebagai arsip memerlukan perhatian, perawatan, dan pengelolaan yang baik. ''Buatlah arsip seunik mungkin, memiliki ciri khas tersendiri dan dikelola secara profesional, namun perlu dipikirkan juga segi bisnisnya dan biayanya karena arsip memerlukan perhatian, perawatan, dan pengelolaan yang rumit. Tanpa adanya biaya yang memadai, maka mustahil sebuah arsip bisa dirawat dan dikelola dengan baik,'' paparnya. Sebuah arsip, imbuhnya, mungkin hanya benda mati yang tidak berarti apa-apa bagi sebagian orang. Namun juga memiliki arti yang sangat penting bagi sebagian orang lainnya. Peluncuran arsip visual gempa 27 Mei 2006 ini diharapkan mampu memberi gambaran lain tentang pentingnya sebuah data sejarah. (D19-70) |