| Senin, 21 Mei 2007 | EKONOMI |
121 Tahun Coca-Cola (1)Konsumen Terbesar Kawula MudaProduk Coca-Cola, tidak saja telah menyebar di 200 negara. Bahkan memasuki usia ke-121, The Coca-Cola Company (TCCC) tetap menjadi produsen minuman terbesar di dunia. Untuk mengetahui perkembangannya, wartawan Suara Merdeka Rony Yuwono yang mengikuti kegiatan Media Gathering di Denpasar, Bali, baru-baru ini, menurunkan laporannya secara berseri. JOHN S Pemberton, seorang ahli farmasi dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, mungkin tidak mengira produk minuman bergelembung (sparkling beverages) yang ditemukannya, kini mencapai ratusan jenis. Minuman Coca-Cola ini ditemukan tahun 1886, dan kini minuman berkarbonasi ini, ada di sedikitnya 200 negara di dunia. "Awalnya produk ini dipasarkan terbatas dalam bentuk sirup. Namun kini Coca-Cola menjadi salah satu produk minuman paling digemari di dunia. Bahkan The Coca-Cola Company (TCCC) menjadi produsen minuman terbesar di dunia," kata Titi Sadarini, Corporate Affairs Director Coca-Cola Indonesia (CCI). Dia menjelaskan, dalam perkembangannya terdapat 2.400 jenis produk Coca-Cola yang dipasarkan di 200 negara. Dikonsumsi sebanyak 1,4 miliar porsi saji per hari dari awalnya hanya 9 porsi saji per hari. Saat ini, TCCC memiliki lebih dari 400 merek minuman di bawah bendera Coca-Cola yang terdiri atas sparkling beverages (minuman dengan gelembung soda) dan still beverages (minuman tidak bergelembung soda). Produk Coca-Cola diperkenalkan di Indonesia sejak 1927 dan dibotolkan secara lokal sejak 1932. "Coca-Cola kini memiliki 800 pabrik pembotolan di seluruh dunia, bekerja sama dengan 300 partner usaha pembotolan," katanya. Ia menerangkan, dari 800 pabrik bottling itu, jumlah karyawan tahun 2005 mencapai 70.000 orang di seluruh dunia. Pada 2005, Coca-Cola menduduki tempat pertama dalam penjualan katagori sparkling beverage, jus dan minuman jus, peringkat kedua untuk katagori minuman sport, dan ketiga katagori air minum dalam kemasan. Untuk Obat Dengan menduduki tempat pertama dunia untuk katagori sparkling beverages, Coca-Cola tentu digemari di Indonesia. Bahkan minuman ini sering dimanfaatkan untuk pengobatan. Sebagian orang desa sering mengonsumsi Sprite atau Coca-Cola jika mendadak masuk angin. Efek nyess yang kadang membuat senyawa ini dipercaya menghilangkan masuk angin. "Seorang tabib di Jabar pernah menelpon kami, dan minta dikirim minuman Sprite dalam jumlah banyak untuk pengobatan massal. Produk kami bukan untuk obat, tapi memang aman dikonsumsi orang," jelas Arif Mujahidin, Media Relations Manager CCI. Mengenai proses dan efek minuman berkarbonasi ini, Rhadeya Setiawan, SRA and Product Commercialization Mananger CCI, menjelaskan secara rinci. Menurut dia, karbonasi atau sparkling dalam soft drink dibuat dengan memasukkan gas CO2 ke dalam air. Dia mengatakan, selain menimbulkan sensory effect nyess, karbonasi dapat berfungsi sebagai penghambat bertumbuhnya bakteri dan mikroba. "Karbonasi dalam minuman ini dinyatakan aman dan disetujui oleh regulasi di berbagai negara," katanya. Selain itu, berdasar data, pada 1994, US National Institute of Health (NIH) menghimpun ahli dari berbagai bidang, seperti Osteoporosis, tulang dan kesehatan gigi untuk mengkaji pengaruh kandungan fosfat dalam minuman berkarbonasi terhadap penyerapan kalsium. Para ahli menyimpulkan tidak ada bukti yang signifikan dan bukan merupakan faktor penting penyerapan kalsium akan terganggu. "Perkumpulan ahli bedah USA menambahkan, selama angka kecukupan gizi (AKG) kalsium dapat dipenuhi, tidak ada efek untuk mengonsumsi minuman berkarbonasi," terangnya. Sementara itu, efek nyess Coca-Cola telah menjadi sensasi tersendiri bagi kalangan muda belia. Coca-Cola berupaya mengeluarkan produk baru yang menarik minat kawula muda. Pada 2006, CCI berhasil meluncurkan varian baru berupa Fanta Apple. Untuk mengulang kesuksesan itu, tahun 2007 CCI meluncurkan Fanta Grape atau Fanta Rasa Anggur yang dikemas di botol berbentuk artistik. "Peluncuran Fanta rasa baru ini sejalan dengan strategi agar senantiasa dekat dengan konsumen remaja, yang selalu tergelitik untuk mencoba hal-hal baru," kata Bobby Benarto Suadi, Senior Brand Manager Fanta, PT Coca-Cola Indonesia. Ia membenarkan, konsumen terbesar Fanta adalah kelompok usia muda yang antusias mencoba hal-hal baru. Untuk kepentingan iklan, sejak tahun lalu, Fanta mengusung tema komunikasi yang menggambarkan mata pelajaran sains bisa menjadi sesuatu yang fun dan menarik. "Iklan yang baru Fanta Anggur ini juga bertema pendidikan, khususnya sejarah Romawi," terangnya. (33) |