logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Mei 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Sampah Plastik

Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Menurut catatan Dinas Kebersihan Kota Semarang, produksi sampah mencapai 1000 ton s.d 1100 ton/hari atau sekitar 3500 sampai 4000 m3. Jika dihitung setahun, maka volumenya mencapai 26 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur = 55.000 m3).

Bicara soal sampah memang membuat pusing. Makin pusing karena volumenya luar biasa besar dan kebanyakan sampah plastik yang tak bisa didaur ulang (unrecycleable). Sialnya lagi, walau sampah saat ini telah berubah, namun kita cenderung memperlakukan dan memahami sampah seperti kakek-nenek dulu.

Mau bukti, misal tindakan mengubur sampah di halaman rumah. Langkah seperti ini jelas kurang tepat, karena plastik tidak akan terurai selama 100 tahun di dalam tanah. Misalnya lagi, kebiasaan membakar sampah dalam tungku buatan sendiri. Sekali lagi tindakan ini berbahaya, karena pembakaran yang mengandung plastik akan menghasilkan dioksin.

Dioksin adalah salah satu dari sedikit bahan kimia yang telah diteliti secara intensif dan dipastikan menimbulkan kanker. Berdasarkan hal tersebut, demi mengurangi sampah plastik, salah satu cara sederhana tetapi berdampak signifikan adalah membawa kantong belanjaan sendiri saat berbelanja di pasar swalayan.

Kemudian memilih menggunakan pembungkus kertas daripada plastik atau membawa sendiri botol atau tempat makan yang terbuat dari plastik dengan penggunaan yang berulang-ulang, Namun, "gerakan" seperti ini hanya efektif kalau kondisinya "dipaksakan".

Kondisi yang memaksa itu misalnya pihak penjual memberlakukan tambahan tarif bagi pelanggan yang memilih menggunakan kantong plastik. Sementara pelanggan yang membawa kantong belanja sendiri mendapat penghargaan dengan potongan harga dari total nilai belanja.

Gerakan itu tidak efektif jika hanya sporadis dilakukan oleh segelintir orang atau sebagian pasar swalayan. Dalam hal ini, peran seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan.

Joko Suprayoga

Jl Dieng I/40 Perum Brangsong,Kendal

Penjurusan di SMA

Saya siswa kelas sepuluh di SMA swasta Semarang. Seperti biasa di akhir tahun selalu diadakan penjurusan yaitu ke jurusan IPA. IPS dan Bahasa. Saya heran dengan sistem ini kenapa jurusan selain IPA selalu mendapat kecaman dari banyak orang tua. Ada yang mengatakan selain IPA hanya jurusan buangan.

Artinya jurusan IPS dan Bahasa hanya untuk anak-anak bodoh yang tidak bisa masuk IPA. Anehnya paradigma ini justru makin kuat berkembang di masyarakat. Faktanya memang banyak orang tua yang memaksa anaknya masuk ke IPA. Padahal setiap orang memiliki kepribadian, potensi. minat dan bakat yang berbeda dan akan lebih berkembang jika masuk ke jurusan yang tepat.

Pertanyaan, kenapa anak di luar jurusan IPA didiskriminasi. Salah satu penyebabnya adalah, pendapat masyarakat bahwa jurusan IPA lebih bergengsi dan siswanya dianggap lebih pintar daripada siswa IPS dan Bahasa. Padahal tidak semua anak pintar berminat masuk jurusan IPA.

Kedua, sistem penerimaan mahasiswa baru sebagian besar juga didiskriminasi. Jurusan IPA bebas mengambil bidang studi apa saja, sedang jurusan lain tidak bisa. Menurut saya, sistem pendidikan ini masih mengalami krisis diskriminasi jurusan. Seharusnya semua pihak sadar bahwa semua jurusan memiliki keunggulannya masing-masing. Hanya kita yang perlu bersikap dan berpikir bijak, terutama orang tua.

Nicholas Anggada

Siswa SMA Kolese Loyola, Semarang

***

Kecewa Biro Wisata

Sudah 25 tahun mempercayakan kegiatan study tour SMP/SMA di wilayah Kabupaten Pekalongan, namun akhirnya saya merasakan ada kekurangan dan kecurangan yang dilakukan oleh biro perjalanan wisata. Kekecewaan yang saya alami di antaranya dengan Biro Wisata Titian Semesta Abadi Tour (Wiradesa ) , Dewata Tour (Kedungwuni), Mitra Kartika Tour (Batang ) dan Maharani Tour (Pekalongan).

Biro wisata ini makin menurun dalam hal pelayanan dan kenyamanan terhadap pemakai vvisata. Saya merasa perlu memberikan info kepada para rekan baik pembina OSIS maupun kepala sekolah agar hati - hati memilih biro wisata karena akhir - akhir ini saya selaku ketua DPD Asita Jateng wilayah Barat menerima surat aduan.

Di sampinng itu juga mendengar suara keprihatinan orang tua atas putra putrinya yang duduk di bangku SMP maupun SMA mengenai kegiatan study tour yang selalu diadakan setiap tahunnya. Apakah pantas peserta diberi makan nasi lodeh yang tak layak untuk dimakan alias sudah basi, padahal sesuai perjianjian tidak demikian.

Karena itu jika di antara Bapak/lbu pembina OSIS dan kepala sekolah terlanjur masih menggunakan biro wisata tersebut agar berhati-hati, jangan sampai menjadi korban selanjutnya. Jaga citra sekolah di mata masyarakat dan orang tua murid. Bila masih ada waktu segera mencari biro wisata yang tidak cacat di mata masyarakat.

Ir Rahardi C Wiloso MPd (081546347822)

Ketua DPD Asita Jateng Wil Barat

***

Masalah Curug Sewu

Pesona air terjun Curug Sewu telah menjadi ikon pariwisata Kabupaten Kendal. Tapi sayang, obyek wisata yang terletak di Kecamatan Patean itu, tak putus dirundung masalah. Sejak 2005 setelah Curug Sewu dilengkapi dengan kebun binatang "Jurang Kencono". banyak koleksi hewan yang mati termasuk ular phyton yang diklaim sebagai ular terbesar di Asia Tenggara.

Lalu jet coaster (kereta luncur) mangkrak, diduga gara-gara teknik kontruksinya tidak sesuai bestek. Pada September 2006 terjadi kebakaran kecil di hutan wisata Curug Sewu. Di awal Maret 2007, terbongkar kasus beredarnya karcis palsu tapi ancaman karyawan yang dimutasi hingga kini tak kunjung dilakukan Dinas Pariwisata.

Terakhir, di penghujung April 2007 pihak pengelola secara diam-diam melakukan penebangan sebanyak 11 pohon yakni 6 pohon flamboyan, 2 akasia, 1 angsana, 1 durian dan 1 mahoni yang diameternya antara 40-50 cm dan berumur 15-20 tahun. Tujuh pohon terletak di dekat panggung hiburan, 4 di dekat kolam renang.

Aksi tebang tanaman tersebut tentu mengurangi keindahan, kenyamanan, keasrian dan keteduhan taman Curug Sewu. Bukannya dibikin tambah hijau dan rimbun, tapi justru menjadi gundul dan gersang. Ingat di tahun 1987 Gua Tetes musnah tertimbun longsoran tanah akibat, ditebangnya pohon bendo yang tumbuh di bibir tebing.

Hendaknya hal ini menjadi peringatan dan pelajaran mahal, betapa pentingnya menjaga kelestarian alam.dengan tidak menebang tanaman secara sembrono dan sembarangan. Bagaimana tanggung jawab pihak Dinas Pariwisata Kendal.

Kasus demi kasus yang melilit obyek wisata Curug Sewu makin menguatkan tuntutan publik agar taman air terjun Curug Sewu dijual pada investor alias diswastakan saja. Atau perlu perotasian kepala Dinas Pariwisata

S Joko Wiyono

Sudagaran RT 5/RW 1, Sukorejo

***

Terus Berkibar

atau Berkibar Terus?

Nasionalisme. Sebuah kata yang mungkin hanya diingat sebagian orang menjelang tanggal 17 Agustus yang akan membawa kenangan tersendiri. Sebuah kata yang mungkin berangsur-angsur menghilang dari benak generasi muda sekarang, yang sebagian besar lebih senang dengan gaya hidup konsumtif dan pragmatis.

"Ah, nasionalisme tidak hanya ditunjukkan dengan mengikuti upacara bendera," kilah sebagian besar generasi muda. Nasionalisme tidak bisa lepas dari simbol dan lambang negara, salah satunya bendera Merah Putih. Di sekolah, kantor, organisasi, partai, perusahaan, instansi dan lembaga kenegaraan inilah bendera Merah Putih harus dikibarkan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Yang menghenkan, masih ada yang mengibarkan bendera Merah Putih full 24 jam. Begitu juga ketika lokasi tersebut libur, bendera ini juga ikut libur. Hal itu sebenarnya tidak perlu terjadi mengingat pengibaran bendera mempunyai aturan tersendiri. Pertanyaannya, dari sekian puluh juta rakyat, berapakah yang tahu dari jam berapa sampai jam berapa bendera Merah Putih dikibarkan?

Juga berapakah yang tahu dari hari apa sampai hari apa bendera ini dikibarkan?. Pertanyaan itu sepele kelihatannya, tapi minimal dapat diketahui sejauh mana pengetahuan seorang rakyat terhadap lambang negaranya sendiri. Kadang kita sering bicara tentang pesan Presiden RI pertama, Ir Soekarno yaitu "Jasmerah" (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah), tapi kadang pula lalai penerapannya.

Petuah bijak mengatakan, bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa para pahlawannya. Dalam hal ini, salah satu jasa para pahlawan adalah kemerdekaan yang dilambangkan dengan berkibarnya bendera Merah Putih tadi. Pertanyaan terakhir, bendera Merah Putih itu teruslah berkibar atau berkibarlah terus? Anda dan kita semualah yang bisa menjawabnya.

MT Ardiansyah

Kompl Joglo Unnes Sekaran

***

Iklan Lowongan Kerja

Iklan lowongan kerja yang dimuat di harian ini banyak yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Misal dibutuhkan beberapa staf kantor seperti yang dialami anak saya, setelah wawancara dan diterima kerja ternyata ditempatkan sebagai sales sampai ke luar kota. Alasannya baru training seperti yang terjadi di perusahaan Bulustalan Semarang.

Lalu ada iklan lagi melalui PO Box yang tercantum dibutuhkan staf administrasi, setelah dilamar dan diterima training ternyata dia disuruh membayar ganti ongkos administrasi Rp 10.000. Itupun disuruh menjual barang terlebih dulu dan bila laku, baru diterima sebagai karyawan. Ternyata setelah laku, barang yang laku justru tidak ada barangnya. Ini perusahaan yang beralamat di Jl Raden Patah.

Lalu ada iklan lagi membutuhkan staf kantor lewat PO Box. Karena tertarik dan dilamar, tiba-tiba mendapat panggilan lewat SMS di Purwokerto. Karena keinginan kerja sangat tinggi walau pun di Purwokerto tetap didatangi. Setelah wawancara dan diterima ternyata disuruh menjual barang terlebih dulu seperti di Jl Raden Patah.

Akhirnya dengan kecewa pelamar pulang ke Semarang dan sampai di rumah ternyata sudah ada surat panggilan di Jogjakarta dengan PT yang sama. Untuk itu kepada pencari kerja agar lebih teliti. Misal ada lowongan kerja yang dibutuhkan staf kantor 20, gudang 10, lalu marketing 10 orang.

Agar tidak tertipu lebih baik disurvei dulu. Karena biaya untuk membuat lamaran kerja tidak sedikit. Juga kepada pemasang iklan lowongan kerja agar tidak mempermainkan pencari kerja.

Eddy Soetarnto.

Kuwasenrejo RT 6/RW 4 Gunungpati, Semarang

***

"Tidak Takut"

Saya menyambut baik ucapan pressiden yang menyatakan tidak takut memberantas korupsi/koruptor. Sayang ucapan itu tinggal ucapan. Padahal yang ditunggu masyarakat dan bangsa ini adalah, presiden harus berani memerintahkan jaksa dan hakim untuk menuntut hukuman seberat-beratnya kalau perlu hukuman mati bagi pelaku korupsi/koruptor.

Juga presiden harus berani memerintah jaksa/hakim untuk menyita hasil yang didapat dari tindak korupsi untuk dikuasai negara. Itulah harapan bangsa ini.

H Edy Waluyo

Pageralang RT 4/RW 3 Kemranjen, Banyumas

***

Jalan Bobotsari

Jalan ini panjangnya sekitar 700 meter, berbatasan langsung dengan wilayah kota dagang Bobotsari. Jalan ini memiliki akses ke Desa Lambur dan Sirayu (Kecamatan Mrebet) namun berada di wilayah Desa Karangduren (Kecamatan Bobotsari). Orang-orang dari Karangduren jarang melewati jalan ini mengingat posisinya di pinggir desa persis di bantaran Sungai Soso.

Justru yang paling sering melewati adalah warga Lambur dan Sirayu yang pergi-pulang berbelanja atau bekerja di Bobotsari yang hanya berjarak kurang dari 2 km. Kondisi jalannya sangat memprihatinkan. Kontras dengan sekelilingnya yang sudah beraspal. Masih merupakan jalan tanah beralas kerikil.

Demi mempercantik sekitar Kota Bobotsari mohon Pemkab memperbaiki jalan ini sehingga menjadi lebih nyaman untuk dilewati. Selain itu juga mempersingkat waktu tempuh perjalanan.

R Puji Prapto Ujiatmo

Lambur RT 1/RW 1 Mrebet, Purbalingga

***

Tunjangan Istri

Saya duda pensiunan PNS ditinggal mati istri (27-8-2002). Tanggal 17 September 2006 saya menikah lagi. Istri baru tersebut saya daftarkan ke PT Taspen (Persero) Kantor Cabang Purwokerto tanggal 15 November 2006 (fotokopi terlampir). Oleh petugas berkas pendaftaran tersebut diteruskan ke BKN Yogyakarta tanggal 4 Desember 2006 (fotokopi terlampir).

Bulan Januari dan Februari 2007 tunjangan istri belum ada hingga 12 Februari 2007 saya mengurus ke BKN Yogyakarta. Ternyata surat pengesahan istri sudah jadi tertanggal 21 Desember 2006. Namun belum terkirim, malah tembusan surat untuk PT Taspen Purwokerto dititipkan kepada saya untuk disampaikan (fotokopi surat terlampir).

Surat untuk PT Taspen Purwokerto saya sampaikan 13 Februari 2007. Petugas menginformasikan bahwa tunjangan istri tidak bisa dimasukkan gaji pensiun bulan Maret 2007, karena daftar pensiunnya sudah dibikin. Pada pensiun bulan April 2007 tunjangan istri sudah ada, tetapi tidak ada rapel.

Saya tanyakan ke PT Taspen, kata petugas memang tidak ada rapel untuk tunjangan istri. Yang menjadi pertanyaan, sebetulnya mulai kapan tunjangan istri diberikan. Andai saya tidak mengurus ke kantor BKN Yogyakarta, entah berapa bulan lagi tunjangan istri keluar. Demikianlah pengalaman saya, barangkali ada gunanya.

Sudarmadi

Jl Pasiraja 36, Purwokerto

***

Waspada Komunis

Kekerasan, kekejaman, pelecehan seksual, korupsi dan provokasi adalah hobi orang-orang komunis yang sudah memiliki doktrin menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Rupanya bangsa ini mulai terkena bahaya laten tersebut yang menyusup ke sendi kehidupan bangsa.

Fakta, sering terjadi tawur antarpelajar, antarwarga, antarpenonton, antaraparat. agama dan instansi sudah disusupi hingga mudah terjadi gejolak seperti kasus Ambon, Poso, IPDN. Juga korupsi tumbuh subur di mana-mana. RRC adalah negara komunis dan koruptornya merajalela. Tapi setelah diterapkan hukuman mati kasus korupsi bisa turun 90%.

Pada waktu lalu RRC bersama Indonesia menduduki papan atas negara terkorup di dunia. Sekarang mereka posisinya turun di papan tengah ke bawah, sedang Indonesia masih betah di papan atas. Pendapatan penduduk mereka meningkat perkapita 2.200 dolar, sedang kita masih naik turun 1.600 dolar/kapita.

Sungguh ironis negara komunis tersebut bisa memberantas korupsi. Padahal kita bukan negara komunis namun kok sulitnya bukan main memberantas korupsi. Yang perlu diwaspadai, hasil korupsi dari para koruptor kelas kakap tersebut untuk membiayai kelompok radikal yang dapat menggoyang pemerintah.

Karena itu demi tegaknya negara kesatuan Indonesia, mari dengan sungguh-sungguh mencegah budaya dan bahaya komunis. Waspadalah...

Ali Farkhan

Pabelan RT 1/RW 1 Pabelan, Kab Semarang

***

Menunggu Pelat Nomor

Saya beli motor Supra Fit di Tunas Jaya Cabang Muntilan JI Pemuda pada 6 Februari 2007. STNK jadi tanggal 15 Februari 2007. Pelat nomor dijanjikan jadi 18 Maret 2007, tapi sampai tanggal 23 April 2007 belum jadi. Saya sudah komplain lebih 3 kali belum ada realisasi.

Saya yang hanya punya satu motor untuk aktivitas sehari-hari, terpaksa menggunakan nopol palsu. Di mana tanggung jawab Tunas Jaya. Saya maklum kalau belinya secara kredit sehingga mungkin nopolnya juga dikredit. Tapi saya beli tunai. Mohon perhatian Tunas Jaya Cabang Muntilan.

Khoirul Faida

Tegalsari RT 2/RW 18 Dukun, Magelang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA