| Selasa, 15 Mei 2007 | SEMARANG |
Penderita HIV/AIDS Meningkat Cepat di Kabupaten SemarangUNGARAN - Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Semarang menunjukkan peningkatan cepat. Saat ini lebih seratus orang diketahui terinfeksi HIV di daerah itu. Angka tersebut hanyalah yang terpantau, dan kemungkinan besar jumlahnya jauh lebih banyak. Pasalnya, angka itu didata dari pemeriksaan sukarela, dan hanya pada orang yang berisiko tinggi. Hal itu dikatakan Dr Budi Laksono MHSc, pembina program Harm Reduction Yayasan Wahana Bakti Sejahtera, saat peresmian pusat informasi, pelayanan pencegahan dan perawatan problem narkoba oleh Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Semarang di Ungaran, belum lama ini. Menurut dia, penularan lewat hubungan seks masih tetap tinggi, akibat perilaku seks bebas terus terjadi. Sementara penularan melalui suntikan pun meningkat dratis, karena penyalahgunaan narkoba. Dari dasar itulah Yayasan Wahana Bakti Sejahtera (YWBS) didukung Family Health International (FHI) Jateng yang setahun ini memberi layanan pencegahan HIV pada masyarakat, membuka pusat informasi dan layanan guna menekan penyebaran HIV. Diungkapkan, pihaknya kini memanfaatkan para korban narkoba sebagai akses kesehatan dan informasi menuju perubahan perilaku yang lebih sehat. ''Para korban itu justru menjadi komponen positif pencegahan dan penularan," katanya. Jonny, seorang korban narkoba yang terinfeksi HIV/AIDS, berterima kasih pada masyarakat yang mau menerimanya. Dia meminta agar korban HIV tidak dikucilkan, karena mereka tidak menularkan, kecuali bila melakukan seks dan menyuntik narkoba bersama. Saat ini Jonny bekerja di YWBS untuk menemukan (out reach) temannya yang masih ''tersesat'' supaya sadar, dan memberi akses kesehatan kepadanya. Sementara Kompol Sutarno, mewakili Ketua BNK dalam sambutannya mengatakan, mendukung program ini dan berharap agar pelayanan bisa diakses masyarakat, apalagi di YWBS juga dilakukan bimbingan dokter. YWBS yang berkantor di Jl Diponegoro 201 Ungaran itu memberi pelayanan, seperti informasi, leaflet, konseling, penyuluhan gratis. Bahkan para petugas bisa mendatangi klien bila memang ada problem narkoba dan korbanya malu datang ke klinik. (sn-18) |