logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 21 Mei 2007 KEDU & DIY
Line

Melatih Anak Mengenal Makanan Tradisional

  • Oleh: Agung PW

BEBERAPA dekade terakhir ini terpaan produk asing menyerbu Indonesia. Tak hanya di wilayah perkotaan namun juga sampai ke pelosok. Lihat saja di pinggir pantai atau nun jauh di atas pegunungan, ada saja makanan instan ala Barat. Begitu hebatnya terpaan tersebut, anak-anak nyaris tak mengenal makanan dari Tanah Air-nya sendiri.

Keprihatinan itulah yang membuat SOS Desa Taruna Indonesia mengajak anak-anak TK Lempuyangwangi melihat dari dekat proses pembuatan makanan tradisional, tempe.

Mereka tak sekadar melihat tapi juga belajar mengenal bahan-bahan pembuat tempe. Bahkan anak-anak boleh bermain di sana agar lebih bisa berfantasi tentang apa dan bagaimana tempe dibuat.

''Tempe merupakan makanan yang murah meriah namun sangat kaya protein. Itu dibutuhkan oleh anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang,'' ungkap Koordinator Family Strengthening Program SOS Desa Taruna Indonesia-DIY Martanti Endah Lestari di sela-sela kunjungannya ke pabrik tempe Pedro bersama anak-anak TK Lempuyangwangi.

Makanan tradisional tersebut bisa jadi sudah kalah populer di mata anak-anak dibandingkan dengan produk asing yang sering muncul di iklan televisi.

Tidak menutup kemungkinan orang tua mereka juga lebih suka memberi makanan instan, padahal sebenarnya tidak diperlukan oleh anak-anak seusia mereka.

''Diperlukan bimbingan, dorongan pada anak-anak agar lebih mengenal makanan dalam negeri yang sehat dan tak kalah lezatnya dengan makanan asing,'' tandasnya.

Museum

Selain mengenalkan bocah-bocah balita itu pada proses pembuatan tempe, dia juga mengajak mereka ke Museum TNI Angkatan Udara di Kompleks Bandara Adisucipto. Jalan-jalan ke sana merupakan rangkaian program pendampingan anak yang setahun lalu terkena bencana gempa.

Kendati pada saat kejadian berlangsung usianya masih balita, namun mereka sudah bisa merasakan dan melihat bagaimana kondisi saat itu. Anak-anak mempunyai kemampuan merekam sangat kuat sehingga mereka juga menyimpan peristiwa demi peristiwa, apalagi yang besar ke dalam memorinya.

''Dolan ke museum dari sisi psikis dapat menyingkirkan pikiran anak-anak tentang kejadian mengerikan setahun lalu dan mengalihkannya dengan menambah perbendaharaan memori. Mereka bisa melihat dari dekat benda-benda kedirgantaraan yang selama ini tak terbayangkan,'' papar Martanti yang sejak gempa 27 Mei 2006 lalu terus mendampingi anak-anak.

Museum dengan segala isinya bisa memunculkan perubahan imajinasi dari yang semula fantasi ke realitas. Bertambahnya pengalaman mereka akan membuat konsep dalam pikiran anak-anak berkembang.

Namun perlu bimbingan yang jelas agar konsep yang tertanam dalam memori kelak dapat berkembang positif. (70)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA