logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Mei 2007 BUDAYA
Line

"Love is Cinta", Kisah nan Mendayu-dayu

APAKAH cinta yang tulus memiliki kekuatan dan ikatan batin untuk merobohkan tembok keraguan? Apakah kekuatan cinta sanggup menyatukan dua anak manusia yang berada di dua alam berbeda? Apakah kematian bisa memisahkan kekuatan cinta?

Dalam Love is Cinta arahan Hanny R Saputra, cinta mengungkapkan kekuatan lewat cara unik. Lewat bahasa tutur remaja, penulis skenario Armantono yang menghasilkan Virgin, Mirror dan Heart kembali menghadirkan cerita cinta remaja.

Hasilnya, film yang bakal beredar mulai 16 Mei ini mengalir dengan sangat cair dan mudah dimengerti. Meski, dalam beberapa hal, masih mengejek logika.

Film yang dimaksudkan bergenre roman, drama, fantasi, aksi, sekaligus musikal dan komedi ini akhirnya bak permen. Berasa rame, tetapi tak menyisakan kesan apa-apa, kecuali sebagai hiburan belaka.

Film antara lain menjadi medium mewartakan pesan kebajikan, penguatan budi pekerti, dan kekuatan jiwa. Namun Love is Cinta cenderung menjungkirbalikkan semua itu. Kecengengan dan derai air mata nyaris jadi sajian utama sepanjang pertunjukan. tak ada kekuatan hati untuk menanggung derita.

Dikisahkan, Ryan (Irwansyah) berhasil menyelamatkan nyawa seorang bocah dalam mobil yang mengalami kecelakaan. Namun dia meninggal dunia ketika mobil itu meledak.

Kematian Ryan menimbulkan duka tak bertepi di hati Cinta (Acha Septriasa). Ya, Cinta, kawan se-SMA, diam-diam mencintai Ryan. Namun dia tak cukup punya nyali untuk menyatakan perasaan.

Perasaan itu pula sebenarnya yang dialami Ryan pada Cinta. Lantaran tak bisa menerima kematian, Ryan meminta waktu tiga hari dari malaikat penjemput maut untuk menyatakan cinta kepada Cinta.

Dia pun meminjam jasad orang lain sebagai rumah bagi jiwanya. Itulah jasad Doni (Raffi Ahmad), gay yang mati bunuh diri.

Kisah Doni, yang sebenarnya Ryan, untuk meyakinkan cintanya pada Cinta adalah sajian utama film ini. Sanggupkah Doni meyakinkan Cinta bahwa sesungguhnya dia adalah Ryan? Sementara itu ada Ivan (Andhika Pratama), lelaki yang menaruh hati pada Cinta, yang bimbang dan tak memercayai ''bualan'' Doni. Bualan yang dia anggap sampah belaka.

Namun, cinta mampu mencari jalan lewat cara tersendiri. Dan, dalam film ini, itulah jalan cinta remaja yang mendayu-dayu. (Benny Benke-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA