logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Mei 2007 SEMARANG
Line

Bedono Kembali Terendam Air Rob

  • Ketinggian Capai Satu Meter

DEMAK- Air pasang atau rob yang terjadi di Sayung menggenangi semua perkampungan Desa Bedono. Hanya satu dusun yang tidak tergenang, yakni Morosari. Kondisi itu menjadikan perkampungan berpenduduk 1.000 jiwa lebih itu kurang nyaman untuk bermukim.

Minggu (13/5) kemarin, air pasang mulai masuk ke perkampungan sekitar pukul 12.00.

Ketinggian air mencapai satu meter pada pukul 17.00, hingga sebagian besar rumah warga terendam. Namun, rob menyusut dan kembali normal sekitar pukul 24.00.

Kades Bedono, Sajimin menuturkan, kendati masalah rob sudah langganan, tetap saja menjadi ancaman. Sebab, hampir setiap tahun ketinggiannya terus naik.

Hingga saat ini sudah dua dusun yang terpaksa bedol dusun, karena kondisi perkampungan tidak bisa dipertahankan lagi.

Yaitu, Dusun Tambaksari dan Rejosenik. Ratusan warga desa itu pindah secara bersama-sama, karena semua rumah mereka tak layak huni dan tak lagi menjanjikan.

Apabila tak ada langkah penyelamatan, diperkirakan tidak berapa lama desa yang tepat berada di bibir Sungai Sayung itu akan ditinggalkan penduduknya, karena terendam rob.

Beralih Profesi

Selama ini warga mengalami kerugian besar, lantaran ikan yang disebar di tambak hilang terbawa air pasang.

Kini, sebagian warga mulai beralih profesi. Mereka yang semula petambak dan nelayan menjadi buruh di sejumlah perusahaan.

''Menurut hemat kami, yang paling penting saat ini adalah peninggian jalan. Kalau jalan tinggi sedikit banyak mengurangi potensi rob masuk desa.''

Warga desa tersebut, Ali Murtadho mengatakan, kedatangan rob sangat dikhawatirkan warga. Selain ketinggiannya yang mecapai satu meter, juga laju air yang cukup deras.

''Kami khawatir jika ada rumah yang roboh, karena sebagian ada yang terbuat dari kayu papan dan kondisinya cukup rapuh,'' terangnya.

Camat Sayung Drs Eddie Djatmiko MM mengimbau kepada warga Bedono untuk tetap waspada. Menurutnya, pemerintah sudah berupaya mengurangi potensi rob.

Di antaranya dengan penanaman mangrove di sepanjang pantai Sayung, membuat pemecah gelombang, dan meninggikan jalan. Namun, karena keterbatasan dana, proses peninggian jalan dan pembuatan pemecah gelombang baru sebagian kecil.

''Penanganan rob memang membutuhkan dana besar dan waktu lama. Kami akan terus berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan masalah ini,'' katanya. (H1-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA