| Selasa, 15 Mei 2007 | MURIA |
"Semoga Allah Menggagalkan"BERBEDA pandangan soal rencana pembangunan PLTN Muria, tak harus diekspresikan dengan saling menghujat. Ada cara santun dan penuh kedamaian seperti ditunjukkan jamaah pengajian Al-Hidmah. Mereka menggelar doa bersama di halaman Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai (LPWP) Undip di Pantai Bulu, Jepara, Minggu malam. Jamaah yang mencapai lebih dua ribu orang yang datang dari Jepara, Kendal, Demak, Semarang, Pati, dan Kudus itu, tampak khusyuk berzikir bersama. Mereka berzikir selepas isya hingga tengah malam. Ikut berzikir, Kapolres AKBP Drs Pristio Dwi Antono, Kepala Bakesbanglinsos H Soelaeman Effendi SH MM MH, para pengusaha, aktivis LSM Masyarakat Reksa Bumi (Marem), dan lainnya. Jamaah mendapat ceramah dari KH Munir, asal Ngroto, Purwodadi. Ketua panitia yang juga Ketua Jamaah Al-Hidmah Jepara H Achmad Nawawi mengemukakan, apa pun langkah dan kebijakan pemerintah melaksanakan program pembangunan, hendaknya disikapi arif. Soal muncul pro dan kontra, itu hal yang lumrah. "Yang terpenting, bagaimana kita menghadapi perbedaan pandangan tetap dengan sikap arif," ujar Nawawi, pensiunan kapolsek Mlonggo. Nawawi yang menyatakan pro, duduk bersama Ir Mujiono yang kontra. "Saya memang pro-PLTN. Namun dukungan yang kami berikan bukan dukungan buta," tuturnya. Kemaslahatan Umat Dukungan itu dengan catatan, pembangunan pembangkit listrik bertenaga nuklir tersebut akan mendatangkan kemaslahatan umat. Jika akan mendatangkan bencana, dia pun menolak. Untuk itulah, baik yang pro dan kontra berdoa bersama demi keselamatan bangsa agar dijauhkan dari bahaya PLTN. "Kami memohon kepada Allah, jika PLTN mendatangkan kebaikan semoga segera terwujud. Sebaliknya, jika mendatangkan bencana semoga Allah menggagalkan. Kami yakin itu," tuturnya. Mujiono menambahkan, sosialisasi PLTN melalui zikir dan doa bersama sangat tepat. Sebab, warga Jepara dan sekitarnya yang tinggal paling dekat dengan calon tapak (lokasi) PLTN di Balong, Kecamatan Kembang, Jepara, dapat memberikan sikap dari hati yang tulus. (54) |