logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Mei 2007 WACANA
Line

Guru Mesti Dicetak Khusus

Ada tren baru dalam dunia pendidikan. Para sarjana ''ilmu murni'' yang menganggur kini ramai-ramai banting setir menjadi guru. Tapi bagaimana kualitasnya? BERPROFESI sebagai guru madrasah kini menjadi angan-angan Ida, alumni program studi (prodi) bahasa Arab di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Yogyakarta. Bekal content pembelajaran, yakni bahasa Arab, sudah dikuasainya. Namun kemampuan mengajar?

Nah, ini yang belum! Makanya, dia mengambil paket mata kuliah keguruan (lazim disebut Akta IV) di sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) di Semarang. Akta IV juga menjadi syarat mendaftar menjadi guru PNS.

Sarjana ''ilmu murni'' yang banting setir menjadi guru merupakan fenomena baru. Biasanya dilakoni sarjana yang bidang ilmunya selaras dengan pelajaran sekolah, misalnya ilmu bahasa (Indonesia, Inggris, Arab), ilmu sosial (ekonomi, akuntansi, sejarah, geografi), dan MIPA (matematika, fisika, biologi, dan kimia).

Fenomena ini menjadi ke-prihatinan Rektor IKIP PGRI Semarang Drs Sulistya MPd. Menurutnya, guru merupakan profesi khusus yang mestinya dicetak secara khusus pula. ''Guru itu ibarat dokter atau perawat yang memerlukan keahlian khusus. Tidak semua orang bisa menjadi guru yang baik, meski menguasai ilmu yang diajarkan,'' ujar ketua umum Asosiasi LPTK Swasta Indonesia itu.

Calon guru, kata dia, idealnya sejak awal kuliah telah berniat dan bercita-cita menjadi guru. Sehingga sejak awal memiliki pola pikir dan sikap menjadi guru. Hal ini sekaligus meluruskan niatnya. Jangan sampai menjadi guru karena menganggur. Sebab guru bukan sekadar profesi, namun juga panggilan jiwa.

Sulistya menyesalkan ke-bijakan pemerintah yang terlalu banyak membuka ''ke-ran'' menjadi guru. Di antara-nya memberikan kesempatan bagi sarjana ilmu murni untuk mengambil beberapa SKS ilmu keguruan, kemudian bisa menjadi guru.

''Apalagi ada perguruan tinggi yang memberi iming-iming, nanti ijazahnya dua: murni dan keguruan. Terkesan mereka hanya mengejar ijazah formal. Sedangkan kompetensi yang amat penting sebagai calon guru justru terabaikan,'' kritiknya.

Empat Kompetensi

Kekhawatiran serupa disampaikan Pembantu Rektor Bidang Akademik IKIP PGRI, Muhdi SH MHum. Itu sebabnya, kampusnya punya komitmen mencetak guru yang berkualitas. ''Ada empat kompetensi utama yang mesti dikuasai guru, yakni pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial,'' jelasnya.

Menurutnya, kompetensi pedagogik terkait dengan kemampuan mengelola pembelajaran, termasuk memahami psikologi perkembangan siswa. Guru harus bisa menumbuhkembangkan semua potensi siswa.

Guru juga mesti mempunyai kompetensi kepribadian yang mantap dan berwibawa, namun tetap arif. Kepribadiannya harus stabil, tidak boleh pemarah, apalagi emosional. Jika syarat itu tak dimiliki, guru cenderung melakukan kekerasan di sekolah seperti yang sering terjadi belakangan ini.

Sedangkan kompetensi profesional mencakup kemampuan menguasai content pembelajaran yang diampunya. Kemudian ditunjang kompetensi sosial, yakni bagaimana guru berkiprah sebagai panutan di masyarakat.

''Nah, keempat kompetensi itu hanya bisa dibentuk di perguruan tinggi, yang memang secara khusus mencetak calon guru,'' ujar Muhdi.

Laboratorium Microteaching

Bekal kepribadian calon guru dapat diperoleh melalui bimbingan dan kebiasaan. ''Kita menerapkan beberapa aturan yang berkesan sepele, tetapi berperan besar membentuk kepribadian calon guru.''

Contohnya? Larangan merokok di lingkungan kampus, kerapian rambut dan pakaian, dan sejenisnya. Pada saat yang sama, mahasiswa terus didorong untuk mengembangkan kreativitasnya, misalnya melalui teater.

Untuk memantapkan komptensi pedagogik, IKIP PGRI membangun Laboratorium Microteaching yang berbasis multimedia. Dalam laboratorium ini, mahasiswa melakukan praktik mengajar di dalam kelas mini, dipantau mahasiswa sejawat, dan guru pembimbing.

''Seluruh gerak-gerik calon guru itu direkam melalui tiga kamera digital. Setelah itu, rekaman diputar di layar lebar dan dievaluasi bersama,'' kata Sulistya.

Kepala UPT Drs Suharyo Msi menambahkan, hasil rekaman juga diberikan kepada mahasiswa yang bersangkutan dalam bentuk compact disc (CD). Melalui metode ini, setiap mahasiswa dapat mengevaluasi cara mengajarnya dari sudut pandang siswa yang diajar.

IKIP PGRI tahun ini membuka sembilan prodi, yakni Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, PGTK, PPKn, Pendidikan Matematika, Biologi, Fisika, Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Jawa, serta Bahasa Inggris. Prodi PGSD (D2) tidak menerima mahasiswa baru, sembari menunggu pembukaan jenjang S1. (Panji Satrio-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA