logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 21 Mei 2007 BUDAYA
Line

SPOT

Rating Fiktif

  • Oleh Mulyo Widodo

SELAMA ini kebanyakan orang memercayai tinggi-rendah rating adalah tolok ukur sebuah tayangan televisi bermutu atau tidak, diterima atau ditolak masyarakat. Alasannya sederhana, yakni rating menunjukkan banyak atau sedikit pemirsa tayangan itu.

Tayangan televisi berating tinggi karena ditonton banyak orang. Mereka rela meluangkan waktu berjam-jam di depan layar kaca karena hati mereka sudah tercuri. Tentu cuma tayangan yang bisa diterima dan bermutu yang bisa merebut hati pemirsa. Bukankah begitu?

Namun sekarang sering muncul kenyataan yang sangat berbeda. Misalnya, ketika ngetren sinetron religi semacam Rahasia Ilahi, semua stasiun televisi menayangkan sinetron sejenis. Karena, menurut mereka, sinetron itu berating tinggi.

Namun banyak kritik bertebaran. Ya, sinetron-sinetron itu dinilai sangat tak mendidik dan kurang (jika tak mau disebut tidak) bermutu.

Apa yang salah dengan rating televisi? Itulah yang merepotkan. Sering kita mencintai bukan karena sesuatu itu layak dicintai, melainkan karena kita terpaksa mencintai. Kita menonton suatu tayangan bukan karena tayangan itu layak tonton. Melainkan, terpaksa menonton karena tak ada pilihan lain yang bisa kita tonton.

Maklum, mayoritas penikmat televisi adalah masyarakat kelas menengah ke bawah. Di tengah kondisi serbasulit sekarang ini, cuma tayangan televisi yang benar-benar gratis yang bisa dengan mudah mereka akses dan nikmati. Berbeda dari kelompok masyarakat berada yang dengan mudah menikmati tayangan televisi kabel, bertamasya ke ujung dunia, berselancar di dunia maya, atau dugem hingga pagi di diskotek.

Bisa dikatakan rating televisi, meminjam istilah orang pintar, adalah rating fiktif. Seolah-olah ada, padahal tak ada. Ia ada bukan karena selayaknya ada. Ia ada karena terpaksa ada. Ia lahir dari rahim keterpaksaan, sehingga kesesuaian dengan mutu tayangan sangat meragukan.

Banyak tayangan diklaim berating tinggi, tetapi kurang bermutu dan kurang berbobot. Itu ibarat junk food, yang meski tak bergizi, tetap dan selalu diburu dan digemari. Karena itulah tak perlu heran jika keluaran yang dihasilkan adalah generasi muda yang berbudaya serba-instan, berdedikasi rendah, dan sakit-sakitan.

Saya berharap, siapa pun yang bersentuhan langsung dengan dunia pertelevisian menghasilkan tontonan yang bukan sekadar tontonan. Namun, tontonan sekaligus tuntunan yang cerdas dan mencerahkan. Jika tidak, sebagai manusia yang berbudaya, jangan-jangan keberadaan kita pun fiktif dan perlu dipertanyakan. (53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA