logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Mei 2007 RAGAM
Line

Tujuh Langkah Melestarikan Batik

SIAPA tak mengenal batik? Artefak warisan leluhur ini memang populer di kalangan tertentu. Batik acapkali dijadikan benda koleksi, dipuja, dan disimpan bak barang antik.

Tak mengherankan, untuk mendapatkan selembar kain batik, seorang kolektor harus mengeluarkan dana tak terbatas. Bagi mereka, mungkin bukan nilai uang yang menjadi ukurannya, melainkan kepuasan jika berhasil memiliki.

Kenapa kain itu disukai dan dijadikan koleksi? Menurut beberapa kolektor, batik adalah barang seni. Kain dengan motif klasik yang juga terkenal di mancanegara ini ibarat lu-kisan. Proses pembuatannya memakan waktu dan sangat rumit.

Cara Merawat

Nilai seni dan budaya yang terkandung dalam batik seharusnya mendorong kita untuk melestarikannnya. Cara paling mudah adalah dengan merawatnya. Kain batik tidak dapat disimpan secara sembarangan. Proses penyimpanan yang salah bisa merusak keindahan batik. Berikut tujuh langkah atau tips merawat kain batik.

Pertama, hindari mencuci batik setelah digunakan. Sebaiknya diangin-anginkan dulu, tetapi jangan di bawah terik matahari langsung. Tindakan itu bisa membuat batik mudah memudar.

Kedua, perlakukan batik secara istimewa. Jangan mencuci dengan mesin cuci. Cukup dikucek pelan-pelan. Lebih baik memakai sabun khusus batik, yaitu lerak dan shampo. Sebelumnya, larut-kan shampo hingga tak ada bagian yang mengental. Sete-lah itu batik dicelupkan.

Jika tak terlalu kotor, cucilah batik dengan air hangat tanpa menggunakan sabun. Jika kotor terkena noda ma-kanan, bisa dihilangkan dengan sabun mandi. Kalau kotor sekali, seperti terkena buangan knalpot, noda bisa dihilangkan dengan kulit je-ruk. Yaitu dengan mengusapkan sabun atau kulit jeruk pada bagian yang kotor.

Ketiga, jangan mengeringkan batik dengan cara di-pelintir. Kain langsung di-rentangkan dan bagian tepi agak ditarik pelan-pelan agar serat yang terlipat bisa kembali seperti semula. Jemurlah di tempat sejuk, jangan terkena sinar matahari langsung.

Keempat, jika tak diperlukan, jangan menyeterika batik. Apabila harus menyeterika, karena kusut, letakkan kain pelapis di atasnya. De-ngan demikian, panas seterika tak langsung mengenai permukaan batik.

Kelima, jika ingin memberi pewangi/pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung ke kainnya. Tutupi dulu kain dengan koran, baru semprotkan cairan pewangi/pelembut. Jangan pula menyemprotkan parfum langsung ke kain batik.

Keenam, suhu ruang penyimpanan batik jangan terlalu lembab, karena mempercepat proses pelapukan kain. Jangan pernah meletakkan kapur barus di dalam lemari. Bahan kapur barus terlalu keras, sehingga bisa merusak kain itu sendiri.

Ketujuh, jangan menyimpan batik di lemari dengan kondisi dilipat. Gulunglah kain batik atau lindungilah dengan lapisan plastik untuk menghindari ngengat. Nah, sekarang tak perlu khawatir lagi menyimpan pusaka warisan leluhur ini, atau mengenakannya suatu saat. (Sasi Pujiati-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA