| Senin, 21 Mei 2007 | BUDAYA |
Persembahan bagi sang Maestro (2-Habis)Menggugat Pakem yang Kian SamarDALAM buku Pakeliran Pujosumarto, Nartosabdo dan Pakeliran Dekade 1996-2001 terungkap betapa Ki Narto tak begitu saja menjadi maestro. Pada awal karier, dia juga dicela saat mengubah pakeliran yang berkiblat ke keraton menjadi pakeliran gaya baru. Pada pergelaran "Persembahan untuk Ki Nartosabdo", semangat pembaharuan itu juga terdedahkan. Terutama, ketika Ki Manteb melanjutkan babaran Brajadenta Mbalela dengan lakon Alap-alapan Sukesi dalam format pakeliran padat selam 90 menit. Saat adegan punakawan, Ki Manteb mempertanyakan pakem. Pakem seolah-olah begitu absolut dalam kehidupan dan perkembangan wayang. Dia pun mempertanyakan apakah istilah itu harus diartikan secara lugas, harfiah, dengan kepatuhan. Ki Narto semula dianggap nyebal dari pakem. Namun sekarang, ujar dia, karya Ki Narto justru menjadi konvensi. "Jika demikian, bagaimana sebenarnya pakem itu? Pasti sulit menjawab karena sejak puluhan tahun lalu hingga sekarang definisi pakem yang pas belum tertemukan," ujar Ki Manteb dalam catur wayang. Aktualitas Jika pengertian pakem harus apa adanya, bagi dia, berkaca pada Ki Narto justru menjadi samar. Sebab, dalam pakeliran versi keraton jelas tak ada penggabungan tiga gaya sekaligus. Atau, dengan karya gending iringan wayang yang sekarang banyak ditemui dalam berbagai pertunjukan. "Dulu, waktu kali pertama saya memperkenalkan drum, juga ditentang. Namun sekarang malah hampir semua dalang menggunakan," katanya. Karena itulah dia menilai pakeliran tetap harus dikinikan jika ingin wayang lestari dan dekat dengan generasi muda. Sebab, aktualitas itulah yang membuat wayang mampu menembus zaman. "Asal jangan kebablasan. Seperti dilakukan guru saya (Ki Narto), pembaruan itu tetap mungguhke rasa kepenake wayang," ujar dia. Itulah antara lain nilai lebih pergelaran wayang yang diselenggarakan Gelar dan Creative Center di GKJ itu. Tentu masih banyak lagi nilai lain jika sepak terjang Ki Narto yang telah melegenda dilacak. Ya, dialah legenda yang tak mati-mati. (Wisnu Kisawa-53) |