| Selasa, 15 Mei 2007 | SEMARANG |
Kata Tukul ''Tak Sobek-sobek'' Bisa Pengaruhi Jiwa Anak
APAKAH program acara televisi berbahaya bagi perkembangan anak ? Pertanyaan itulah yang kerap terlontar dari benak orang tua yang melihat anaknya menonton sebuah acara televisi. Orang tua menjadi takut, bila anaknya akan meniru dari sebuah adegan seperti ditayangkan televisi itu. Apalagi, adegan itu berbau kekerasan atau mengumbar seksualitas. Kekhawatiran itu mengemuka dalam Talkshow Pendidikan bertema ''Manajemen Rumah Tangga dalam Menanggulangi Pengaruh Buruk Tayangan Televisi Pada Anak''. Kegiatan itu diselenggarakan KB/TK Siti Sulaechah 04 dalam rangka Gebyar Milad I, Minggu (13/5). Narasumber yang ditampilkan adalah Psikolog Frieda NRH SPsi. ''Seberapa jauh dampak buruk tayangan televisi. Apakah ada tayangan alternatif yang bersifat mendidik,'' kata salah seorang orang tua siswa. Frieda yang juga Dosen Fakultas Psikologi Undip itu menjelaskan, secara harfiah dalam proses perkembangan anak bersifat plagiat (meniru). Bagaimana sebuah adegan itu mampu direkam dan dengan cepat pula dilakukan. Apalagi adegan tersebut mengandung unsur kekerasan. ''Bila mengandung unsur kekerasan, anak bisa cepat menghafalnya. Seperti gerakan baja hitam, seorang satria yang selalu berkelahi dengan musuhnya, ternyata begitu mudah ditiru anak kepada teman-temannya. Meski tayangan itu bagus, tetapi ternyata ada unsur kekerasannya,'' kata Frieda. Belum lagi, ungkapan Tukul Arwana yang menyatakan tak sobek-sobek. Itu pun mampu menjadi bahan cercaan anak-anak. Meski tidak mengandung kekerasan fisik, namun ungkapan tersebut menimbulkan kekerasan psikis. ''Anak sekarang kalau sedang marah dengan teman-temannya, langsung bilang tak sobek-sobek,'' lanjutnya. Peran Orang Tua Gambaran tersebut merupakan sekelumit contoh tayangan televisi yang ditelan mentah oleh anak. Setidaknya orang tualah yang wajib mendampingi anak saat menonton televisi. Orang tua dengan memberikan penjelasan arti dan maksud tayangan itu, setidaknya membuat anak bisa mudah memahami. Frieda menambahkan, tayangan alternatif setidaknya bisa mengurangi bentuk kekerasan dari televisi. Tayangan itu berupa koleksi VCD anak-anak seperti dongeng, hikayat, cerita nabi yang sifatnya mendidik. Dalam milad I itu dilangsungkan pula berbagai lomba yang diikuti puluhan peserta siswa-siswi kelompok bermain (KB) dan TK di Semarang. Juara I,II dan III Finger Painting Juniar Risty, Edison Purba, Yuliani Indah P. Juara I, II dan III Puzzle TK Michael Alessandro, Satria Hadi W dan Raif Maulana Lukman. Juara I, II dan III Puzzle KB Delisha Saifee, Amelia Muna Haliza dan Gabriela Berenica. Juara I, II dan III Meronce KB Evelyne Divika, Aisyah Sulwa Nurnabila, dan Laila Aurelita. Masing-maisng juara I, II dan III memperoleh hadiah uang Rp 150.000, Rp 100.000 dan Rp 50.000. (56) |