| Selasa, 15 Mei 2007 | WACANA |
Surat PembacaMoral MasyarakatPada 1996 lalu, Corruption Perceptions Index mendaftar/memasukkan Indonesia ini sebagai negara yang paling banyak praktik korupsinya. Ironis, negara yang mayoritas penduduknya muslim, tetapi tingkat korupsinya tinggi. Padahal Islam mengutuk perbuatan korupsi. Jadi fenomena korupsi sebenarnya sebagai tamparan bagi bangsa. Terlepas dari masalah ekonomi, sebenarnya ada persoalan yang mendasar yaitu moral. Korupsi biasanya berkait dengan birokrasi pemerintahan. Salah satu penyebab, rendahnya gaji pegawai. Sebenarnya gaji pegawai negeri secara ekonomi memang jauh dari cukup. Bayangkan, guru SD dengan tugas/beban banyak, menerima gaji kecil, belum lagi ada potongan. Sebaliknya, gaji di luar sektor pemerintahan cukup tinggi. Pekerja swasta gajinya berlipat dibandingkan pegawai negeri. Di satu sisi, gaji pegawai rendah di sisi lain tuntutan biaya hidup terus membubung tinggi. Hanya ada dua alternatif untuk menambah penghasilannya yaitu mencari obyekan di luar atau korupsi. Masalahnya bagaimana dengan mereka yang tidak punya keahlian di luar. Jalan satu-satunya, dia memanfaatkan kedudukannya. Kalau dia pegawai administrasi, layanan orang yang membutuhkan ya dipersulit agar ada tambahan pemasukan. Di samping masalah moral, mestinya jadi pegawai negeri kan abdi negara. Namanya abdi maka harus disiplin mengabdi. Mestinya tidak dibayar pun harus mau. Tetapi apa rasional, mengharapkan pegawai negeri harus mengabdi, sementara tuntutan hidup terus meningkat. Jadi sekuat-kuatnya moral, nantinya tepaksa runtuh juga. Apalagi jika gaji tidak naik, mungkin akan membesar laku praktik korupsi. Jadi laku korupsi sudah tak merupakan cacat dan perbuatan aib lagi bagi mereka yang duduk dalam pemerintahan. Amar Makruf Purwogondo, Kalinyamat, Jepara Harapan Rakyat Saya sebagai siswa merasa tertekan melihat harga pangan yang makin melonjak. Apalagi harga beras terus naik drastis; diikuti harga lainnya. Saya tidak bisa menyalahkan siapa pun, tapi bapak pejabat jangan terus menyalahkan rakyat kecil. Memang utang negara terlalu banyak, tapi jangan membebankan utang tersebut pada rakyat. Menurut saya cara yang tepat untuk melunasi utang negara adalah dengan menaikkan harga pertamax. Jangan solar karena solar banyak digunakkan oleh rakyat kecil. Cara kedua menaikkan pajak pada kawasan perumahan elite. Apalagi sekarang rakyat kecil sedang dalam musim paceklik. Kondisi ini masih ditambah harga pangan mahal, susah mencari nafkah, banyak nelayan menganggur dan lainnya. Banjir di mana-mana, angin puting beliung dan bencana lain sehingga banyak orang yang kehilangan harta benda dan jiwa. Saya juga tidak setuju terhadap bantuan yang diberikan kepada rakyat kecil seperti JKM, karena akan membuat rakyat menjadi malas. Mereka selalu menunggu bantuan tanpa usaha dan setelah dapat biasanya menghambur-hamburkannya. Sebaiknya bantuan dijadikan modal perusahaan untuk menampung tenaga kerja dari rakyat kecil. Dengan demikian pemerintah untung, rakyat juga dapat pekerjaan. Saya juga tidak setuju terhadap perfilman di negeri ini karena dari dulu sampai sekarang makin tidak mendidik. Sinetron bisanya cuma meniru dari film luar negeri dan isinya hanya bentak-bentakan serta perceraian. Apakah bapak pejabat mau generasi muda nantinya tidak bermoral? Apalagi kalau yang menonton anak kecil, mereka belum bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk dan mana yang boleh dilakukan mana yang tidak. Tolong ubahlah perfilman di Indonesia karena membahayakan bagi anak. Masumi Ananingati Rahayu Siswa SMAN 2, Kendal *** Basmi Flu Burung Saya komplain kepada Menkes soal flu burung. Virus yang satu ini sudah menjalar ke berbagai daerah hingga menyebabkan korban berjatuhan. Pemerintah memang sudah melakukan berbagai cara untuk membasmi, tapi belum juga maksimal. Virus ini menyebar melalui unggas dan yang dilakukan pemerintah baru membasmi unggas yang diduga terinfeksi virus H5N1. Banyak orang yang dirugikan. Di antaranya penjual daging ayam, peternak unggas, penjual burung hias dan sebagainya. Penjual daging ayam merasa omset dagangannya turun, karena orang takut makan ayam. Peternak unggas dan penjual burung hias merasa dirugikan karena hewan piaraan mereka harus dimusnahkan. Pemerintah memang memberikan ganti rugi, tetapi tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan untuk memelihara unggas tersebut. Menurut saya, sebaiknya masyarakat juga mendukung tindakan atau langkah pemerintah dalam membasmi flu burung. Dessy Rakhmawati Siswa SMAN 2, Kendal Inu Manusia Langka Terbongkarnya kasus di IPDN membuka mata lebar-lebar bahwa kondisi pendidikan di negeri ini memang sangat memprihatinkan baik dari segi anggaran maupun sistem yang belum mantap. Hati saya juga menangis karena kampus yang begitu megah ternyata dinodai dengan kekerasan hingga merupakan noda hitam bagi kampus tempat pendidikan calon birokrat. Tapi dari kejadian tersebut kita patut bersyukur masih ada manusia seperti Inu Kencana yang berani menantang untuk membongkar seluruh kasus di kampus ini. Manusia Inu siap dengan segala risiko berani membeberkan semua kejadian dengan data komplet. Manusia seaperti Inu sekarang sukar dicari, yang ada adalah mereka yang mencari kekayaan secara mudah. Saya salut kepada instansi yang melindungi Inu dari segala tekanan. Biarkan manusia Inu bergulir menampilkan kebenaran yang hakiki demi masa depan yang cerah dunia pendidikan. Kalau nanti hasil tim evaluasi menilai IPDN bisa berjalan terus, tidak ada salahnya menunjuk beiau sebagai Rektor IPDN. Barangkali dengan posisinya itu, beliau bisa bergerak menghilangkan mendung di Kota Sumedang dan menjadi cerah lagi pendidikan calon bupati. Parmanto SH MHum Jl Meranti Raya 301, Semarang *** Gejolak Seni Berpolitik Ucapan seperti judul ini disampaikan SBY saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai kritik beberapa politikus. Memang telah ada forum pertemuan yang dihadiri para bekas pejabat antara lain Amien Rais, Tri Soetrisno, Moerdiono, Akbar Tanjung dan lainnya yang menyimpulkan, bangsa ini salah memilih pemimpin. Bahkan ada yang menyarankan SBY jangan lagi ikut pemilihan presiden 2009. Kok aneh ya. Saya justru ingin beliau mencalonkan lagi biar nanti akan terpilih lagi apa tidak. Kalau terpilih lagi, maka penilaian para kritikus tidak benar, tetapi kalau tidak terpilih maka penilaian tersebut benar adanya. Mari cermati perbandingan hasil kepemimpinan SBY + JK dibanding era sebelumnya: - Bidang politik, Aceh aman. Sebelumnya ricuh terus hampir 30 tahun, Papua okey. - Bidang ekonomi, utang IMF lunas sebelumnya belum lunas, Soal impor beras sekarang ada tapi sebelumnya juga ada. Raskin ada, sebelumnya juga ada. Kartu miskin ada, sebelumya tidak ada. Menurut seorang dokter kartu miskin lebih menguntungkan daripada pemegang Askes. Kemudian BBM naik sebelumnya juga pernah terjadi. Ini masalah eksternal bukan internal. Evaluasi Bank Dunia dan IMF, upaya kepemimpinan SBY + JK untuk memberantas kemiskinan yang ekstrem cukup baik. - Bidang Pendidikan, kini ada Biaya Operasional Sekalah (BOS), sebelumya tidak ada - Bidang tenaga kerja, masih ada pengangguran sebelumnya juga ada. - Nasib PNS, kenaikan gaji, sebelumnya juga ada - KPK, diadakan guna mengurangi/memberantas koruptor. Sebelumnya ada aturan tetapi implementasinnya tidak tampak. Kalau bencana alam dan kecelakaan apapun sulit diprediksi. Kita wajib meniru sikap para politikus di Amerika antara lain, saat pemilihan presiden calon Partai Republik dan Demokrat saling hantam mulut. Tapi sesudah salah satu menang, yang kalah memberi salam dan siap membantu. Di negara kita, calon yang kalah tidak mau memberi salam kepada yang menang. Kalau bersatu padu, rukun, kesejahteraan akan segera terwujud. Tetapi kalau saling menghantam, sulit akan mencapai kesejahteraan. Moelyono HP. Banteng Utara VII/1, Semarang *** Majic Jar Yong Ma Belasan tahu saya memakai magic jar merk Yong Ma yang masih disertai penjelasan dalam huruf dan bahasa Mandarin. Karena usia pakai yang sudah terlalu lama, terjadi kerusakan pada bagian penutup seperti tombol pengunci dan engsel yang tidak dapat diperbaiki lagi, namun demikian masih berfungsi baik. Pertengahan tahun lalu, saya membeli magic jar Yong Ma 8800 MG bergaransi dan tertera pula made in Korea sebagai jaminan produk asli. Namun di luar dugaan, nasi pada permukaan, samping dan bagian bawah menjadi kering dan keras (kerak/intip). Yang ingin saya tanyakan, mengapa produk baru itu tidak sebagus dulu. Mungkinkah terlalu panas atau bahan baku lapisan dalamnya yang tidak memenuhi standar mutu. Terus terang kecewa. Mohon tanggapan S Siswanto (0293 365019) Jl Merica II/34 Lembah Hijau, Magelang *** PGKSI Kendal Terima kasih saran Bapak Agus Salik SAg. Kami pengurus PGKSI telah melakukan langkah di antaranya studi banding ke PGKSI Temanggung yang telah mendapat subsidi dari APBD tiap guru Rp 200 ribu/bulan sejak tahun 2003. Demikian juga di Yogyakarta sebesar Rp 600 ribu/bulan. Juga melayangkan permohonan audiensi dengan Ibu Wakil Bupati, ketua DPRD, ketua Bappeda dan kepala Dinas P dan K Kendal, namun hanya Komisi C saja yang telah beraudiensi. Yang lain belum memberi jawaban. Tanggal 10 Maret 2007 mengikuti rakornas di Malang dan tanggal 15 - 16 Mei seluruh anggota PGKSI se-Indonesia akan diterima Wapres dan Komisi X DPR RI. Maka dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, kita jadikan renungan buat para pejabat yang berwenang agar memikirkan guru dan karyawan sekolah swasta yang selama ini dianaktirikan. Padahal sama-sama mencerdaskan anak bangsa. Jabatan adalah amanat, maka jangan diselewengkan. Korupsi nikmat sesaat, sengsara di akhirat. Untuk itu mari rapatkan barisan dan saling bagi informasi, semoga apa yang Sdr harapkan terkabul serta dibukakan pintu hati para anggota Dewan serta pejawat terkait. Harapan, bagi sekolah yang belum menterahkan data aagar segera kirim ke SMK NU Al Hidayah (Bapak Izuddin/KS), kontak person 081390928668, 08122803943, 081325720782, 081325610672. Maftukhin Krajan Kulon RT 1/RW 8 Kaliwungu, Kendal *** Kartu Mentari Dalam persaingan yang makin ketat antaroperator dan fitur yang up to date, saya pengguna kartu Mentari Indosat sejak tahun 2000. Pada 16 Maret 2007 saya mengganti lagu nada sapa I-Ring (Dewa19 - Dewi) dan mendapatkan sms balasan dari operator 808 yang intinya perubahan lagu berhasil secara otamatis dan pulsa terpotong Rp 7.000 + pajak. Tetapi setelah saya cek, lagu nada sapanya tidak ada atau tidak aktif. Setelah 1 minggu tunggu nada sapanya belum juga aktif, saya konfirmasi ke Customer Service (222) dari operator minta maaf sebab layanan nada sapa di kartu saya error dan minta tunggu maksimal 3 x 24 jam agar bisa aktif kembali. Tapi setelah saya tunggu belum juga aktif hingga konfirmasi lagi ke Customer Service. Jawabannya tidak jauh berbeda, diminta nunggu 3 x 24 jam. Untuk kali kesekian (4 kali) saya konfirmasi lagi dan jawabannya pun juga sama. Karena merasa bosen dengan jawaban yang itu-itu saja, saya tanyakan kepastiannya tapi operator tidak berani menjanjikan. Hari berikutnya saya ditelepon Customer Service yang intinya minta maaf dan saya diminta nonaktifkan nada sapa. Setelah dapat sms balasan dari 808 saya diminta untuk daftarkan lagi secara otomatis lagu nada sapa (Dewa19 - Dewi) akan aktif dan untuk biaya regristrasi ditanggung Indosat. Kenyataannya , pulsa saya terpotong untuk biaya regristrasi dan lagu nada sapa yang aktif bukan dari Dewal 9. Demikianlah keluhan saya, semoga Indosat menanggapi dan memperbaiki serta mengisi kekurangan yang ada hingga menjadi yang terbaik. Kiranya Indosat membenahi hal yang merugikan usernya. Muh Ahya Rifqil SE (081668631) Gondosuli RT 1/RW 1 Bulu, Temanggung *** Serangan "Tikus" Binatang pengerat seperti tikus selalu merugikan. Bagi petani, tikus adalah musuh besar, sebab merusak tanaman padi yg mulai menguning. Bagi ibu rumah tangga, tikus binatang pemangsa makanan sisa di dapur yang selalu diburu untuk dilenyapkan. Dalam kehidupan sosial kenegaraan maupun dalam manajemen pemerintahan "tikus" mesti dilenyapkan karena selalu merugikan keuangan negara. Ada "tikus besar" dan ada "tikus kecil". Bila besar maka perangkapnya pun mesti besar, namun kalau kecil cukup pakai "lem tikus". Tinggal kekuatan aparat negara, mampu tidak memberantas serta menghilangkan "tikus" tersebut. Sudah banyak peraturan namun dalam praktik negara ini belum fokus secara total dalam menangkap dan memenjarakan mereka. Masih pandang bulu, tebang pilih dan pilih kasih. Yang berperan justru bukan atas dasar peraturan, namun uang. Dengan uang semua bisa disumpal. Dengan uang bisa saja ada sistem pembungkaman. Dengan uang, semua dapat diatur dan hukum pun dapat dibeli (dinegosiasi). Inikah konsep hukum yang benar. Inikah strategi untuk membungkam aparat peradilan? Negara ini butuh sosok aparat yang super berani serta super gila untuk membumihanguskan pemakan duit rakyat tersebut. Diperlukan aparat dengan nurani melebihi malaikat, demi tegaknya kebenaran hakiki. Harapan, negara ini bebas KKN. Tak ada berbagai pungutan, pungli, uang semir, uang bensin, uang thethek bengek yang akan menguras keuangan negara. Apa bisa?. Wisnu Widjaja Jl Sindoro 1/16 Panggung, Tegal *** Semarang Punya Apa ? Sebagai orang Semarang asli saya bangga dicanangkanya Semarang Pesona Asia (SPA) oleh Bapak Wali Kota. Saya berharap semua warga mendukung karena tanpa dukungan semua pihak program tersebut tidak akan terwujud. Bila SPA berhasil maka Semarang dapat menjadi percontohan buat kota-kota lain untuk program sejenis. Menurut saya salah satu pendukung SPA adalah mewujudkan Semarang menjadi benar-benar Kota ATLAS. Saya hanya dapat memberikan saran di antaranya agar ada pnambahan rambu lalu intas dan papan petunjuk arah. Walau hal itu sudah ada tetapi jumlahnya masih kurang. Banyak pertigaan atau perempatan jalan yang belum terpasang papan petunjuk arah. Kalau toh sudah terpasang, sering ukurannya kecil dan banyak pula yang tertutup pohon pelindung. Ada pula papan petunjuk arah yang ditempatkan persis di pertigaan atau di perempatan jalan sehingga pengguna sering gendadapan atau kebablasan saat akan berbelok. Juga perlu menciptakan tempat/cinderamata khusus yang menjadi ciri khas Kota Semarang akan menjadi tujuan wisatawan domestik maupun mancanegara. Solo punya Pasar Klewer dengan grosir batiknya, Jogya punya Malioboro dengan cideramatanya, Pekalongan punya Setono dengan grosir batiknya, Sidoarjo (Tanggulangin) dengan grosir kerajinan kulitnya. Apa yang saya lihat, Semarang baru punya obyek kunjungan misal Kota Lama yang belum dilengkapi tempat kunjungan yang lain untuk dinikmati. Mereka hanya menyaksikan bangunan lama (peninggalan zaman Belanda). Itupun keadaannya sangat memprihatinkan. Kemudian ada Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang termegah di daerah ini. Rasanya perlu menambah tempat hiburan atau rekreasi yang layak kunjung serta penataan ulang/penertiban papan reklame dan sejenisnya serta PKL. Tapi mereka jangan hanya digusur namun dicarikan solusi terbaiknya. Juga kelayakan sarana dan prasarana transpotasi (jalan, terminal) serta mengatasi rob/banjir. Masih banyak yang harus dibenahi. Agoes Riwayanto C Jl Ngesrep Timur I/25, Semarang |