logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Mei 2007 WACANA
Line

Terminal yang Aman dan Nyaman

  • Oleh Hadziq Jauhary

BERITA di harian Suara Merdeka (28/4) lalu mengenai adanya pungutan tanda masuk atau biasa disebut peron di Terminal Terboyo yang tak sesuai dengan retribusi, sebenarnya sudah berlangsung sejak lama dan dikeluhkan beberapa pedagang yang ada di dalam terminal tersebut karena mengakibatkan banyak calon penumpang enggan masuk ke dalam terminal.

Penulis yang pada suatu acara mengamati langsung di lapangan dan berinteraksi dengan para pedagang di dalam terminal, menangkap beberapa hal ganjil yang selama ini dilakukan oleh para oknum dari Dinas Perhubungan (Dishub) sebagai pelaksana tugas di Terminal Terboyo.

Mulai dari penarikan peron bagi calon penumpang yang tak sesuai dengan Perda No 7/1998 dari Rp 150 menjadi Rp 500 serta adanya kerjasama para calo dengan oknum petugas terminal untuk memalak calon penumpang terutama bagi mereka yang habis turun dari kapal dan berasal dari luar daerah. Hal itu berlangsung secara rutin dan dilakukan pada malam hari.

Kondisi tersebut jika dilakukan berlarut-larut, bukan tidak mungkin terminal yang dipakai sejak 10 Juni 1985 itu semakin dijauhi calon penumpang. Adanya genangan rob, kerusakan jalan, dan bangunan pendukung juga makin mengurangi kenyamanan pengguna terminal tersebut.

Jaminan keamanan dan kenyamanan menjadi faktor terpenting pelayanan terhadap calon penumpang di Terminal Terboyo. Jika kedua hal tersebut tidak terwujud bukan tidak mungkin masuk ke Terminal Terboyo menjadi pilihan yang kurang mengenakkan bagi calon penumpang, yang pada akhirnya bus pun enggan masuk ke dalam terminal.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang menunjukkan bahwa jumlah bus yang masuk ke Terminal Terboyo kini jauh berkurang dibandingkan tahun 1997 silam. Pada 2005, jumlah bus antarkota dalam provinsi (AKDP) yang masuk tinggal 285.182 yang artinya 46 persen lebih sedikit dibandingkan jumlah pada 1997, sedangkan volume bus antarkota antarprovinsi (AKAP) tersisa 16 persen yaitu 32.157 kendaraan.

Hal ini menjadi cukup ironis, padahal Terminal Terboyo merupakan salah satu terminal yang strategis karena letaknya di ibukota Provinsi Jawa Tengah sehingga dapat dikatakan seharusnya terminal tersebut menjadi yang terpadat di provinsi ini. Untuk itu, perlu dipikirkan bersama bagaimana cara untuk meningkatkan kualitas pelayanan bagi masyarakat.

Positif

Berita mengenai adanya pungutan liar (pungli) di Terminal Terboyo beberapa waktu lalu langsung ditindaklanjuti oleh Dinas Perhubungan (Dishub) dengan menempatkan petugas peron wanita serta mengeluarkan karcis peron terbaru (SM, 30/4). Tindakan responsif dan cepat tanggap terhadap keluhan masyarakat tersebut merupakan salah satu hal positif demi menuju arah perbaikan dan kemajuan.

Namun hendaknya tidak terpaku sebatas pada laporan publik belaka. Mereka sudah sepatutnya selalu melayani masyarakat dengan pelayanan yang maksimal. Petugas di lapangan sebenarnya merupakan elemen paling penting dalam berinteraksi langsung terhadap konsumen (calon penumpang). Di pundak merekalah sebenarnya beban berat terpikul.

Karenanya mereka harus dibekali kemampuan yang mumpuni dalam berkomunikasi dengan publik. Faktor moral pun juga harus diperhatikan. Adanya beberapa petugas yang melakukan pungli dan berbagai korupsi lainnya membuktikan kalau moral mereka masih kurang dan perlu diberikan pembinaan secara intensif.

Selain itu untuk meminimalisasi berbagai bentuk korupsi yang dilakukan petugas lapangan, hendaknya atasan senantiasa rnemperhatikan kesejahteraan para bawahannya tersebut. Dengan adanya kesejahteraan yang layak, para petugas di lapangan menjadi tidak tertarik untuk meminta pungutan-pungutan yang tidak semestinya.

Para atasan sepatutnya juga melakukan pengawasan serta sidak secara rutin terhadap kinerja bawahannya dan menindak tegas jika ditemukan berbagai bentuk penyimpangan. Tak hanya itu, para atasan harus memberikan teladan yang baik kepada para bawahannya, seperti tidak melakukan sendiri perbuatan korupsi.

Kondisi fisik Terminal Terboyo yang makin memprihatinkan juga memerlukan pembenahan yang cukup signifikan. Jalan banyak yang berlubang, sering digenangi rob, serta beberapa bangunan yang rusak sering dikeluhkan calon penumpang dan kru bus sendiri. Untuk itu perlu dilakukan perbaikan infrastruktur secara bertahap.

Perbaikan tersebut membutuhkan dana yang cukup besar, tetapi hal itu berbanding lurus jika dilihat dari segi kemanfaatannya. Apabila perbaikan infrastruktur dilakukan, bukan tidak mungkin para calon penumpang akan berbondong-bondong menunggu bus tujuan masing-masing di Terminal Terboyo bukannya di luar terminal seperti yang banyak dilakukan saat ini.

Selain itu, apabila perbaikan infrastruktur itu sudah dilakukan hendaknya juga diikuti dengan melakukan perawatan bangunan, seperti menjaga kebersihan sekitar terminal, tidak merusak fasilitas di dalam terminal, dan lain-lain. Hal ini merupakan tanggung jawab dan menjadi kesadaran bersama para pemakai terminal bukan hanya sebatas petugas kebersihan. Mulai dari para petugas terminal, pedagang, kru bus, hingga calon penumpang. Perawatan bangunan terminal merupakan hal yang sangat penting dalam mewujudkan kenyamanan bersama para pengguna terminal.

Jika unsur kenyamanan sudah terwujud tak lengkap apabila tidak ada jaminan dari segi keamanan. Hendaknya para petugas terminal menindak tegas para calo yang senantiasa membuat penumpang ketakutan karena selalu melakukan pemaksaan bahkan pemalakan serta pencuri yang masih banyak berkeliaran di dalam terminal. Mereka tidak boleh diberi tempat lagi untuk melakukan aksinya.

Kerjasama

Dalam hal ini, Dinas Perhubungan perlu bekerjasama dengan pihak kepolisian. Kerjasama ini sangat dibutuhkan dan salah satu wujudnya yaitu dengan mendirikan posko keamanan di beberapa sudut terminal terutama di tempat-tempat yang selama ini rawan pencurian.

Selain itu, beberapa petugas keamanan secara rutin menyebar ke seluruh ruangan terminal untuk melakukan pengecekan terhadap kondisi keamanan saat itu. Jangan sampai pihak keamanan kecolongan oleh ulah para pencuri yang dapat merugikan calon penumpang.

Dalam menjalankan tugasnya, petugas keamanan mesti bersikap tegas dan tanpa kompromi terhadap segala aksi yang mengarah kepada tindak kriminal. Semua pihak mempunyai hak memperoleh perlindungan keamanan bagi dirinya tetapi juga memiliki kewajiban dalam menjaga keamanan bersama.

Belakangan ini Kota Semarang sibuk mempercantik diri dalam rangka menyongsong program Semarang Pesona Asia (SPA) bulan Agustus mendatang. Tidak ada salahnya jika Terminal Terboyo masuk dalam daftar infrastruktur yang akan dibenahi.

Paling tidak, anggaran sebesar Rp 21 miliar untuk SPA disisihkan untuk pembenahan terminal tersebut, yang mencakup pembenahan pada beberapa jalan yang rusak, bangunan-bangunan yang sudah tidak layak pakai seperti plafon yang berlubang dan hampir roboh.

Jangan sampai turis-turis dari berbagai negara di Asia yang didatangkan ke Indonesia geleng-geleng kepala ketika menyaksikan "keindahan" Terminal Terboyo dengan dihiasi sampah-sampah di sekelilingnya terutama got-gotnya. Jangan sampai! (11)

--- Hadziq Jauhary, mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Undip

Untuk meminimalisasi berbagai bentuk korupsi yang dilakukan petugas lapangan, hendaknya atasan senantiasa memperhatikan kesejahteraan para bawahannya. Dengan adanya kesejahteraan yang layak, mereka tidak tertarik untuk meminta pungutan yang tidak semestinya.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA