| Senin, 21 Mei 2007 | KEDU & DIY |
''Kita Harus Belajar Syahadat...''''Yang di atas ubun-ubun kalian itu azimat apa ideologi apa pengembaraan apa benua apa, gunung apa, lautan apa...........saya tahu,'' kata Joko Kamto. ''Apa...apa...apa!'' tanya Seteng. ''Saya tahu! Saya tahu! Saya tahu!. Tapi, maaf-maaf belajar syahadat dahulu. Belajar syahadat dahulu...Belajar syahadat dahulu...Belajar syahadat dahulu...,'' jawab Joko Kamto. Sekelumit dialog pementasan Kiai Kanjeng dan Emha Ainun Nadjib pada pengajian Padang Bulan yang digelar di halaman Taman Kanak-kanak (TK) Alhamdullilah, Desa Kasihan, Kabupaten Bantul, kemarin malam, betul-betul menghibur ribuan umat yang sengaja datang dari berbagai daerah sekadar untuk menyaksikan pergelaran Kiai Kanjeng dan Cak Nun, panggilan akrab budayawan muda Emha Ainun Nadjib. Mereka datang dari Klaten, Solo, Magelang, Wonosobo, Temanggung, Purworejo, Ungaran dan bahkan Semarang dan Kendal. Tampaknya, dalam pengajian dan pergelaran Kiai Kanjeng tersebut, Cak Nun ingin memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi manusia baik sebagai mahluk sosial maupun hamba Allah. Terbukti, dalam pementasan Kiai Kanjeng lebih banyak menyodorkan dialog-dialog yang sangat bermakna bagi manusia. Dalam pengajian dan pementasan ini, mereka tidak sekadar memainkan musik. Namun lebih dari itu, setiap melantunkan sebuah lagu selalu diselingi dialog-dialog yang sarat dengan filosofi kehidupan, meski kadang-kadang menyentil kondisi politik yang terjadi saat ini. Semua itu meluncur transparan dan kadang lucu, sehingga enak didengar telinga. Menarik Didengarkan Seperti yang dilontarkan Seteng (salah satu personel Kiai Kanjeng), ''Mas! Mas! Mas!....Belajar syahadat bagaimana? Dunia sudah berkembang sampai bumi nyundul langit...Peradaban sudah sampai ke quanta, quark, femot....Indonesia sudah hampir sampai ke puncak teknologi penderitaan.....Kok disuruh belajar syahadat lagi,'' ujar Seteng dengan nada tanya kepada Joko Kamto (juga salah satu personel Kiai Kanjeng). Kalimat inilah pelan-pelan membuka kegalauan pikiran para penonton yang yang sejak semula bingung, ke arah mana yang ingin disampaikan Kiai Kanjeng. Dari sajian yang disampaikan Kiai Kanjeng dan Cak Nun ini, membuat ribuan penonton terpaku ingin tahu lebih dalam lagi pesan apa yang akan disampaikan. Dalam pengajian yang digelar sebulan sekali ini Cak Nun selalu tampil untuk memberikan sesuatu yang indah baik soal politik, budaya, sosial maupun hukum dan sebagainya. Wajar apabila pengajian padang bulan ini selalu dipadati umat. Yang menarik dari pengajian ini, tidak ada kesenjangan sosial artinya. Baik kaya, miskin, pejabat maupun masyarakat kecil derajatnya sama. Yang membedakan adalah ketaatannya dalam menjalani keyakinannya. Kondisi inilah yang membuat pengajiannya menarik untuk didengarkan dan diresapi, sebagai penambah wawasan dalam mengarungi jagat raya kehidupan. Sebab hidup memang tidak harus dipikirkan, tapi dijalani. (Sugiarto-70) |