| Senin, 14 Mei 2007 | BANYUMAS |
pojok kotaSate Kuah Bumbu Pecel ala Majenang
SATE ayam bumbu kacang sudah biasa dan ada di mana-mana. Namun sate ayam kuah bumbu pecel unik dan lebih mengundang selera. ''Bumbu pecel dari kacang goreng itu dicampur kuah gulai ayam. Rasa dan aroma bumbu kuahnya sangat disukai pembeli,'' tutur Eddy (45), penjualnya asal Desa Jenang, Kecamatan Majenang. Sejak tahun 1988 ia berjualan sate ayam berkuah dengan menyusuri gang-gang kecil di Kota Majenang. Enam tahun berkeliling sebagai promosi ke kota eks kawedanan di wilayah Kabupaten Cilacap barat itu. Mulai 1994 ia mencari tempat di emper toko yang berlokasi di sebelah barat bekas gedung bioskop Cahaya Majenang. ''Saya memasang spanduk sate gule ayam Lumayan agar dikenal mereka yang lewat jalan utama di Majenang,'' ujarnya. Pembeli suka pada bumbu pecel manis yang dicampur kuah gulai ayam. Mereka menyarankan agar sate dibuat dari ayam kampung, bukan ayam ras. Lontong Bumbu kuah dibuat secara dadakan agar aromanya lebih menggigit. Pembeli makan sate dengan lontong, mirip sate Madura. ''Ternyata pembeli tidak protes pada asap yang mengepul ketika sate dibakar,'' ujarnya. Usaha itu ditekuni sejak Kota Majenang masih sepi. Walau hanya buka sore hari, setiap hari rata-rata menghabiskan 10 ekor ayam kampung. Harga sate dibuat murah karena pembelinya sebagian besar menengah ke bawah. Banyak pula yang memesan khusus untuk hidangan pesta. Ditanya soal suka dukanya berjualan sate, Eddy mengatakan lebih banyak sukanya. Antara lain kenalannya bertambah. (27) |