| Selasa, 15 Mei 2007 | WACANA |
Dicari Infotainment yang Mendidik
HEBOH,itulah kata yang tepat untuk memberikan identitas diri dari infotainmentkita akhir-akhir ini. Acara yang ditampilkan selalu hot dan terkini serta sulit dibedakan antara fakta atau hanya gosip. Bahkan cenderung menonjolkan unsur hiperbolis dari suatu peristiwa tanpa mengenal aspek privacy pihak yang terkait. Yang lebih parah, adanya penarikan kesimpulan hanya berdasarkan gejala yang tak jelas kebenarannya, dan hal itu berhasil membentuk opini masyarakat yang sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya. Akibatnya, masyarakat dengan mudah memvonis tokoh figur tertentu jelek, atau tokoh tertentu salah. Inilah yang disebut penghakiman masyarakat tanpa adanya pembelaan dan klarifikasi. Sungguh mengerikan? Namun di sisi lain, pihak yang masuk dalam pemberitaan infotainment justru senang "bermain-main api" bahkan justru menggunakan kontroversi dirinya sebagai sarana untuk mendongkrak kepopuleran. Banyak artis populer dan mendapat tawaran kerja setelah dirinya hot di infotainment. Proses Pendidikan Publik Salah satu golongan umat Islam (NU) mengkritik acara infotainment yang dianggap telah kebablasan dan terlalu turut campur urusan pribadi, sementara nilai etika sosial terabaikan. Secara tegas NU menolak acara tersebut dalam titik bidik isi acaranya. Itu artinya, acara seperti itu boleh-boleh saja asalkan isinya menghargai privacy dan etika sosial. Jika tidak memperhatikan unsur tersebut, bisa terjebak pada tindakan fitnah yang merupakan dosa dalam agama. Hampir semua saluran televisi memiliki acara-acara infotainment Dari semua acara infotainment yang ada, mayoritas memberitakan kasus yang menimpa para artis seperti perceraian, kecelakaan, putus cinta, perselingkuhan, porno, perebutan harta pasca perceraian, perebutan anak, masalah manajemen, narkoba, dan masih banyak lagi. Yang jelas, tampak sekali mencolok adalah pemberitaan yang ada bernada negatif. Lalu bagaimana berita-berita positif? Misal, keluarga artis yang bahagia, artis yang taat agama, artis yang bergerak dalam bidang sosial atau pendidikan. Berita-berita semacam itu sangat sedikit atau mungkin kurang menarik bagi masyrakat dan itu dapat menurunkan rating acara dan sekaligus pamor saluran televisi tertentu. Melihat kenyataan seperti ini, satu pertanyaan mendasar "Apa fungsi infotainment untuk kemajuan bangsa ini?". Sebagai perusak moral bangsakah dengan membiasakan masyarakat kita menonton dan menerima tayangan yang kurang beretika? Harus diakui, tontotanan itu akan sangat mempengaruhi pikiran dan sikap masyarakat, misal masyarakat dengan mudah turut campur urusan orang lain atau senang menggosipkan orang lain. Orang akan mudah sekali berprasangka buruk satu sama lain. Kalau infotainment berfungsi ikut serta dalam membangun mentalitas bangsa, berarti saat ini menjadi kesempatan yang baik bagi para perancang acara tersebut untuk instrospeksi diri. Hal ini berarti siap melihat secara jujur isi acara yang ada dan tujuan acara itu. Bukan lagi kehebohan yang diangkat dengan gosip demi rating yang tinggi tetapi perlu dipikirkan penanaman nilai-nilai luhur bangsa. Dengan uraian di atas bukan bermaksud untuk memojokkan jenis acara tersebut apalagi mengadilinya sebagai tayangan yang buruk tetapi justru berusaha memberi dukungan untuk mencapai infotainment yang mendidik. Kita tidak boleh menutup mata bahwa acara itu juga telah berjasa mengungkap kejahatan atau perbuatan yang kurang baik, misal penipuan seorang artis atau perselingkuhan seorang artis. Layaknya sebuah kehidupan, seseorang pasti memiliki kekurangan di balik kelebihan atau kehebatannya. Akan tetapi, orang yang bijaksana dan mau berkembang adalah orang yang mau berusaha mengurangi kekurangannya itu menuju pribadi sejati. Begitu pula dengan infotainment, kiranya siap berusaha memperbaiki segala kekurangan itu menuju infotainment yang mendidik dan berusaha membangun mentalitas bangsa dengan tayangan yang berkualitas dan memiliki nilai-nilai luhur. Suatu lowongan besar bagi media produksi infotainment untuk menghasilkan karya yang mendidik dan sekaligus menjadi agent of change masyarakat. Kalau masyarakat sudah terbiasa dengan hal negatif, maka menjadi kebutuhan yang mendesak untuk membiasakan masyarakat dengan yang positif. (11) ---Kusuma Sari Widarti, mahasiswi Jurusan Komunikasi FISIP Undip |