logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Mei 2007 SEMARANG
Line

Sambatan, Budaya Jawa yang Patut Dilestarikan

  • Oleh: Leonardo Agung B

PAGI itu, Senin (14/5), puluhan warga Dusun Pendingan, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, dengan membawa alat pertukangan mendatangi rumah Yeni Hufron (39). Kedatangan mereka tidak untuk berdemo atau berunjuk rasa.

Warga dengan sukarela membangun sebuah rumah baru untuk tetangga mereka, Yeni Hufron.

Kekeluargaan masih kental dalam kehidupan mereka yang rata-rata masih memiliki hubungan saudara.

Suasana akrab, sesekali diselingi canda tawa, mewarnai kegiatan warga dalam bergotong-royong.

Itulah gambaran kehidupan warga Dusun Pendingan yang masih menjunjung tinggi budaya Jawa.

Di tengah pergeseran budaya masyarakat yang lebih modern, terutama di kota-kota besar, tradisi sambatan masih melekat erat pada warga dusun tersebut.

Kenduren

''Sebelum membangun rumah atau memperbaiki rumah warga, biasanya diadakan kenduren untuk menentukan hari baik guna mulai membangun,'' kata Hufron.

Setelah itu, besoknya mereka akan datang secara serentak untuk membantu. Alat-alat yang digunakan berasal dari warga sendiri.

Material kayu diperoleh dari lingkungan sekitar. Sedangkan material lain seperti batu, pasir, besi, dan semen, dibeli dari Kota Salatiga.

Dalam hal gambar rumah, Hufron dibantu adiknya, Heri Latip, yang sudah berpengalaman sebagai seorang tukang gambar di Jakarta.

Warga yang membantu sambatan rata-rata adalah petani dan peternak. Ada juga yang masih remaja.

Mereka memang tidak mendapat upah, tetapi biasanya disediakan makan, minum, dan rokok.

Soal target penyelesaian rumah, ia tidak mematok kapan akan selesai, karena tiap warga yang membantu punya kesibukan sendiri-sendiri. Pembangunan rumah tersebut juga tidak langsung jadi, tetapi secara bertahap sesuai dengan kemampuan. (37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA