| Selasa, 15 Mei 2007 | SEMARANG |
Petani Tak Bisa Panen Tiga KaliPABELAN- Meski kondisi pertanian seperti sumber air dan kesuburan tanah di Desa Kauman Lor, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, lebih dari cukup. Namun, dalam setahun petani belum bisa panen tiga kali setahun seperti di wilayah lain. Suparman (50), petani setempat mengatakan, mereka tidak tahu mengapa di Desa Kauman Lor tidak bisa panen tiga kali setahun. Dia menduga salah satunya, karena kurangnya pengetahuan mengenai pertanian modern. ''Dulu di sini ada penyuluhan untuk para petani, tetapi sekarang kegiatan tersebut sudah lama menghilang,'' kata Suparman. Dia menjelaskan, dalam mengolah sawah umumnya petani tidak menghadapi kendala. Mereka cukup mendapatkan air dan pupuk. Biasanya petani menggunakan pupuk urea dan TS, ditambah rabuk sebagai penyubur tanaman. Jenis padi yang ditanam IR. Pada musim kemarau pun tidak ada masalah terkait dengan air seperti di daerah lain. Tetapi, soal kuantitas hasil panen, mereka mengalami masalah. Pasrah Umumnya petani hanya bisa memanen dua kali dalam setahun, berbeda dengan daerah lain yang bisa panen tiga kali, yang pada musim kemarau terkadang bermasalah dengan air. Penyuluhan yang diharapkan bisa membantu masalah petani, kini tidak ada lagi. Mereka hanya bisa pasrah menerima keadaan tersebut, tanpa tahu bagaimana caranya meningkatkan kuantitas hasil pertanian. Dalam mengelola hasil panen, mereka cenderung mengelola sendiri mulai dari proses penggilingan sampai penjualan. Untuk penjualan beras, rata-rata dijual Rp 4.000/kilogram, sedangkan gabah hanya dihargai Rp 2.000/kilogram. Sampai saat ini Bulog belum membeli hasil panen mereka. (J12-37) |