| Selasa, 15 Mei 2007 | MURIA |
PLTN Muria Timbulkan Dampak PsikologisKUDUS- Minimnya informasi soal rencana pembangunan PLTN Muria dinilai akan menimbulkan dampak psikologis yang tidak baik kepada masyarakat. Pasalnya, mereka kemungkinan hanya akan menginterpretasikan apa yang didengar dan disaksikan berdasar pengetahuan yang dimiliki. ''Tapi, kemungkinan mereka tidak mengetahui dampak sebenarnya,'' kata pemerhati persoalan sosial, M Widjanarko. Berdasarkan penelitiannya, akhir tahun 2006 di sekitar lokasi yang kemungkinan akan dibangun proyek tersebut, sebagian masyarakat memang baru memperoleh secuil informasi saja. Misalnya, karena di tempat tersebut akan dibangun sebuah proyek, maka mereka khawatir akan terjadi penggusuran. ''Padahal, persoalannya kan tidak hanya itu. Warga bisa saja bingung dengan minimnya informasi tersebut,'' jelasnya. Menurut dia, dampak psikologis yang paling parah yakni ketidakjelasan tentang hal-hal apa saja yang ada di balik rencana tersebut. Sebagian warga, katanya, hanya takut bila rumah atau sawahnya tergusur. Atau, mereka khawatir akan terjadi gangguan kesehatan terhadap keluarganya, bila sesuatu terjadi di tempat tersebut. Tidak Nyaman Pemilik modal, katanya, juga mengalami dampak psikologis tersebut. Misalnya, perasaan tidak nyaman karena mempunyai lokasi usaha yang dekat dengan lokasi PLTN. ''Tetapi, detail tentang kemungkinan dampak belum sepenuhnya mereka ketahui,'' ungkapnya. Ditambahkan, pihak yang mengetahui keseluruhan potensi dampak hanya sebagian kalangan saja. Sedangkan sebagian masyarakat kemungkinan hanya meraba-raba. ''Untuk itu, pemrakarsa proyek hendaknya dapat memberikan informasi yang menyeluruh tentang PLTN dan memberikan hak kepada warga untuk mendapatkan informasinya secara jelas,'' ungkapnya. Disinggung soal gerakan anti-PLTN yang digulirkan akhir-akhir ini, Widjanarko mengaku hal tersebut sangat positif. Mengingat apa yang mereka kerjakan memang benar-benar dilakukan untuk kepentingan masyarakat. Meski demikian, pihaknya mengharapkan agar gerakan tersebut tidak dilakukan secara sentralistik. Jika memang dikondisikan seperti itu, ada kemungkinan justru dapat ''dipatahkan'' oleh kelompok yang berlawananan. ''Alasannya, masing-masing kelompok mempunyai ciri perjuangannya sendiri. Yang penting, caranya berbeda, tetapi tujuannya sama,'' tegasnya.(H8-19) |