| Senin, 21 Mei 2007 | BUDAYA |
Komedi yang Elegan
DARI sekian banyak film baru yang muncul setiap minggu, Mengejar Mas-mas menempatkan diri ke aras tersendiri. Monty Tiwa, sang penulis cerita dan skenario, berhasil menyajikan sebuah kisah komedi romantik yang menghibur. Dan Rudy Soedjarwo yang menjadi eksekutor mengukuhkan diri sebagai sutradara yang makin "jadi". Film 105 menit produksi Depic Production dalam format shoot in HD dan di-bloow up dalam format 35 mm untuk konsumsi layar lebar ini mengalir apik. Keapikan terbangun bukan semata-mata dari cerita yang membumi dan tidak murahan. Juga dari cara penyajian dalam bahasa gambar yang cukup menawan. Rudy menggunakan teknik kamera hand shoulder. Kamera cenderung digotong ke sana-kemari untuk menimbulkan kesan intim dan dibidikkan secara close-up untuk memperoleh kesan dramatis. Itulah yang makin membuat film ini menarik. Syuting dilakukan di Yogyakarta dan sekitarnya. Dukungan original soundtrack berbahasa Jawa, seperti lagu "Ngajogjakarta" dan "Koyo Jambu" Genk Kobra, mengentalkan nunsa komedi film ini. Film yang bakal diedarkan mulai 24 Mei ini bersandar pada cerita bertema sederhana. Itulah persilangan nasib tiga tokoh utama untuk menemukan jati diri masing-masing. Berbahagia Dikisahkan, batin Shanaz (Poppy Sovia) terguncang ketika Ridwan (Roy Marten), sang ayah tercinta, meninggal karena serangan jantung. Hati remaja Shanaz makin panas ketika mengetahui sang ibu, Linda (Ira Wibowo), bakal dilamar kekasihnya, delapan bulan sepeninggal sang ayah. Dengan dalih menyusul pacarnya naik gunung di Jawa Tengah, Shanaz lari ke Yogyakarta. Kepergian itu tanpa sepengetahuan sang ibu. Di Yogya, nasibnya bersiborok dengan Ningsih (Dinna Olivia), perempuan ayu pelacur di Pasar Kembang. Karena tak punya tempat tinggal dan uang, Shanaz menumpang hidup di rumah kos Ningsih sembari menunggu sang pacar turun dari gunung. Dari situlah drama komedi bermula. Parno (Dwi Sasono), lelaki paro baya, pengamen jalanan di Malioboro, jatuh hati kepada Shanaz. Padahal, Ningsih, pacar lama, masih menaruh hati pada Parno. Persinggungan antara kisah Shanaz yang metropolis dan Parno yang ndesa serta Ningsih, sang pelacur, itulah yang menjadi suguhan segar. Dengan penyelesaian elegan, akhirnya ketiga anak manusia itu menemu jalan kehidupan masing-masing. Shanaz kembali ke orang tuanya di Jakarta. Ningsih berhenti melacurkan diri demi cintanya kepada Parno. Parno berhasil melupakan masa lalu yang kelam ketika gempa merenggut orang-orang tercinta. Mereka pun berbahagia. Sutradara menyelesaikan kisah tanpa menjadi guru yang gemar berkata-kata. Pencarian jati diri mereka ternyata bisa dikisahkan lewat komedi romantik yang membuat mata penonton berkaca-kaca. (53) |