logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Mei 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Harapan Hidup

Untuk negara maju harapan dan semangat hidup begitu optimistis karena segala sesuatunya serba mendukung. Faktor manusia, lingkungan, kondisi tertentu dan lainnya sehingga orang memiliki rasa aman dan nyaman. Lain halnya dengan negara berkembang, semangat hidup begitu pesimistis.

Hal ini dipicu faktor alam seperti bencana meski hal ini tidak terlepas dari tindakan/perilaku rakus dan serakah manusia di antaranya penebangan liar, mendirikan bangunan tanpa izin, membuang sampah di sungai. Bahkan sengaja menutup gorong saluran air untuk mendirikan bangunan di atasnya.

Namun yang lebih mengerikan lagi, pemicunya faktor ekonomi yang meningkat begitu tajam dan mencolok hingga membuat orang bernafsu serakah, menghalalkan segala cara. Biaya hidup yang tinggi dan lapangan kerja sempit membuat orang berbuat nekad. Demi sesuap nasi, merelakan harga diri diobral murah.

Kesenjangan sosial yang tajam, membuat orang diri kadang disertai saling membunuh. Untuk kasus bunuh diri termasuk kategori memperhatinkan juga. Hal ini karena kepedulian lingkungan minim, rasa dan hati nurani hilang dan masa bodoh hingga menimbulkan beban mental berkepanjangan.

Tingkat perekonomian yang tidak menentu ini, sering membawa berbagai dampak sosial dalam kehidupan. Di antaranya dampak gizi buruk, moral, pendidikan , kesehatan sehingga membuat kehidupan tidak tenang. Dampak sosial yang sering terjadi, sekelompok anak penjual jasa menyemir sepatu, loper koran, mencuci motor, pemulung.

Rasanya hati nurani sudah hilang, yang ada masa bodoh dan saling mencurigai hanya karena perbedaan status dan kelas. Faktor lingkungan, sangat minim karena hidup di bantaran sungai tidak aman. Juga rasa tanggung jawab menipis terbukti menumpuknya sampah sehingga aliran air terganggu.

Kalau mau jujur dan tanggung jawab, jangan membuang sampah di sungai, karena akan membuat kesulitan dan kerugian kita sendiri. Selain itu maraknya pembangunan mall, berakibat fatal pada lingkungan. Air mencari resapan padahal tempat resapan berubah menjadi bangunan.

Perlu kepedulian sesama yang pada dasarnya menyangkut kepentingan umum. Paling tidak mengurangi kasus yang makin merambah tanpa memandang usia. Selain itu belajar dari lingkungan tentang kepedulian. Tak kalah pentingnya dari sisi agama dengan berbekal iman yang kuat.

Semoga kita bisa memetik hikmahnya , belajar berbenah diri menuju perbaikan. Dari diri sendiri mengembangkan kepedulian secara bertahap. Memberikan motivasi dan semangat pada mereka yang putus asa dalam menghadapi himpitan hidup yang makin mendera.

Sri Tidar

Gubug RT 4/RW 5, Grobogan

Sesak Napas

Industri Padat Karya

Perlindungan pemerintah terhadap eksistensi industri padat karya dirasa masih ada celah. Industri TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) misalnya, sampai sekarang masih di-usreki dengan praktik penyelundupan yang terus meningkat. Modus operandinya makin halus tapi canggih misal melalui impor borongan (gabungan dengan barang lain) atau impor tanpa dokumen serta lewat sewa gudang di negara lain.

Dampak penyelundupan adalah sinonim dengan perang karena sama-sama menimbulkan korban arang. Logikanya, bila setiap penyelundupan berhasil lolos ke pasaran, bukankah hal tersebut menambah pasar makin jenuh? Padahal daya beli melemah. Belum ditambah biaya operasional produksi dalam negeri yang makin tinggi.

Dampaknya, perusahaan akan mengefektifkan dan mengefisienkan pekerjanya alias terjadilah PHK. Padahal industri padat karya adalah industri masal yang membantu pemerintah mengatasi penganggran. Seharusnya di-wet-wet atau diuri-uri mengingat puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu orang menggantungkan hidupnya dari industri tersebut.

Perusahaan tekstil di Bawen misalnya, punya 12,000 karyawan. Bila seorang karyawan memiliki istri dan seorang anak saja, berarti 12.000 x 3 = 36,000 jiwa hidup dari industri TPT tersebut. Padahal anak rata-rata lebih dari 1. Belum kalau harus menanggung orangtua/mertua atau adiknya.

Secara nasional BPS mencatat tahun 2000 penganggur 5,8 juta orang, tahun 2001 naik 8 juta orang, tahun 2002 sebanyak 9,1 juta orang, tahun 2003 menjadi 9,5 juta orang. Tahun 2004 penganggur 10,3 juta orang, tahun 2005 naik lagi jadi 10,8 juta orang.

Disnakertrans Prov Jateng memprediksi jumlah penganggur dari 2004 sampai 2008 meningkat rata-rata hampir 3 % atau 28,352 orang/tahun. Akankah akan menambah terus jumlah penganggur dengan membiarkan industri padat karya sesak napas?.

NoorRofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran

***

Apa Kewajiban

Pengelola Jalan ?

Sebagai orang awam, saya ingin menanyakan apakah tidak ada peraturan yang menyebutkan syarat jalan harus disertai drainase (saluran pembuangan air) di sepanjang jalan tersebut. Kenyataan, banyak jalan raya penghubung provinsi yang tidak dilengkapi drainase di sepanjang jalan itu apalagi jalan dengan kelas di bawahnya.

Di samping itu dengan banyaknya pembangunan proyek pusat maupun daerah yang kendaraan pengangkutan materialnya melebihi kelas kemampuan jalan, menjadikan jalan rusak dan dibiarkan begitu saja. Padahal proyek sudah diresmikan hingga merepotkan masyarakat pengguna jalan.

Pertanyaan saya, apakah dalam perjanjian pelaksanaan proyek tidak ada ketentuan siapa yang bertanggung jawab bila jalan yang dilewati kendaraan terkait menjadi rusak. Karena bila perbaikan jalan hanya menunggu APBD/APBN berarti pelaksanaan proyek merugikan masyarakat secara keseluruhan.

Sementara keuntungan hanya dinikmati para pemenang tender dan mungkin oknum pejabat yang terkait. Usul, setiap ada proyek pembangunan apapun bentuknya yang mengakibatkan kerusakan jalan harus menjadi tanggung jawab pelaksana proyek. Kalau terjadi kerusakan meski kecil harus segera diperbaiki agar tidak merugikan masyarakat pemakai jalan.

Muhamtfad Maftuh

Menganti RT 4/RW 1, Cilacap

***

Kisah Orang Pintar

dan Lelaki Pemberani

Masyarakat makin sering disuguhi berita yang isinya berkaitan dengan adu pintar di antara orang pintar. Tahun 1991 untuk keperluan kerja harus mengurus surat berkelakuan baik. Bahkan surat keterangan tidak tersangkut G30S/PKI, walau pada saat kejadian saya baru berusia 4 tahun.

Di media kita dikejutkan praja senior menganiaya adik kelasnya hingga meninggal tapi tetap bisa lulus pendidikan, walau sudah ditetapkan oleh Mahkamah Agung untuk menjalani hukuman. Mereka dapat surat rekomendasi rektor untuk bekerja di perbagai instansi pemerintah. Dari menjadi PNS hingga ajudan wali kota. Selalu ada dalih pintar sebagai pembenar.

Ada pendidik sekelas rektor dan dekan yang dengan pintarnya memberikan keterangan bertentanggan dengan fakta atas kematian siswanya. Tak tanggung-tanggung, seolah tidak cukup menunjukkan gelar dan jabatan. Agama pun digunakan untuk lebih menyakinkan publik.

Kisah lain, di media bicara biaca kesejahteraan rakyat. namun tak kunjung beres menyelesaikan permasalahan lumpur yang berdampak kesengsaraan rakyat. Sama-sama sering muncul di media, orang "pintar" tersebut belum layak disandingkan dengan Reinald Kasali.

Di sisi berbeda, ada kisah maki pemberani.tanpa tatto,tidak banyak bicara dan tak punya backing, bahkan ada yang harus rela dikucilkan di lingkungannya dan diintimidasi. Mereka berprestasi, berdedikasi dan berhawa numni. Lelaki pemberani ini patut dihargai. Inu Kencana pantas disandingkan dengan Chris John dan Mbah Maridjan.

Purnomo Iman Santoso (E1)

Villa Aster II Blok G/10, Semarang

***

Gangguan Mata

Saya beranak dua, yang pertama sudah bekerja dan kedua kuliah di komputer informatika. Saya salesman yang penghasilannya tidak menentu, berusia 60 tahun dan tinggal di rumah kontrakan di Jl Jatimulyo TR I/ 808 RT 12/RW 3 Kelurahan Kricak Tegalrejo Yogyakarta. Sekitar 3 bulan lalu saya sakit mendadak hingga penglihatan jadi kabur serta ingatan terganggu.

Hal ini menyebabkan sering lupa dan keliru. Sudah berusaha berobat ke mana-mana tapi belum membuahkan hasil. Terakhir dokter mata menganjurkan saya operasi katarak, tapi tidak mungkin saya lakukan karena tidak mampu, apalagi kini nganggur akibat gangguan penglihatan. Mohon bantuan dermawan dan pikiran pembaca yang kebetulan mengalami masalah serupa.

Gunawan (08562861869)

Jatimulyo TR 1/808 Kricak, Yogyakarta

***

Pak Wali, Bacalah

Pak Wali bagaimana sih, bila ada pejabat datang misal saat Pak Gubernur meresmikan Crane 6 dan 7 di pelabuhan Tanjung Emas Semarang beberapa waktu lalu, Jl Mpu Tantular kok bisa kering kerontang selama dua hari. Tetapi setelah itu sampai sekarang banjir/rob lagi sampai 50 cm. Berarti banjir/rob seperti permainan saja, bisa diatur tergantung kebutuhan.

Apa masyarakat tidak butuh kelancaran, karena jalan tersebut juga dibutuhkan masyarakat umum bukan untuk pejabat saja. Kepada Pak Gubernur dan anggota DPRD, jangan diam diri melihat kenyataan tersebut, karena pompanisasi terbukti bisa mengeringkan jalan tersebut.

Pak Wali mohon tindak lanjutnya, karena pompanisasi sudah bisa mengeringkan Jl Mpu.Tantular, hingga seharusnya jalan tersebut sampai seterusnya sudah tidak banjir/rob,

Agus Hidayat

Jl Wonodri Baru 44, Semarang

***

Kecewa Pro XL

Aku koleksi nomor cantik salah satunya XL Jempol 081 7057 8899 dengan masa tenggang 21 April 2007. Tanggal 17 April 2007 pukul 13.00 aku isi pulsa tronik Rp 5.000 (4 x) harga Rp 24.000 di Oke Shop ADA Banyumanik. (bukti terlampir). Tapi aku kecewa karena nornorku sudah hangus, padahal belum waktunya.

Aku komplain ke Oke Shop ADA Banyumanik tapi petugasnya mengatakan sudah terlambat dan uang tidak bisa ditarik kembali. Kok begitu sistemnya ya... Aku bukan mempermasalahkan uangnya, tapi nomor tersebut aku dapatkan dengan susah payah harus inden dulu.

Nomor tersebut sangat berarti bagi aku karena menyimpan banyak kenangan. Maaf karena komplain lewat media dan aku minta keluhan ini ditanggapi, persaingan makin ketat kok malah tidak meningkatkan layanan.

Merfin Danu Tamara

JI Adipati Unus 5 Tembalang, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA