| Selasa, 15 Mei 2007 | SEMARANG |
SUDUT PANDANGBuku DigitalPEMBUATAN buku digital ternyata bukan hal yang mudah. Dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan ekstra. Sebab membuat satu buku yang tidak terlalu tebal dibutuhkan waktu satu bulan. "Hal itu cukup beralasan mengingat pembuatannya harus melalui tiga tahap,'' kata dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Edy Mulyanto SSi MKom. Ada tiga tahap yang harus dilalui, menyiapkan materi, menuliskannya ke dalam komputer, dan merekam bacaan yang dibuat. Tahap ketiga merupakan bagian yang paling sulit. Sebab harus dicari orang yang bisa membaca dengan intonasi baik. "Ini terkait dengan kenyamanan. Pasalnya pengguna buku ini adalah tunanetra. Mereka mengandalkan indera pendengaran untuk bisa mengetahui isi bacaannya,'' tutur Edy. Dia menganggap buku digital itu lebih efektif dari bacaan yang ditulis dengan huruf braille. Sebab buku digital bisa diperbanyak dengan mudah. Selain itu biayanya juga tidak terlalu mahal. Lain halnya dengan buku yang ditulis dengan huruf braille. "Selama ini buku braille tidak bisa digandakan dengan mudah. Untuk memperbanyak dibutuhkan biaya yang banyak,'' ujarnya. Dengan buku digital, menurut dosen yang senang humor itu, pengetahuan para penyandang tunanetra dapat lebih berkembang. Selama ini ilmu yang diperoleh sulit berkembang karena keterbatasan literatur yang sesuai dengan kebutuhan mereka. (Roosalina-62) |