| Jumat, 18 Mei 2007 | WACANA |
Buku Tunjukkan Karakter Bangsa
BUKU adalah pengusung peradaban. Sejarawan Ceko, Milan Hubl mengatakan, langkah pertama menaklukkan bangsa adalah dengan merusak ingatannya. Musnahkan buku-buku, kebudayaan, dan sejarahnya. Lalu, perintahkan seseorang untuk menulis buku-buku baru, membangun kebudayaan baru, dan menyusun sejarah baru. Tak akan lama, bangsa itu pasti akan lupa pada masa kini dan masa lampaunya. Leluhur bangsa Indonesia juga menciptakan ungkapan fantastik, "membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya adalah buku". Rating Membaca Data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2003 menggambarkan, penduduk Indonesia usia di atas 15 tahun yang membaca koran hanya 55,11%. Yang membaca majalah atau tabloid 29,22%, buku cerita 44,28%, dan buku pengetahuan lainnya 21,07%. Dari tahun 1993, kecenderungan mendapatkan informasi lewat membaca hanya naik sekitar 0,2%, jauh jika dikomparasikan dengan menonton televisi yang kenaikannya mencapai 21,1%. Data BPS tahun 2006 menunjukkan, penduduk Indonesia yang menjadikan baca sebagai sumber informasi baru sekitar 23,5%. Sedangkan yang menonton televisi 85,9%, dan mendengarkan radio 40,3%. Hasil statistik di atas menunjukkan penduduk Indonesia belum mentradisikan baca sebagai sumber utama mengais informasi. Mereka lebih doyan menonton televisi dan atau radio sebagai sumber informasi ketimbang buku atau media baca lain. Laporan Bank Dunia No 16369-IND (Education in Indonesia from Crisis to Recovery), mengutip hasil Vincent Greannary tahun 1998, menyebutkan bahwa tingkat membaca usia kelas VI sekolah dasar di Indonesia hanya mampu meraih skor 51,7 di bawah Filipina (52,6); Thailand (65,1) dan Singapura (74,0). Lebih ironis, data Depdiknas tahun 2004/2005 menunjukkan sekitar 15,5 juta atau 9,2% penduduk dewasa (di atas 15 tahun) bahkan masih belum melek huruf. Mengapa minat baca bangsa kita rendah, bagaimana strategi jitu untuk menumbuhkan minat baca? Primanto Nugroho (2000) dalam penelitian kualitatifnya memaparkan, rendahnya minat baca disebabkan membaca perlu banyak waktu luang. Sementara orang Indonesia waktunya lebih banyak tersita untuk bekerja demi mempertahankan hidup dan meningkatkan kesejahteraan. Barangkali harga buku juga ikut andil menjadi pemicu rendahnya tingkat membaca. Timbul pertanyaan, golongan masyarakat manakah yang memberi kontribusi terbesar rendahnya tingkat membaca , sehingga patut dipersalahkan? Apakah para gila kerja yang tak pernah mau meluangkan waktu untuk membaca? Ataukah penduduk miskin yang tak pernah terbesit untuk membeli buku karena sibuk mencari makan? Ataukah lembaga penerbit yang cenderung profit oriented sehingga mengabaikan peran utama sebagai pencerah bangsa? Atau mungkin pemerintah tak banyak memberikan atensi kepada persoalan ini? Agus M Irkham menulis artikel "Minat Baca Rendah, Siapa Salah?". Dia menuding golongan educated (pelajar, guru, mahasiswa, dosen, dan golongan mapan) adalah pihak yang paling bertanggung jawab untuk menaikkan rating membaca di Indonesia. Menurutnya, golongan ini relatif mampu membeli buku dan memiliki waktu senggang untuk membaca. Kita kurang menyadari bahwa rendahnya minat baca membawa ekses negatif yang tidak kecil. Banyak contoh akibat kurang cintanya masyarakat terhadap buku. Mereka cenderung terpesona dengan budaya pop yang kerap menjerumuskan pada tindakan seperti vandalisme, tawuran, narkoba, dan tindakan lain yang merusak fisik maupun jiwa. Momentum Hari Buku Nasional 17 Mei, tepat kita jadikan titik tolak bangkitnya budaya baca masyarakat Indonesia agar terwujud bangsa yang berperadaban, berkarakter, dan maju. Tak berlebihan jika World Book Day (Hari Buku Sedunia) 23 April lalu mengambil tema "Buku untuk Perubahan". Buku hendaknya bisa menjadi menu, bukan hanya sekadar pengantar tidur. Untuk itu dibutuhkan kerja sama dan komitmen semua pihak; pemerintah, penerbit, dan masyarakat sebagai penikmatnya. Pemerintah harus mampu mendorong dan memfasilitasi kebutuhan buku masyarakat melalui ketersediaan pustaka di perpustakaan daerah, perpustakaan keliling, maupun saung baca atau desa buku. Sedang bagi penerbit, hendaknya misi pencerahan lebih diutamakan daripada misi keuntungan yang melambungkan harga produknya (buku) sehingga sulit dijangkau masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah. Masyarakat juga dituntut kesadaran dan komitmennya untuk menjadikan buku sebagai menu prioritas. (11) --- Ulfah Nurhidayah, pegiat Forum Kajian Lereng Merapi (For KaLeM) Yon-Ty UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penggerak "Kampoeng Baca" |