| Selasa, 15 Mei 2007 | NASIONAL |
Dari Gebyar Wisata Nusantara 2007 (2-Habis)Abon ''Mbah Maridjan'' dan Wisata Tsunami
TAMPILNYA stan-stan dari beberapa kabupaten dan kota di Jateng dalam Gebyar Wisata Nusantara 2007, turut mendukung pula penampilan kontingen Jawa Tengah. Mereka tampil dengan kekhasan masing-masing. Kabupaten Magelang misalnya, lebih menonjolkan aneka kerajinan dan Surakarta menonjolkan seni budaya keraton dan batiknya. Penampilan kedua kabupaten dan kota ini mendapat apresiasi positif dari pengunjung. Maka wajar kalau keduanya menyabet penghargaan pula sebagai stan terbaik untuk tingkat kabupaten dan kota. Demikian pula, stan dari kota dan Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Karanganyar, Boyolali, Sragen dan Kota Magelang. Masing-masing menawarkan objek wisata secara atraktif kepada pengunjung. Mulai dari wisata religi, wisata air, agro wisata sampai wisata edukasi. Jika stan-stan dari wilayah Surakarta itu tampil bareng dengan objek wisata di daerah Sobosuko Wonosraten, maka wilayah Banyumas tampil menyatu dalam wadah Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen). Abon ''Mbah Maridjan'' Boyolali malah lebih heboh dalam menawarkan produknya. Selain menyuguhkan wisata Merapi di Kecamatan Selo dan Wisata Air di Tlatar, kabupaten itu juga menawarkan produk andalan, Abon ''Mbah Maridjan''. Meski hanya sekadar guyonan para penjaga stan, tetapi ide kreatif untuk menawarkan makanan khas Boyolali tersebut dengan memberi nama abon ''Mbah Maridjan'', mampu pula menarik perhatian pengunjung. Stan Nangroe Aceh Darussalam lebih serem lagi. Di ujung stan yang terletak persis di depan Stan Diparta Jateng itu, berjajar rapi di atas meja, brosur-brosur dengan tulisan cukup mencolok, ''Wisata Tsunami''. Ya, tampaknya selain keindahan lautnya, pemerintah Aceh juga mencoba menawarkan wisata tsunami itu sebagai andalannya saat ini. ''Laut kami indah dan semua orang sudah biasa melihat, tetapi kalau kehancuran daerah kami karena tsunami, banyak orang dari daerah lain belum melihatnya. Maka kami mencoba menawarkan bekas-bekas Tsunami itu sebagai daya tarik wisata,'' kata Cut Niyah, penjaga stan di situ. Jateng tampaknya memang ingin menampilkan semua potensi wisatanya dan tampil kompak bersama stan-stan kota dan kabupaten. Seperti diungkapkan Wakil Kepala Diparta Jateng Mohammad Yusuf,. ''Kontingen Jateng membawa semua potensi pariwisatanya, dengan pengutamaan tujuh kawasan pengembangan pariwisata. Yaitu Solo, Selo, Borobudur, Kawasan Dieng, Kawasan Karimunjawa, Sangiran, BBS (Bonang, Binangun, Sloke), Rawapening dan Selatan-Selatan (Cilacap-Kebumen),'' tuturnya. Gemebyar Kalau Jateng menawarkan segala potensinya, stan-stan pariwisata dari luar Jawa lebih mengutamakan penampilan stan yang lebih gemebyar, meski objek wisata yang mereka tawarkan tak begitu menjanjikan. Rata-rata dari mereka juga tampil penuh warna dan kelihatan sekali bahwa mereka ingin tampil penuh pesona. ''Kalau kami hanya tampil seadanya ya percuma saja. Bapak Bupati menganggarkan dana untuk promosi pariwisata paling besar dibanding dana untuk keperluan wisata lain,'' kata Maria Warsi, penjaga stan Kabupaten Merauke. Namun kesan tidak pelit dalam menganggarkan dana untuk promosi pariwisata tampak di hampir semua stan dari Luar Jawa. Mereka memang berlomba ingin tampil penuh pesona, meski sebagian besar objek yang ditawarkan hampir serupa, dan belum tergarap baik. Ini berbeda dari stan-stan di Jawa, yang tampil dengan objek wisata sudah lebih tertata dan berangkat dengan tema yang lebih mapan. (23) | ||||