| Selasa, 15 Mei 2007 | SEMARANG |
Harga Minyak Goreng NaikPedagang Tak Kurangi Ukuran GorenganUNGARAN - Meski harga minyak goreng mengalami kenaikan yang cukup tinggi, pedagang di sentra produk keripik tempe di Desa Karangbolo, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, tidak mengurangi ukuran gorengan. Meski pendapatannya turun, saat ini yang terpenting bagi pengusaha kecil rumah tangga tersebut, tidak mengalami kerugian. Sumiah (52) warga RT 02 RW VII Desa Karangbolo mengatakan, meski pendapatannya turun selama harga minyak goreng naik, dia tidak bisa mengurangi ukuran produknya. ''Dulu sebelum minyak goreng naik, harga keripik tempe per bungkus isi delapan lembar Rp 1.200. Begitu juga tumpi (rempeyek kacang ijo). Untuk peyek kacang tanah berbentuk bundar Rp 2.200 per sepuluh biji,'' terang dia. Sumiah mengaku dalam dua bulan terakhir pendapatannya turun antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000/ hari. Menurutnya, yang membuat dia bertahan untuk tidak menaikkan harga disebabkan karena produknya dijual ke katering-katering yang dikirim ke pabrik-pabrik. Omzet setiap minggu, Sumiah dapat menjual 500 bungkus. ''Kira-kira 7.500 lembar gorengan setiap dua minggu atau 20 kg sehari. Saya tidak mengurangi ukuran yang penting bisa cepat laku dan tidak rugi,'' terang dia yang mulai pukul 05.00 hingga menjelang maghrib melakukan aktivitas menggoreng dan membungkus. Masih Bertahan Sumiah yang berjualan gorengan sejak 1984 ini mengaku kenaikan minyak goreng curah cukup drastis. Menurut dia, dua bulan lalu, harga minyak goreng curah tidak sampai Rp 5.000/ kg. Tapi sekarang ini harga barang kebutuhan ini mencapai Rp 7.200/ kg. Setahun lalu, pedagang gorengan di sentra Karangbolo ini juga sempat dihantam mahalnya minyak tanah. Padahal mayoritas puluhan pedagang di desa ini menggunakan bahan bakar minyak tanah. ''Setahun lalu kami menyiasati dengan menggunakan kayu bakar hingga sekarang. Alhamdulillah kami masih bisa bertahan berjualan gorengan ini,'' ucap Sumiah. Selain di pabrik-pabrik, produk gorengan di Karangbolo ini juga tersebar di Kabupaten Semarang dan daerah sekitarnya. Jika anda mendapati tumpi, peyek kacang, dan keripik tempe di warung atau rumah makan di kabupaten ini, mayoritas berasal dari Karangbolo. (H14-16) |