logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Mei 2007 BUDAYA
Line

Band Pencinta Damai

TAK banyak grup band baru mengusung musik reggae. Satu dari sedikit band itu adalah Klopo Ijo. Band yang berdiri pertengahan Februari 2006 itu berawal dari satu komunitas yang acap ngejam bareng saat nongkrong.

Mereka memutuskan memakai nama Klopo Ijo lantaran terinspirasi kemultigunaan pohon kelapa itu. ''Kami ingin berguna bagi dunia musik dan orang lain, terutama untuk memopulerkan reggae,'' tutur Yudha, vokalis grup itu.

Ya, Yudha Wastu dan Adi (vokal), Nanang Q dan Sigit (gitar), Reza (drum), Agung (bas), serta Deni (perkusi) ingin menyampaikan pesan perdamaian ke pencinta musik. Terutama, tentu saja, pada penggemar musik reggae, yang biasa disebut rastaman.

Sebagai band, mereka tergolong masih muda. Namun sebelumnya setiap personel memiliki grup sendiri-sendiri. Jadi, jam terbang setiap personel sudah mencukupi.

Rastaman dikenal dengan stereotipe "negatif". Rambut gimbal dan pengonsumsi daun ganja. Namun mereka tak takut menghadapi pandangan miring itu. Sebab, yang berperilaku menyimpang cuma sebagian kecil dari rastaman.

''Kami antikemapanan. Namun kami ingin merdeka. Merdeka berpendapat dan tak mengganggu orang lain,'' tutur Nanang Q.

Bicara tentang perkembangan reggae di Indonesia tentu tak lepas peran dari Tony Q Rastafara. Dan Nanang adalah keponakan Tony Q, yang menurut mereka adalah bapak reggae Indonesia.

Bagi mereka, tanpa mengesampingkan Imanez, Tony adalah seniman sejati dan pelopor reggae.

Klopo Ijo, yang tergabung dalam Fast'D Manajemen, punya filosofi dengan angka 8. Itulah angka yang tak putus dan simpel. Dengan mengambil filosofi itu, mereka berharap karier dan rezeki pun lancar, tiada terputus.

Kini, mereka bersiap mempersiapkan album indie pertama. Penggarapan musik album berisi tujuh tembang itu sudah rampung.

Satu lagi keinginan mereka adalah bergabung dengan komunitas reggae lain untuk bersama-sama membuat album kompilasi. Satu grup menyumbang satu lagu.

Mereka yakin, sebuah komunitas bakal kuat jika didukung banyak pelaku banyak yang tak mengotak-ngotakkan diri. Mereka pun yakin tahun ini adalah tahun reggae. (Budi Cahyono-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA