| Senin, 21 Mei 2007 | INTERNASIONAL |
Israel Ancam Serangan Lebih Gencar di GazaJERUSALEM - Perdana Menteri Israel Ehud Olmert Minggu kemarin mengancam akan mengerahkan operasi militer lebih keras di Jalur Gaza kalau Hamas tidak menghentikan serangan roket ke Israel selatan. ''Apabila tindakan yang kami tempuh sekarang ini tidak membuat serangan reda, kami akan terpaksa mengintensifkan operasi,'' kata Olmert saat sidang kabinet. Gempuran udara Israel telah menewaskan tiga orang militan Hamas. Gempuran itu sekaligus untuk mendesak kelompok berkuasa Palestina menghentikan serangan-serangan roket. Namun, sumber-sumber di pemerintahan Israel mengatakan negara itu kecil kemungkinan akan menggelar operasi darat skala besar. Hamas menuduh Israel menggelar serangan itu untuk membantu kelompok Fatah. Sedikitnya 49 warga Palestina tewas dalam pertempuran antara faksi Fatah dan Hamas sejak bentrokan pecah beberapa pekan lalu. Serangan bom Israel terhadap Hamas menelan korban sedikitnya 21 orang Palestina tewas, termasuk di antaranya lima warga sipil. Menurut Olmert, Hamas telah menembakkan lebih dari 120 roket dari Gaza sejak Rabu lalu. Dia menambahkan, puluhan militan Hamas tewas akibat gempuran Israel selama beberapa hari ini. Berdampak Serius ''Hamas membayar mahal atas serangan mereka terhadap warga Sderot dan sekitarnya,'' kata dia. Belum ada tanggapan dari Hamas atas pernyataan Olmert. Roket-roket yang ditembakkan ke Israel selatan menimbulkan korban cedera namun tidak ada korban tewas di Kota Sderot dan daerah di sekitarnya. Menteri Pertahanan Israel Amir Peretz mengatakan, konfrontasi dengan Hamas masih akan berlanjut. Negara Yahudi itu mengerahkan armada tank, kendaraan lapis baja dan pasukan Angkatan Darat ke wilayah di perbatasan Gaza. Pengerahan tersebut memicu kekhawatiran bakal terjadi operasi serangan besar-besaran. ''Kami mengevaluasi situasi setiap beberapa jam. Berdasarkan pantauan itu, kami memutuskan cara kami akan melanjutkan operasi itu,'' kata Peretz. Di lingkup pemerintaha, Olmert saat ini menghadapi tekanan untuk menghentikan serangan roket itu tanpa harus terseret ke dalam konflik yang lebih besar dan menelan banyak korban. Dia juga didesak mundur atas kegagalannya menangani perang Lebanon tahun lalu. Dia juga sadar bahwa aksi militer besar-besaran di Haza bakal berdampak serius pada arah pertarungan kekuasaan antara Fatah dan Hamas. Tidak seperti kelompok Fatah pimpinan Presiden Mahmud Abbas, kelompok Hamas tidak mengakui keberadaan Israel.(rtr-gn-25) |